"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Minggu, 02 November 2014

Pangan, Mangan,Wareg hingga Kemlekaren:

DENGAN mangan, orang bisa bertahan untuk hidup, meski hidup bukan hanya urusan perut. Karena mangan, jadilah wareg. Tapi jangan sampai kewaregen, apalagi kemlekaren. Sebab hanya dengan tanpa melampaui batas wareg yang bisa membuat tetap waras-wiris. Juga hanya dengan ketahanan pangan, ana dina ana upa akan terus terwujud.

Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kehidupan itu disangga oleh pangan. Tanpa pangan, musykil orang bisa hidup. Tidak hanya manusia, tapi semua yang tergolong makhluk hidup. Semua butuh pangan.

Karena pangan merupakan kebutuhan mendasar, ia pun dimasukkan dalam kebutuhan yang paling primer. Baru setelah itu sandhang dan papan. Karena itu, sekalipun kebutuhan lain terpenuhi, tapi kalau urusan pangan masih belum terselesaikan, sungguh tiada artinya. Beras pun jauh bermakna ketimbang sebuah pesawat terbang yang paling mutakhir sekalipun ketika perut harus segera terurus.

Lebih-lebih bagi sebuah negeri agraris negeri yang menjadikan gemah rimah loh jinawi sebagai gambaran ideal, negeri yang mengidamkan segenap rakyatnya merasakan murah pangan kalawan sandhang, tercukupinya boga-wastra. Tidak ada yang paling membanggakan untuk disebut pertama kecuali prestasi dalam hal wulu wetu tetanen.

Itulah kenapa, secara simbolik-ritual, Dewi Sri sangat dipuja oleh orang Jawa tradisional. Dialah Dewi Padi. Kenapa padi? Karena padi merupakan makanan pokok orang Jawa, sejak dulu hingga kini. Jagung, ketela, gandum, dan yang lainnya hanyalah dianggap sebagai pelengkap. Kadang pula jadi komplementernya.

Maka dari itu, ungkapan yang berkaitan dengan pangan senantiasa menjadikan padi dengan segenap turunannya sebagai ikon. Misalnya ana dina ana upa. Pada ungkapan itu memang tergambar sikap pasrah terhadap keadaan yang kadang-kadang dituding sebagai penunjuk ke arah kemalasan. Tapi di balik itu, sebenarnya bersemayam pula spirit optimisme. Optimistis untuk menghadapi waktu yang terus bergerak maju. Optimistis bahwa setiap ada matahari bersinar pastilah akan ada yang bisa dimakan, ya upa itu tadi.

Sekalipun demikian, ada ungkapan yang menuntut setiap orang untuk berupaya agar memperoleh upa, yakni ora obah ora mamah. Tapi semestinya obah itu tidak besifat temporal atau insidental, melainkan berkesinambungan dan sistematis. Sebab dengan begitu, kendhil ora ngguling dan terciptalah ketahanan pangan.

Ketahanan Pedaringan;
Ketahanan pangan, sebagaimana dikemukakan pada awal tulisan ini, memang merupkan hal mendasar yang mesti dipenuhi. Pemenuhannya pun harus dimulai dari unit terkecil dalam sebuah kehidupan bermasyarakat-bernegara, yakni keluarga.

Pada masa lampau, bahkan hingga kini, pada masyarakat Jawa tradisional, setiap rumah senantiasa terdapat senthong khusus untuk menyimpan pangan. Padi terutama, baik dalam wujud gabah maupun gebangan. Tempat itu biasa disebut pedaringan.

Ada gugon tuhon yang berkembang di sekitar pengelolaan pedaringan. Konon, ora ilok jika beras yang ada di pedaringan dihabiskan hingga tandas. Sesedikit apa pun harus ada yang tersisa.

Mudah dipahami bahwa itu merupakan anjuran secara tersamar bahwa memang sebaiknya setiap rumah tidak menghabiskan pangan-nya. Ia harus selalu memiliki cadangan, sebab ada banyak hal yang tak terduga esok hari. Demi agar kendhil ora ngguling. Juga demi agar bisa masih bisa bertanam dengan bibit yang disisakan.

Jika di setiap rumah ada pedaringan, maka di setiap unit di atasnya mesti ada lumbung. Lumbung padi yang paling jamak, dan itu adanya di level pedukuhan atau desa. Di situlah setiap warga pada saat panen tiba menyetor padi masing-masing. Sebaliknya, ketika paceklik datang, dari lumbunglah mereka bisa berharap mendapatkan sambungan hidup, meski upaya lain misalnya dengan melahap sega aking, nasi jagung, ataupun tiwul juga ditempuh. Dari lumbung pula mereka bisa mendapatkan benih terpilih.

Dengan lumbung, sebenarnya juga tercipta kebersamaan dan termekarkan sikap simpati dan empati terhadap sesama dalam urusan pangan. Bukan asal bisa mangan wareg dhewe sementara pada saat yang bersamaan ada yang keluwen njengking. Sebab salah satu implementasi hidup bersama dalam suasana tolong-menolong adalah bisa asung boga marang kang kaluwen.

Mangan Wareg;
Jika sebagai kebutuhan primer, pangan itu benar-benar terpenuhi, lantas bagaimana menikmatinya? Apakah mangan itu sekadar sebagai pemenuhan kebutuhan primer? Apakah mangan itu juga sekadar untuk mengisi perut kosong agar tidak keroncongan?

Pada mulanya, makan hanyalah upaya agar perut terisi. Namun sudah semestinyalah jika manusia makan itu hanya dengan gigi atau lidah demi mengisi perut belaka. Sebab jika sebatas itu, yang terjadi sekadar wareg, wedi luwe, bahkan kemudian bisa-bisa kemlekaren.

Idealnya, yang makan adalah saranduning jiwa-raga, dambaan, juga cita-citanya. Keseluruhan pribadi dan riwayat hidup serta suasana jiwanya ikut makan dan memberikan arti kepada makan, ungkap YB Mangunwijaya dalam Ragawidya Religiositas Hal-hal Sehari-hari (1986) ketika menuliskan refleksi tentang makan.

Lebih lanjut dia memberikan penekanan pada makan bersama. Sebab, justru di situlah dilihat ciri kemanusiaan seseorang: bagaimana ia bersikap dan dengan apa ia makan, makan bersama. Dalam bersantap bersama, sebenarnya dicerminkan pernyataan hatinya, dari satu periuk kita makan bersama. Dari nasi dan lauk pauk serta minuman satu tumpeng satu ceret, semoga tumbuhlah daging, darah, tulang, dan saraf-saraf kita. Semoga dengan demikian kita sepaham, sejalan pikiran, sehati seperasaan, senasib, secita-cita. Satu tumpeng, satu meja, satu tikar, satu keluarga, satu doa....

Pendapat tersebut kiranya paralel dengan ungkapan mangan ora mangan kumpul. Itulah ungkapan yang secara konkret teraktualisasi dalam tradisi kendhuren. Saat kajatan itulah sing mangan atau yang kaya dan sing ora kuwat mangan atau yang kaya berkumpul: duduk bersama, berdoa, dan melahap makanan yang sama. Semua bersatu untuk menyenyahkan kemungkinn crah agawe bubrah seraya menegakkan rukun agawe santosa.

Kiranya, masih dalam semangat kebersamaan, makan kumpul merupakan pola kuliner yang paling menikmatkan bagi orang Jawa. Kiranya makan bareng-bareng jauh lebih nikmat ketimbang sendirian, selezat apa pun dan sebergizi apa pun makanan itu. Namun di balik itu, makan kumpul juga sebagai pengingat kepada semua orang agar ketika makan tidak tampak rakus, tidap melahap apa saja, apalagi tak wareg-wareg, sehingga tak sampai kemlekaren. ... He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr... 

Semoga Bermanfa’at. Amiin
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan
Posting Komentar