"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Minggu, 02 November 2014

Kawruh dan Pengeyuban”

”MARMANING wong agung padha angluruh sarira, dipun nata ing uripira sejati, uripira neng dunya”. Suluk Wujil mengungkap kemanusiaaan dan simbolisme sebagai bagian integral dari budaya Jawa, yang terekspresikan dari kebiasaan orang-orang yang besar mencari pribadinya untuk dapat mengetahui dengan tepat hidup mereka yang sebenarnya di dunia ini.

Apa yang ditekankan? Tak lain adalah kawruh, yakni agar orang mengetahui tentang hidup yang sebenarnya, yang tercermin dalam kesadaran manusia terhadap keberadaan tubuh mereka. Secara konsepsional, budaya Jawa mengingatkan akan  pengetahuan tentang kehidupan, bahkan ”dunia”, ada dalam eksistensi tubuh manusia. Hal itu dimungkinkan, mengingat dalam tradisi Adam yang diciptakan oleh Allah dengan menggunakan empat anasir semesta purba (tanah, api, angin, air), yang merupakan bahan (karena ada sifat-sifat ke-rabbi-an) maka mampu melahirkan kehidupan manusia yang sedemikan kuat (kahar), mulia (jalal), indah (jamal) dan sempurna (kamil).

Dalam menekankan pentingnya kawruh, kadang pujangga memberikan suatu treatment. Orang Jawa ditantang untuk terlibat memikirkan hubungan anasir penciptaan dengan jasmani. Sifat-sifat masuk dan keluar melalui pernapasan memengaruhi keremajaan dan kedewasaan, kekuatan dan kelemahan, ada dan tiada, mati dan hidup. Itulah latar mengapa tubuh dianggap bagaikan sebuah ”sangkar”. Ketika kita ingin mengenali ”burung”-nya, maka harus berani membersihkan diri, merenungkan kehidupan dengan arah yang tajam dan menep. Kepentingan manusia (yang tak terkendali) potensial untuk menghancurkan ekosistem kehidupan, dan hal satu-satunya yang tak berubah hanyalah pengetahuan yang sempurna, yang meluas kepada pengenalan adanya Tuhan. Titik tolak ini yang mendorong pendidikan humaniora Jawa menekankan akan pentingnya manusia agar mengenali diri sendiri, dan dengan mengenal diri sendiri berarti ia telah mengenal Tuhannya. Dalam kenyataan sehari-hari, orang yang telah mengenal Tuhannya diindikasikan dari sikap dan tindakannya. Konon, mereka takkan gegabah dalam menyampaikan sikap dan pendapatnya, kecuali jika memang sudah jelas akan maksud, kelengkapan argumen dan perspektif maknanya terhadap kehidupan masyarakat.

Prinsip yang mereka pegangi, ”diam tak-boleh kosong, bicara tak-boleh kopong”. Kearifan dalam hidup bukan lagi sekedar dinyatakan dalam lambang-lambang dan seremonial, melainkan lebih dalam kemauan dan perbuatan-perbuatan yang nyata.

Inilah yang dinyatakan sebagai ”laku” yang benar, dan ditegaskan, bahwa orang tidak boleh memilih tempat yang keliru. Di sini, budi luhur dianggap sebagai perantara untuk mencapai kesempurnaan hidup, yang diperoleh melalui pengendalian hawa nafsu. Orang yang dapat mengendalikan hawa nafsu, mereka dianggap akan memiliki hati yang lebih awas dan perasaan yang lebih tajam, serta memiliki kemampuan untuk mengetahui hidup dari jiwa-raga diri sendiri (kang bisa anguningani marang uriping jiwa-ragane dhewe). Dalam humaniora Jawa, puasa merupakan inti dari tindakan dalam pengendalian hawa nafsu, yang metodanya biasa disebut tirakat atau bertapa. Secara umum di dalamnya mengandung nilai-nilai esoterik sebagai suatu wahana hubungan manusia dengan Tuhan, yang amat penting untuk menjadi kerangka spiritual sebagai pengeyuban seseorang dalam kerangka tujuan kesejahteraan hidupnya. Seperti dijanjikan Tuhan: ”Lamon sira mara ing Ingsun kalawan puasanira, Sun aubi sira ing dina kiyamat. Puasanira iku minaka tetebenging api naraka”.

Interdependensi antara pengendalian diri dengan kawruh dan pengaruhnya terhadap hubungan sesama manusia dalam bebrayan ageng, merupakan bagian dari adab ilahi (al-adab al-ilahi). Ia sebagai suatu ibadah ”laku” merupakan bagian dari ajaran yang ditetapkan untuk diamalkan para hamba-Nya.

Mengendalikan nafsu dalam konteks kesopanan ilahiah, luberannya akan tercermin melalui sikap andhap asor dan budi pekerti yang mulia, sebagai tanda bahwa seseorang itu telah mengalami proses esoterik yang melahirkan rasa hati yang dipertajam, dengan aura spiritual sebagai pantulan dari keberhasilan upaya-upaya meningkatkan kemampuan dirinya.

Suatu langkah yang benar dalam kaitan kawruh kang linuhung, bahwa metoda pengendalian diri merupakan sesuatu yang fungsinya bagai ragi dalam pendapat (reragi panemu), sedangkan kawruh bagaikan ikan atau substansi ilmunya (ngelmu kang minangka ulam). Jika keduanya diperbandingkan dalam posisinya masing-masing, memang harus ada keseimbangan antara substansi (isi), metoda pengendalian (cara) dan instansinya (wadah). Dikatakan, bahwa: ”Tapa tanpa ngelmu iya nora dadi, yen ngelmu tanpa tapa jeplang-jeplang nora wurung dadi, asil nora wedhar hing trapnya” (Bertapa tanpa dengan ilmu tidak akan mampu menghasilkan sesuatu produk yang koheren, sedang ilmu tanpa bertapa menghabiskan waktu saja, yang pada akhirnya bisa saja  menghasilkan produk tetapi tidak dapat diterapkan dalam pelaksanaan yang nyata). ... He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr... 

Semoga Bermanfa’at. Amiin
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan
Posting Komentar