"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Selasa, 04 November 2014

Mengenal Diri:

Langkah Awal Dalam Pengembangan Diri:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Tanah Pasundan

Apakah Anda mengenal diri Anda? Siapa ayah dan ibu kandung Anda? Tahun berapa Anda lahir? Di mana Anda lahir? Jawaban terhadap pertanyaan di atas relatif mudah.

Bagaimana kalau Anda berfilsafat sedikit? Misalnya Anda bertanya, ‘Siapa diri Anda? Apa yang seharusnya Anda tahu? Apa yang seharusnya Anda kerjakan? Apa pengharapan Anda?’ Keempat pertanyaan Immanuel Kant ini mungkin tidak akan pernah selesai Anda jawab sampai akhir hidup Anda’

Kita memang kurang bahkan mungkin tidak mengenal siapa diri kita. Kalaupun ada, pengenalan diri kita hanya sekilas. Kita jarang mengambil waktu dengan serius menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Kita terjebak dengan rutinitas pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, yang menyisihkan kita dari waktu untuk merenung tentang siapa diri kita.

Sangat penting mengenal diri. Pengembangan diri berawal di sini;
Kita menanyakan identitas kita, apa potensi-potensi yang tersimpan dalam diri kita, dari mana kita muncul, apa yang seharusnya kita tahu dan apa yang harus kita kerjakan dan jauh lebih penting adalah apa pengharapan Anda dan saya bila suatu saat kita meninggalkan dunia ini.

Pertanyaan Djaka Tolos aKan dijawab oleh Wong Edan Bagu. Menarik. Ia mengatakan bahwa hanya dua hal yang saya ingin tahu: Tuhan, Aku dan Hidup saya.

Memang hanya Tuhan dan jiwa kita yang paling penting perlu kita ketahui. Sebab bila pengenalan terhadap dua pribadi ini mantap, pengenalan atau pemahaman akan hal-hal lainnya akan menjadi lebih mudah. Paling tidak, mudah memahami apa relasi antara dunia dan diri kita dan dunia dan Allah.

Bukan tugas yang mudah untuk mengenal lingkungan kita, diri kita, terutama Allah. Berbahagialah Anda bila Anda mengenal ketiga-tiganya.
Pada kesempatan kali ini saya akan sajikan siapa manusia, siapa diri Anda dan saya.

Tubuh dan Jiwa- Inilah Unsur-Unsur Kemanusiaan Kita;
Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa atau raga/wujud dan Hidup, Tubuh/raga adalah unsur yang kelihatan dan bersifat materi. Mulai dari kepala, mata, telinga, mulut, lidah, tangan, hidung, dan apa saja yang dapat dilihat dari luar atau apa yang dapat dilihat dengan bantuan alat teknologi seperti otak, jantung, hati, ginjal, paru-paru dan organ-organ tubuh lainnya- tubuh dapat dilihat.

Berbeda dengan tubuh yang tidak kelihatan dan bersifat materi, jiwa/Hidup tidak dapat dilihat. Ia eksis sekalipun tidak kelihatan. Tidak ada alat secanggih apapun yang bisa melihat jiwa/Hidup. Tidak ada yang bisa meneropong jiwa/Hidup dengan bantuan alat apapun seperti CT (Computerized Axial Tomografi) Scan.

Jiwa/Hidup hanya dapat ‘dikenal’ lewat aktifitas tubuh- lewat perkataan, tulisan dan tindakan.’ Ada pepatah, ‘Pohon baik atau tidak dapat dikenal dari buahnya.’ Dari tindakan seseorang dapat ‘dikenal’ jiwa seseorang.

Tanpa jiwa, manusia tidak dapat bergerak. Tanpa jiwa manusia menjadi mayat. Tidak ada aktifitas sekecil apapun yang dapat dilakukan oleh manusia kalau jiwanya tidak ada. Jiwalah yang menggerakkan mayoritas organ-organ tubuh kita. Ia memberikan tindakan apa yang harus dilakukan.

Tubuh dan jiwa saling mempengaruhi. Bagaimana jiwa mempengaruhi tubuh dan sebaliknya- ini memang sangat menarik. Sampai pada batas tertentu, kondisi tubuh dapat mempengaruhi jiwa juga.

Bila tubuh mengalami luka misalnya, kita bisa mengerang dan merasa kesakitan dan perasaan ini merupakan aktifitas dari jiwa. Bila ada alat-alat tubuh yang tidak berfungsi- jiwa bisa terganggu.

Namun, tidak selamanya kelemahan-kelemahan atau kesakitan dalam tubuh bisa mendikte jiwa. Jiwa bisa melampui kelemahan-kelemahan phisik.

Ini bisa dilihat dari orang-orang yang cacat yang berprestasi luar biasa. Penyanyi Steve Wonder yang buta bisa menggubah lagu dan menyanyikan lagu-lagu yang baik.

Hidup/Jiwa bisa eksis tanpa tubuh. Jiwa bisa berbicara, mengeluh, mengerang, bersukacita tanpa bersatu dengan tubuh. Jiwa dapat berkomunikasi dengan Pribadi Supranatural, khususnya dengan Pencipta jiwa itu sendiri.

Komunikasi ini tidak dapat diakses oleh manusia-manusia yang hidup di dunia ini. Mau doa sepanjang apapun- itu tidak dapat menjangkau jiwa-jiwa yang sudah terpisah dari tubuhnya.

Tidak ada artinya mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Arwah-arwah pahlawan tidak ada artinya didoakan. Sejarah orang yang jiwanya terpisah dengan tubuhnya sudah selesai pada saat kematiannya.

Misteri memang relasi antara jiwa dan tubuh. Jiwa tidak terpisah selamanya dengan tubuh. Bagi kalangan yang menerima kebangkitan pada akhir zaman, jiwa akan kembali disatukan dengan tubuh. Manusia yang telah mati akan dibangkitkan kembali.

Masih ada salah satu hal yang sangat unik melihat relasi dari tubuh dan jiwa, yaitu bagaimana melalui informasi yang diterima oleh mata dan telinga dapat membentuk pola pikir seseorang.

Mind set dibentuk melalui pengalaman, penglihatan atau pengalaman manusia itu sendiri. Ketika ia mendengar atau melihat sesuatu atau merasakan sesuatu- ini semua diolah dalam pikiran. Terjadi pembentukan pola pikir. Dan selama kita hidup, proses ini terus berlangsung; proses pembentikan pola pikir itu tidak terhenti sampai jiwa dan tubuh terpisah.

Pada pola pikir inilah- kualitas jiwa seseorang dapat dinilai. Bisa diterima bahwa ‘man is what he thinks.’ Bagaimana kita hidup ditentukan oleh pola pikir yang terbentuk dalam pikiran kita.

Mengherankan bagaimana hal ini bisa terjadi dalam diri manusia. Pengalaman sehari-hari ikut ambil bagian bahkan memberikan sumbangsih terbesar dalam membentuk pola pikir kita.

Jikalau demikian, manakah yang lebih penting dari kedua unsur tersebut? Jiwa kita. Ini tidak berarti bahwa tubuh dapat diabaikan. Dua-duanya- tubuh dan jiwa- butuh pemeliharaan. Menjaga tubuh penting, tapi jauh lebih penting adalah menjaga jiwa. Kesehatan pikiran dan tubuh harus berada dalam keadaan seimbang.

Penekanan terhadap salah satu aspek akan membuat ketimpangan. Melulu hanya memikirkan soal kebutuhan jiwa- ibarat manusia yang bertulang tapi tidak berdaging. Melulu hanya memikirkan tubuh- ibarat manusia yang berdaging tanpa tulang yang kuat…

Muga Bermanfa’at.
Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com
Posting Komentar