"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Minggu, 02 November 2014

Dol Tinuku:

MENURUT pandangan dan kepercayaan orang Jawa, perjalanan hidup manusia itu beraneka warna. Jadi, ke mana dan bagaimana mereka melangkah mburu cukuping urip harus senantiasa menyadari apa yang dimiliki dan tanggap terhadap sikon yang terjadi di kanan-kiri. Adapun apa yang dimiliki itu pun sangat tergantung bakat dan berkah yang diberikan oleh Gusti kang paring gesang. Ibaratnya, semua telah ginaris. Kopat-kapita kaya ula tapak angin, kekejera kaya manuk branjangan, kalau belum titi wanci berhasil, ‘’mesthi ora bakal nyisil’’. Tetapi, kalau memang sedang gampang, yang namanya rezeki seperti datang sendiri. Yang jauh mendekat, yang  tergeletak jadi terangkat.

Misalnya, ada orang yang ‘’bertangan dingin’’. Menanam apa pun tumbuh dan membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Namun, ada juga yang ‘’bertangan panas’’. Setiap yang ditanam jarang berhasil. Membuat benih saja banyak yang mati. Tanaman sudah hidup, habis dimangsa hama penyakit. Tanaman orang tidak dimakan tikus, padi miliknya diosak-asik sampai ludes. Padahal, dirinya sudah belajar. Banyak ilmu lahir batin dijadikan bekal pedoman. Toh, nasibnya tetap saja buram. Adapun pilihan hidupnya memang bertani. Lalu bagaimana kalau selamanya apes terus?

Sungguh, saya berkali-kali nyipati kejadian seperti ini. Namun, karena sudah berikrar mati hidup bertani, mereka pantang menyerah. Setiap musim terus menanam, terus menyebar benih di pinihan (pawinihan). Jatuh bangun pun dilakoni dengan tabah. Semboyannya: ‘’Urip mung saderma nglakoni.’’ Ada juga yang menyatakan: ‘’Manungsa mung saderma nglakoni, kadya wayang umpamane.’’ Ungkapan ini merupakan pengakuan orang Jawa mengenai adanya zat yang lebih tinggi yang mengatur kehidupan manusia. Di samping itu sering pula digunakan sebagai media penyadaran ketika mengalami keruwetan hidup yang cukup berat. Dengan dimilikinya kesadaran tersebut, paling tidak akan meringankan beban penderitaan yang disandang, sehingga dengan legawa menyatakan: ‘’Durung rampung ujiane,’’ atau: ‘’Durung diparengake seneng’’, atau ‘’Lagi dicoba dening Gusti Kang Akarya Jagad.’’

Sikap hidup seperti di atas dapat berbeda-beda ungkapannya sesuai lingkungan profesi masing-masing. Di kalangan pedagang, mungkin saja muncul kata-kata: ‘’Urip mung saderma dol tinuku.’’ Baik yang menjual maupun yang membeli sekadar menjalankan tuntutan profesinya. Padahal, dalam kancah perdagangan di tingkat wong cilik, mereka yang menjual umumnya karena butuh uang untuk keperluan hidupnya. Ada juga karena kepepet. Entah karena butuh biaya untuk ongkos sekolah anak, bayar utang, bayar rumah sakit, modal bertani, dan lain-lain. Karena kadang erat hubungannya dengan ‘’hidup-mati’’ seseorang, maka jual beli di Jawa jadi sarat pesan untuk diamalkan. Dengan kata lain, dalam proses dol-tinuku (baik sebelum hingga sesudahnya) ada etika dan tatakrama yang perlu dipegang teguh yang bersangkutan.

Sesungguhnya, di balik ungkapan ‘’urip mung saderma dol-tinuku, terkandung makna yang lebih dalam. Semua orang ingin mendapatkan ‘’laba’’ (bathi) untuk mengongkosi kehidupannya. Yang menjual ingin jualannya dibeli mahal, yang membeli ingin memperoleh laba dari apa yang dibelinya. Samasekali tidak mengharapkan rugi. Misalnya rugi pun harus ada keuntungan pada sisi yang lain. Seperti unen-unen: tuna satak bathi sanak, rugi sedikit namun dapat saudara (pelanggan).

Tetapi sering pula terjadi dalam proses dol-tinuku ini seorang pedagang ngalami keblondrok. Barang yang dianggap baik dan menguntungkan, ternyata kualitasnya tak sepadan dengan yang dibayangkan. Bagi orang Jawa, biasanya mereka langsung ndhadha, menyadari kekeliruan tadi semata-mata karena keteledoran dirinya. Bukan malah melemparkan kesalahan pada orang lain, termasuk penjualnya. ‘’Bathi rugi iku gawane bakul. Bathi ngguyu, rugi ora kena mecucu.’’ Demikian kiat para pedagang di Jawa yang masih ngegegi Jawane.

Yang menarik, jika rugi sebaiknya jangan sambat, tetapi kalau dapat laba supaya ingat pada sesama. Dalam konteks patembayatan, keuntungan itu bukan dihasilkan oleh keringat sendiri. Tetapi, juga ada orang lain yang menjadi ‘’lantaran’’ atau jembatannya. Di samping itu, keuntungan diartikan pula sebagai berkah atau kebahagiaan. Sewajarnyalah ketika dapat kebahagiaan orang bersyukur kepada Gusti Yang Maha Murah dengan doa syukur atau ritualisasi yang lain.

Lalu kepada mereka yang secara langsung membantu mewujudkan keuntungan itu, apakah diabaikan begitu saja? Tentunya tidak. Karena itulah, saat memperoleh keuntungan sebaiknya yang bersangkutan mau berbagi dengan orang lain. ‘’Ora ketang sithik rong ithik rejeki kudu lumeber, nelesi suket godhong sing lagi ngorong ing mangsa ketiga.’’ Begitu nasihat para leluhur di Jawa tempo dulu. Persoalannya, sedekah kepada orang lain itu tidak bakal hilang. Dana driyah seperti itu hanya merupakan pemindahan tempat harta benda yang kita miliki. Jadi, dol-tinuku di Jawa bukannya perdagangan ala Barat yang sangat kapitalistik. Dol-tinuku di Jawa adalah salah satu manifestasi tolong-menolong dalam menjaga patembayatan hidup yang serasi sepanjang masa.. ... He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr... 

Semoga Bermanfa’at. Amiin
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan
Posting Komentar