"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Minggu, 02 November 2014

Legenda Mimpi:

BEGAWAN Bagaspati ngungun mendengar permintaan putrinya, Dewi Pujawati, untuk mencarikan seorang pemuda yang gagah bagus yang muncul di impiannya untuk diabdi sebagai suami. Percuma sang Begawan menasihati putrinya bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur. "Ingat kan di Indonesia tu pernah amat populer lagu "Waktu semalam bunga/ aku bermimpi/ ketemu ular bung/ besar sekali/ Ular menggigit bung/ Jari kakiku/ Setelah menggigit bung/ ular berlalu Kupijit-pijit bung/ darah keluar/ aku menjerit aduh/ hingga tersadar!". Toh Pujawati tetap mendesak, meyakinkan ayahnya bahwa Hyang Widi telah memberi wisik bahwa pemuda itulah bakal jodohnya! Begawan Bagaspati -yang berupa raksasa tapi arif bijaksana- "ngerti sadurunge winarah", tahu bahwa pemuda itulah bakal penyebab matinya, tetap bersikukuh bahwa "mimpi adalah mimpi adalah mimpi". Namun Dewi Pujawati mengancam mau mencari sendiri pemuda pujaannya itu (waktu itu belum ada "Woman Liberation", tetapi juga belum ada "gender mainstreaming" Dewi Pujawati tidak perlu malu kasmaran seperti itu).

E. Benar. Narasoma ketemu, tapi menolak dipek mantu. Waktu akhirnya dengan rudapaksa dibawa ke hadapan Dewi Pujawati yang cantik jelita itu. Narasoma jatuh cinta, tapi tetap minta syarat Bagawan Bagaswati yang berupa raksasa dan memalukan itu mesti mati (Dasar patriarkat!). Bagaspati rela demi kebahagian putrinya itu. Itulah sebabnya ia diberi nama Dewi Setyawati; sementara si pemuda tidak tahu malu itu kemudian dikenal sebagai Prabu Salya.

Mimpi memang sudah punya legenda yang panjang sekali. Dulu, pada masa awal peradaban manusia di Yunani sana, sudah hidup legenda bahwa manusia mimpi karena sewaktu tidur, nyawanya jalan-jalan ke dunia mimpi. Di sanalah mereka ketemu macan lalu dikejar-kejar macan sampai kamisesegen (atau digigit ular besar sekali). Bahkan di negeri China ada legenda mimpi dari Chang Ten yang terbangun ngungun sehabis mimpi jadi kupu-kupu: "Adakah aku kupu-kupu yang mimpi jadi manusia?!". Sementara dalam berbagai cerita pendek orang cukup menjiwit lengan untuk meyakinkan diri bahwa dia tidak mimpi (Padahal sangat mungkin kan dia mimpi menjiwit diri sendiri. Agaknya dalam mimpi asas pluralisme sudah berlaku. Mimpi dan mimpi itu berbeda-beda. Ada mimpi yang "ngemot wadi", isyarat, sisik ; tetapi ada pula mimpi profan, yang tidak punya makna apa pun. Pakai bahasa Ki Ageng Soerjoemantaram "Takhyul, karena takhyul itu menghubung-hubungkan yang tidak ada hubungannya. Artinya, ada mimpi yang sakral, penuh makna, yakni impian yang di-dhawuh-kan oleh Allah, seperti yang diterima Nabi Yusuf ketika bermimpi ketemu tujuh akar sapi gemuk lagi nyenggot rumputan, lantas didatangi tujuh ekor sapi kurus kering, lha nek sapi-sapi gendut itu dimakan to sama sapi-sapi kurus itu. "Artinya, Kerajaan Mesir Firaun bakal mengalami masa kelaparan 7 tahun ...." Inilah kisah nabi yang tidak hanya dianggap sebagai juru tafsir mimpi yang agung, tetapi juga nabi eksekutif yang mampu melaksanakan program penanggulangan (akibat) mimpi itu.

Robert Frager dari Institute of of Transpersonal Psychology, California menulis bahwa mimpi yang diterima oleh Nabi Yusuf itu langsung dari Tuhan; sementara mimpi yang lain bisa saja dari malaikat, tapi bisa juga dari setan. Dibutuhkan seorang Syekh yang tinarbuka untuk membantu menafsirkan mimpi.

Ini tentu beda dari tafsir mimpi ilmiah ala psikoanalisis Sigmund Freud yang mengemukakan teori mimpi sebagai munculnya kembali hal-hal yang telah direaresi kebawah sadar oleh manusia, yang telah menimbulkan kecemasan.

(Siapa hayo satria piningit yang "mampu" mimpi tentang masa depan Indonesia (agar) supaya bebas "saling curiga", bahwa kesejahteraan, kemiskinan, pengangguran serta berbagai peristiwa yang membuat wong cilik tidak percaya pada wong agungnya vica versa?!).

Di Jawa memang kondang sih adanya paranormal yang bisa menafsirkan mimpi-mimpi -tapi bahkan dalam wayangan, sebenarnya hanya sedikit lakon yang mbabar impian- di antaranya yang terkenal ya impian Dewi Pujawati tadi. Sekali pun begitu beberapa kitab "Tafsir Mimpi" sangat terkait; bahkan kitab "Betaljemur Adamakna" juga (sedikit) mengungkap rahasia mimpi ini. Agaknya tidak semua mimpi itu merupakan tanda akan apa yang terjadi pada masa depan, hanya mimpi yang terjadi pada jam-jam tertentu yang punya makna (apalagi tafsir yang cespleng) utamanya mimpi yang terjadi pada seputar pukul 02.00; sekali pun begitu banyak sekali lakon ketoprak yang mengandung adegan impian itu, malah yang betul-betul secara empiris sosial histori saja ditampilkan sebagai mimpi kok. Cuma ya itu, jangan cepat percaya pada cerita impian itu karena memang banyak impian yang berakhir pada mimpi juga. Bahkan Ciprut, 5 tahun, pernah bertanya, "Apa kita bisa ya jalan-jalan di dunia mimpi?!" Kok nyimut! Bagaimana kalau tersesat di dunia mimpi, itu soalnya!

Karena itu baik kalau kita dengarkan pendapat Ekonom Prof Dr Hendrawan Supratikno, mimpi individual itu utopia, tapi mimpi bersama-sama itu akan membawa kenyataan (dream come true). Inilah kekosongan jiwa kita: Kosong dari mimpi "Indonesia Bersatu" bersama-sama!" (Barangkali itu sebabnya kenapa peristiwa kesurupan massal terjadi berkali-kali di negeri kita hari-hari ini).

Dalam hal takdir, memang sudah maktub, kita hanya perlu "iqra" cuma yang perlu dipahami, bukan orang biasa-biasa saja yang bisa membaca isyarat mimpi ini.

Diperlukan orang yang suka "lelunga teki-teki/ cegah dhahar lawan nendra"- jadi kok kira-kira ya bukan menteri atau anggota DPR yang kesabet KK itu; namun jelas orang yang bisa dipercaya, bahkan jadi piyandeling liyan "Ing sasmita amrih lantip". Kalau wong cilik pada mengeluh, mengerang bersama, biar pun mal penuh dan jalanan padat mobil, orang yang "pracaya, prasetya, pasti pramana, prayitna, duwe prabawa dan pranata " agar rakyatnya tidak pada pralaya. Gicu!

Sayang bila Jawa kehilangan mimpi-mimpi yang visioner sakral itu -bahkan legenda kemiskinan di baliknya justru (jadi) kasunyatan. Karena itu, Jangan berhenti di pikir: Renungkanlah!Jangan berhenti di angan-angan; Rencanakanlah! Jangan berhenti di mimpi: Kerjakanlah! Rambate rata hayo. Holobis kuntul baris! . ... He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr... 

Semoga Bermanfa’at. Amiin
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan
Posting Komentar