"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Rabu, 05 November 2014

Sepuluh Artikel Kusus Seputar Kelamin/Alat Vtal:

10 Artikel Kusus Seputar Kelamin/Alat Vtal:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Tanah Pasundan

(1)
Beginilah Bentuk Normal Mr P Saat ‘Tegang’
Perbedaan panjang alat kelamin seringkali membuat para pria kebingungan menentukan apakah yang terjadi pada penisnya normal atau tidak. Salah satu yang paling mereka khawatirkan adalah bentuk penisnya ketika ereksi.

“Bentuk penis yang normal saat ereksi itu adalah bengkok, di mana arahnya itu bisa saja ke kanan atau ke kiri,” ungkap dr Indra G Mansur Sp.And., saat dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (26/3/2014).

dr Indra menambahkan ada orang yang penisnya akan lebih besar saat ereksi dibanding saat relaksasi, atau ada juga yang sebaliknya. Yang akan membuat penis menjadi terlihat lebih besar saat ereksi itu sebenarnya adalah rongga di dalam perutnya yang juga ikut membesar.

Untuk itu, jikalau penis seseorang terlihat besar saat relaksasi itu berarti yang membuatnya besar bukan rongga perutnya, tapi jaringan ikatnya.

Lalu seperti apa bentuk penis yang tidak normal ketika ‘tegang’? Menurut dokter yang berpraktik di klinik imunologi dan kesehatan reproduksi Sayyidah Pondok Kelapa Jakarta tersebut, bentuk penis dikatakan tak normal saat ereksi apabila penisnya terlalu kaku sehingga penis terasa sakit dan nyeri.

Kondisi ini terjadi karena jaringan ikat dalam penisnya tertarik ke bawah, padahal ketika ereksi seharusnya jaringan ikat tersebut tidak memiliki fungsi apapun.

Sedangkan untuk penis yang agak ‘menunduk’ ke bawah saat ereksi, dr Andri Wanananda MS mengatakan ini adalah kelainan sejak lahir.

Penis bengkok juga bisa disebabkan penyakit yang disebut peyronie. Ditandai dengan terbentuknya plak atau benjolan keras pada jaringan ereksi penis. Meski penyebabnya belum diketahui, namun sejumlah dokter berteori bahwa kelengkungan terjadi akibat trauma pada penis.

(2)
Keseringan Pakai Sex Toys Bisa Mengubah Bentuk Kelamin?
Jauh dari pasangan membuat beberapa orang mengandalkan sextoys sebagai penyalur libido. Memang lebih aman dari infeksi ketimbang gonta-ganti pasangan, tapi ada kekhawatiran alat ini bisa mengubah bentuk kelamin. Waduh, benarkah?

Pada kelamin perempuan, dildo yang terlalu besar dianggap bisa membuat liang vagina menjadi lebih longgar. Demikian juga vibrator yang terlalu sering digesek-gesekkan, dikhawatirkan bisa membuat labia atau bibir vagina kendur dan menggelambir.

Laki-laki pun punya ketakutan yang sama. Menggesek-gesekkan alat kelamin pada benda tertentu, baik boneka seks maupun objek lainnya termasuk tangan sendiri, dikhawatirkan bisa memicu jaringan parut yang membuat bentuk penis bengkok. Padahal, dokter mengatakan ada risiko lain yang lebih masuk akal.

“Sebenarnya kalau mengubah bentuk sih tidak juga ya, yang jelas mengurangi sensitivitas yang lama-lama bisa menjadi resisten, lalu elastisitasnya juga bisa berkurang,” kata kata dr Ricky Susanto, M.Kes, SpOG dari RS Bethsaida Serpong, seperti ditulis Rabu (26/3/2014).

Berkurangnya sensitivitas lebih disebabkan oleh faktor psikologis, bukan semata-mata oleh penggunaan sex toys. Karena sex toys digunakan untuk masturbasi alias swalayan, maka umumnya seseorang akan melakukannya sambil berfantasi. Fantasi inilah yang akan membuat sensitivitas seksual berkurang.

“Fantasi-fantasi yang terlalu sering nantinya juga bisa membuat lama-lama jadi tidak sensitif lagi,” jelas dr Ricky.

Hingga batas tertentu, penggunaan sex toys untuk memberikan variasi dalam kehidupan seksual dianggap wajar oleh sebagian dokter. Yang penting, kegiatan tersebut, dan juga fantasi-fantasi yang menyertainya, tidak sampai membentuk obesesi yang mengganggu kehidupan nyata.

“Selama tidak obsesif tidak mengganggu kesehatan. Jadi kalau sampai mengganggu, maka dianggap mereka ada gangguan. Tapi kalau tidak obsesif ya tidak apa-apa,” jelas dr Nugroho Setiawan, SpAnd dari RSUP Fatmawati.

(3)
Hai Pria, Begini Lho Bentuk Mr P yang Normal Menurut Dokter
Tak selalu sama, bentuk penis pada pria juga memiliki banyak ragam, mulai dari ukuran hingga warna. Seperti apa sebenarnya bentuk penis yang normal menurut pendapat dokter?

“Bentuk penis yang normal itu kalau untuk orang Indonesia itu ukurannya rata-rata 7-9 cm saat relaksasi dan 13 cm saat ereksi. Kalau warna penis yang normal itu seperti warna kulit saja. Namun memang biasanya ada yang lebih kehitaman, tapi tidak hitam pekat,” ujar dr Indra G Mansur, SpAnd, dari Klinik Imunologi dan Kesehatan Reproduksi Sayyidah Pondok Kelapa, kepada detikHealth dan ditulis pada Rabu (26/3/2014).

Dilanjutkan oleh dr Indra, faktanya penis tidak menempel pada tulang kemaluan. Yang menempel sebenarnya adalah jaringan ikat yang melindungi penis tersebut. Dari segi bentuk, normalnya penis tidak akan mengalami perubahan. “Yang berubah itu ukurannya, itu pun hanya sampai usia 20 tahun saja,” ungkapnya.

Sementara itu menurut Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, spesialis andrologi dari FK Universitas Udayana, menyebutkan bahwa normalnya penis berbentuk hampir sama pada setiap pria, yaitu silindris dengan bagian kepala, leher, dan batang. Dalam keadaan ereksi, penis tidak harus dalam keadaan lurus. Sebagian besar mengalami deviasi atau pembengkokan ke kiri atau kanan.

Penis normalnya juga terdiri dari tiga rongga yakni dua batang korpus kavernosa di kiri dan kanan atas, sementara di tengah bawah ada bagian yang disebut korpus spongiosa. Bagian ini disebutkan oleh dr Nugroho Setiawan SpAnd, memberi pengaruh mengapa ada penis yang bentuknya bengkok saat ereksi.

“Dia (penis -red-) bengkok berarti ada jaringan parut di bonggol korpus karvenosa ini. Kenapa dia bisa muncul parut, mungkin luka atau mungkin dibuat luka, atau mungkin ada tindakan dokter menyuntik, jadi ada tumbuh jaringan parut dan bengkok saat ereksi,” papar dokter spesialis andrologi RSUP Fatmawati ini kepada detikHealth.

Senam Kegel yang selama ini sering dilakukan dengan harapan bisa memperbaiki otot, menurut dr Nugroho justru tidak akan menyebabkan perubahan pada bentuk. “Hanya ototnya saja. Senam Kegel membuat otot-otot di dasar panggul kita kuat sehingga akan lebih baik,” terangnya.

Ketika Alat Kelamin Tak Berbentuk Sebagaimana Mestinya
Normalnya, laki-laki punya alat kelamin berupa penis dan pada perempuan berupa vagina. Namun beberapa kondisi membuat kedua organ ini terbentuk, atau terbentuk tetapi tidak sempurna. Apa saja penyebabnya?

Dalam satu kasus, seorang perempuan bernama Jacqui Beck terlahir tanpa vagina. Ia didiagnosis mengidap sindrom langka MRKH (Mayer Rokitansky Kuster Hauser) yang membuatnya terlahir tanpa rahim, tanpa serviks, juga tanpa lubang vagina.

Ada pula kasus lain, misalnya bayi Rafi di Bogor yang dilahirkan dengan kelamin tidak sempurna. Meski orang tua meyakininya sebagai laki-laki, bentuk alat kelamin Rafi tidak berkembang sempurna. Perlu tidaknya ada tindakan medis, berikut ini kata dokter.

“Sebenarnya kalau tidak ada gangguan tidak apa-apa. Tetapi kalau ada gangguan seperti sulit untuk buang air kecil atau sulit untuk ereksi ya harus diperiksa agar bisa diatasi,” kata dr Ricky Susanto, M.Kes, SpOG dari RS Bethsaida Serpong, seperti ditulis pada Rabu (26/3/2014).

Sebutan kelamin ganda, kadang-kadang tidak selalu tepat. Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS dari Universitas Udayana mengatakan, istilah pseudohermaphrodite lebih tepat karena jarang atau bahkan tidak mungkin kedua organ kelamin berfungsi dengan normal.

“Misalnya mempunyai penis tidak sempurna tetapi juga mempunyai indung telur di dalam rongga panggulnya. Mungkin juga mempunyai klitoris tetapi di bagian bibir besar ada semacam testis,” kata Prof Wimpie.

Mengenai penis bengkok, dr Nugroho Setiawan, SpAnd dari RSUP Fatmawati menjelaskan bahwa penyebabnya adalah jaringan parut. Penis terdiri dari 2 bonggol yang disebut korpus karvenosa dan korpus spongiosa, yang tidak selalu sama pertumbuhannya. Jika muncul jaringan parut pada salah satu di antaranya, maka bentuk penis akan bengkok.

“Kenapa dia bisa muncul parut, mungkin luka atau mungkin dibikin luka, mungkin ada tindakan dokter yang suntik ini suntik sini, jadi ada tumbuh jaringan parut, sehingga akan bengkok saat ereksi,” jelas dr Nugroho.

(4)
Bentuk Mr P Bisa Berubah? Ini Kata Dokter
Salah satu kecemasan pria dewasa adalah mitos bentuk penis yang dapat berubah. Sebabnya banyak, mulai dari gara-gara bentuk rambut kemaluan, jarang berhubungan seks, terlalu sering masturbasi, hingga terlalu sering menyuntikkan hormon wanita ke tubuh. Apakah itu benar?

“Penis itu tidak akan berubah (bentuknya). Ya akan begitu saja,” papar dr Indra G Mansur Sp.And ketika dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (26/3/2014).

Menurutnya bentuk penis tidak akan berubah dan akan tetap seperti hingga akhir hayat nanti. Akan tetapi, jika yang dimaksud adalah penis yang menyusut atau bengkok, hal itu mungkin saja terjadi. Salah satu sebab penis menjadi bengkok adalah syndrome peyronie.

Syndrome peyronie adalah suatu kondisi yang menyebabkan kelengkungan atau bengkok di penis, sehingga sulit bagi pria untuk mencapai ereksi atau membuat ereksi terasa sangat menyakitkan. Kelengkungan ini disebabkan oleh jaringan parut di bawah kulit penis yang dirasakan sebagai benjolan, yang dapat terjadi setelah cedera pada penis, seperti pembuluh darah yang pecah yang terjadi saat berhubungan seks atau kegiatan atletik.

dr Nugroho Setiawan Sp.And dari RSUP Fatmawati mengatakan bahwa syndrome peyronie memang menyebabkan penis menjadi bengkok, namun tidak bisa dibilang bahwa syndrome peyronie itu membuat penis menjadi berubah bentuk. Namun ia tidak menampik ketika ditanyakan tentang rasa perih yang dirasakan penderita syndrom peyronie ketika ereksi.

“Syndrome peyronie itu kan sebenarnya hanya perih karena infeksi atau karena yang lain,” ujarnya singkat.

Lalu bagaimana dengan mencukur rambut kemaluan atau menyuntikkan hormon wanita ke dalam tubuh? Apakah tindakan tersebut dapat membuat bentuk penis berubah?

Sekali lagi dr Indra menampik anggapan tersebut. Menurutnya, banyak orang yang mencukur rambut kemaluan karena memang tidak suka terhadap tampilan penis yang diselubungi oleh rambut. Sehingga, bentuk penis seakan-akan terlihat berbeda atau lebih besar jika tidak ada rambut kemaluan.

“Yang harus diingat, rambut kemaluan tidak akan mempengaruhi fungsi seksualnya. Tapi itu kan soal selera, entah itu selera pria itu, ataupun selera istrinya,” ungkap dokter yang praktik di Klinik Imunologi dan Kesehatan Reproduksi Sayyidah Pondok Kelapa tersebut.

Ia pun menambahkan bahwa menyuntikkan hormon wanita ke dalam tubuh juga tidak bisa merubah bentuk penis, terlebih lagi menghilangkannya. Menurutnya, bentuk alat kelamin tidak dipengaruhi oleh hormon, melainkan oleh gen bawaan dari lahir. Sehingga sebanyak apapun pria menyuntikkan hormon wanita ke dalam tubuhnya, hal itu tetap tidak akan menghilangkan gennya sebagai pria.

Hal senada juga diungkapkan oleh dr Nugroho. Dikatakannya bahwa menyuntikkan hormon wanita tidak akan menghilangkan penis, namun memang ukuran penis bisa menyusut atau berkurang, terutama jika disuntikkan pada masa pertumbuhan.

“Sebenarnya tidak banyak pengaruhnya di dalam setelah masa fungsi, tapi kalau di masa pertumbuhan bisa perubahannya lebih nyata,” terang dr Nugroho.

(5)

Penis Mungil Belum Tentu Kecil Saat Ereksi
Ukuran penis masih menjadi patokan wanita dalam menilai vitalitas seorang pria. Ukuran yang lebih kecil dianggap kurang menjamin kepuasan. Padahal, penis yang berukuran kecil ketika normal belum tentu kecil saat ereksi.

Penis yang berukuran kecil ketika rileks bisa membesar ketika ereksi. Pertambahan panjang maupun volume penis ketika ‘tegang’ hingga dua kali lipat atau lebih. Demikian menurut paparan spesialis andrologi di RSUP Fatmawati, Nugroho Setiawan, ketika diwawancarai detikHealth.

“Penis yang saat tidak ereksi berukuran kecil, saat ereksi akan berlipat menjadi dua kali atau lebih,” ujar dr Nugroho seperti ditulis pada Rabu (26/3/2014).

Mengapa ukuran penis dapat membesar hingga lebih dari dua kali lipat ketika sedang ereksi? Menurut Indra G Mansur, dokter di klinik imunologi dan kesehatan reproduksi Rumah Sakit Ibu Anak Sayyidah, penyebabnya adalah karena rongga yang ada di dalam perut. Ketika ereksi, rongga tersebut akan membesar dan mempengaruhi penis sehingga penis terlihat lebih besar.

“Umumnya penis yang ereksi terlihat lebih besar. Hal ini sebabkan oleh rongga di dalam perut yang juga membesar,” tuturnya.

Menurut data statistik, ketika ereksi, ukuran penis normal orang Indonesia adalah 13 hingga 15 sentimeter. Ukuran tersebut berbeda-beda pada setiap pria tergantung pada faktor tumbuh kembang dan faktor kesehatan. Orang yang bertubuh gemuk cenderung memiliki penis yang terlihat lebih kecil karena organ tersebut tertutupi oleh lemak.

Sedangkan dalam kondisi tidak tegang, ukuran penis normal orang Indonesia adalah tujuh hingga sembilan centimeter. Besar kecilnya ukuran penis saat rileks dipengaruhi oleh kondisi jaringan ikat. Jaringan ikat yang tebal akan membuat penis terlihat lebih besar.

(6)

Penis Bisa Menyusut Tanpa Disadari, Ketahui Penyebabnya
Ketika seorang laki-laki berusia pertengahan 20-an tahun, mungkin penisnya terlihat sangat gagah. Namun kondisi itu bisa jadi tak lagi sama pada 20 tahun kemudian. Penis yang dulunya besar dan gagah, menjadi tak sebesar dulu lantaran menyusut tanpa disadari. Nah, apakah penyebab menyusutnya penis?

dr Indra G Mansur SpAnd dari klinik imunologi dan kesehatan reproduksi Sayyidah Pondok Kelapa menjelaskan yang membuat penis bisa menyusut adalah hormon yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Maklum, semakin tua, hormon di dalam tubuh manusia akan menurun.

“Dan hal inilah yang menyebabkan penis bisa menyusut. Kan orang yang sudah tua atau kakek-kakek secara tidak sadar penisnya akan menjadi lebih kecil, dan penurunan hormonlah yang menyebabkan ini terjadi,” jelas dr Indra dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (26/3/2014).

Penyusutan pada penis juga diikuti dengan penurunan fungsi ereksi, yang antara lain dipengaruhi hormon testosteron. “Kalau testosteron berkurang misalnya karena penuaan, maka dorongan seksual dan fungsi ereksi berkurang. Ereksi spontan pada malam hari atau pagi hari juga berkurang,” ucap Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS dari Universitas Udayana.

Dikutip dari WebMD, biasanya semakin bertambah tua, seorang laki-laki akan semakin bertambah berat badannya. Nah, lemak akan terakumulasi di perut bagian bawah sehingga membuat ukuran penis seolah menjadi lebih pendek. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan penyusutan penis pada lelaki tua. Pertama, deposit zat lemak di dalam arteri kecil penis yang mana hal ini mengganggu aliran darah ke organ. Proses ini dikenal sebagai aterosklerosis. Hal ini juga memberikan kontribusi pada penyumbatan arteri koroner yang menjadi penyebab utama serangan jantung.

Kedua, penumpukan bertahap kolagen relatif inelastis (jaringan parut) di dalam selubung fibrosa elastis yang mengelilingi bilik (ruang) ereksi. Ereksi terjadi saat bilik-bilik ini terisi oleh darah. Nah, penyumbatan dalam arteri penis membuat ereksi lebih kecil.

Bukan cuma penis yang berubah, tetapi juga ukuran testis. Testis seorang pria usia 30 tahun diameternya bisa jadi sekitar 3 cm. Namun pada saat diukur lagi di usia 60 tahunan, kemungkinan ukurannya hanya 2 cm.

Tak hanya itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penis menjadi kurang sensitif dari waktu ke waktu. Hal ini bisa menyebabkan seorang pria sulit untuk mencapai ereksi dan mengalami orgasme.

(7)
Kondisi yang Bikin Bentuk Mr P Tidak Normal
Bentuk dan ukuran alat kelamin pria sering menjadi bahan perbincangan karena dianggap sebagai lambang kejantanan. Sayangnya, kondisi tertentu dapat membuat bentuk kelamin pria jadi tidak normal sejak dalam kandungan. Apa penyebabnya?

Salah satu kondisi ketidaknormalan penis adalah mikropenis, atau dikenal dengan istilah penis mungil. Penyebabnya adalah kurangnya hormon testosteron di dalam tubuh, bahkan terjadi sejak bayi laki-laki masih belum dilahirkan.

“Biasanya kondisi-kondisi seperti itu terjadi pada saat pria itu kecil, bahkan dari di dalam kandungan. Dan yang mempengaruhi atau menyebabkan hal ini terjadi adalah hormon pria tersebut,” jelas Dr dr Indra G Mansur, DHES, SpAnd dari RSIA Sayyidah, saat berbincang dengan detikHealth, ditulis pada Rabu (26/3/2014).

dr Indra menjelaskan,hormon ini adalah hormon yang berperan dan bertanggung jawab dalam perkembangan organ-organ seksual, termasuk penis, yaitu testosteron atau dikenal dengan hormon seks pria. Jika hormonnya tidak berperan dengan baik atau semestinya, akhirnya itulah yang menyebabkan perkembangan penis menjadi terhambat.

“Ini mengapa ada pria dewasa yang penisnya kecil, karena penisnya tidak tumbuh atau berkembang sesuai dengan usia pertumbuhannya. Misalnya, ada yang umurnya belasan tahun, tapi penisnya masih kecil saja seperti umur empat tahun,” lanjut dokter yang juga praktik di RSIA Budhijaya, Jakarta.

Normalnya, seorang pria terlahir dengan hormon ‘pria’ dan hormon ‘wanita’, tentu dengan kadar hormon ‘pria’ lebih banyak. Nah, pada orang-orang yang mengalami masalah dengan perkembangan penis, salah satunya disebabkan oleh hormon ‘wanita’ yang lebih banyak dibanding yang seharusnya, sehingga bisa menghambat pertumbuhan penis.

Menurut dr Indra, cara mengatasi masalah seperti ini adalah dengan memberikan obat untuk melawan atau menekan hormon penghambatnya. Orang tua bisa mencegah hal ini terjadi pada anaknya dengan melakukan pemeriksaan yang rutin sejak dalam kandungan.

“Jadi nanti dokter akan melihat bagaimana kondisi organ seksual pada anak itu, apakah normal atau tidak. Mungkin baru bisa diketahui normal atau tidak jika anak itu berusia 2 tahun, karena kan kalau 2 tahun belum terlihat penis dan testisnya, atau kecil, itu yang harus mulai diwaspadai,” tutup dr Indra.

(8)
Ini Lho, Rata-rata Ukuran Mr P Lelaki Indonesia
Hingga kini ukuran alat vital masih menjadi salah satu topik seksi dalam berbagai diskusi maupun perbincangan sederhana. Anggapan yang beredar menyebutkan bahwa ukuran kelamin pria dipengaruhi oleh jenis ras. Para lelaki dari ras Arab misalnya, mereka dianggap memiliki ukuran Mr P yang relatif lebih besar. Bagaimana dengan orang Indonesia?

Rata-rata ukuran alat vital pria Indonesia adalah tujuh hingga sembilan sentimeter saat rileks dan mencapai 15 sentimeter saat ereksi. Demikian menurut penuturan Heru H. Oentoeng, dokter reproduksi di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk. Ukuran tersebut dipengarui oleh faktor genetik, faktor tumbuh kembang, serta faktor kesehatan semisal kegemukan.

“Ukuran normal penis dari sisi medis sesuai dengan rata-rata statistik. Biasanya untuk orang Indonesia, statistik normalnya 7-9 hingga 15 cm, sama dengan Asia,” tuturnya ketika berbincang dengan detikHealth.

Mengenai anggapan bahwa besar kecilnya ukuran penis dipengaruhi jenis ras, dokter Oentoeng berpendapat bahwa hal tersebut merupakan persoalan data statistik. Meski data menunjukkan adanya perbedaan ukuran alat vital antara pria ras Asia, Afrika, dan Eropa, perbedaan yang ada tidaklah signifikan.

Hal berbeda disampaikan oleh Wimpie Pangkahila, profesor, dokter, sekaligus pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Menurutnya tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa ukuran penis berkaitan dengan asal etnik atau ras. Pasalnya data yang ada tidak dihasilkan dari jumlah responden yang sebanding.

Sebuah penelitian di Singapura telah menampik anggapan yang selama ini beredar, bahwa ukuran alat kelamin pria dipengaruhi jenis ras. Menurut studi itu, ujar Wimpie, tidak ada perbedaan ukuran penis yang berarti antara berbagai ras.

“Ternyata tidak ada bukti ilmiah yang benar menyangkut ukuran penis berkaitan dengan etnik atau ras. Data yang ada ternyata dihasilkan dari jumlah pria yang tidak sama pada setiap kelompok etnis. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan di Singapura menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara ukuran penis dari etnik Cina, Melayu, Arab, dan Eropa,” pungkasnya, seperti ditulis pada Rabu (26/3/2014).

(9)
Kasus Mr P yang Malah Mengecil Saat Ereksi, Apa Sebabnya?
Ukuran Mr P akan membesar ketika tegang, baik panjang maupun diameternya. Tapi ada juga beberapa pria yang penisnya justru tidak membesar atau tampak lebih kecil ketika sedang ereksi. Mengapa demikian? Normalkah?

Umumnya penis yang ereksi terlihat lebih besar. Hal tersebut disebabkan oleh rongga di dalam perut yang juga membesar. Rongga tersebut mempengaruhi bentuk penis, sehingga penis pun tampak lebih besar ketika ereksi.

Kendati demikian, kasus penis yang tidak tampak lebih besar saat ereksi bukan merupakan hal yang janggal. Para pria tak perlu terlalu cemas. Sebab ada dua jenis penis, yakni grower dan shower.

Penis berjenis grower adalah penis yang menjadi semakin panjang dan besar ketika menengang. Sedangkan penis berjenis shower adalah penis yang selalu besar meski sedang rileks, tetapi tidak semakin panjang atau besar ketika ereksi. Sebuah survei helatan Men’s Health Internasional menunjukkan bahwa 79 persen pria adalah grower dan 21 persen adalah shower.

Menyoal ukuran penis yang tampak lebih kecil saat ereksi, dokter spesialis andrologi di klinik imunologi dan kesehatan reproduksi RSIA Sayyidah Pondok Indah, Indra G. Mansur, menuturkan bahwa penyebabnya adalah otot yang mengelilingi penis. Otot yang menebal ketika ereksi menyebabkan penis terlihat lebih kecil.

“Kalau ada yang saat ereksi ukurannya lebih kecil dibanding relaksasi, hal ini dikarenakan ada otot yang mengelilingi penis, di mana otot itu lebih besar dan lebih tebal. Dan pada saat ereksi, lapisan otot tersebut akan lebih tebal, sehingga penis akan terlihat lebih kecil,” demikian tutur dr Indra ketika diwawancarai detikHealth dan ditulis pada Rabu (26/3/2014).

Baik membesar atau tidak ketika ereksi, asal penis berereksi atau menengang dengan normal, hal tersebut bukan merupakan masalah. Menurut dr Indra, ereksi dikatakan tidak normal apabila penis terlalu kaku sehingga penis terasa sakit dan nyeri. Kondisi itu terjadi karena jaringan ikat dalam penis tertarik ke bawah, padahal seharusnya jaringan ikat tersebut tidak memiliki fungsi apa pun ketika ereksi.

(10)
Beginilah Perubahan Bentuk Mr P dan Miss V Seiring Bertambahnya Usia
Ketika seseorang menua, ada berbagai hal dalam dirinya yang berubah. Dulu saat muda, mungkin kulitnya masih halus dan jauh dari keriput, namun seiring menuanya usia, keriput hadir di sana-sini. Tak hanya itu, bagian paling intim seorang manusia, yakni alat kelamin, juga mengalami perubahan. Seperti apa?

“Elastisitas vagina pasti semakin berkurang, kemudian juga kalau menepause vaginanya menjadi kering. Karena seiring dengan bertambahnya usia saraf hormonnya berkurang, jadi tergantung dari hormonnya,” kata dr.Ricky Susanto, M.Kes, SpOG dari RS Bethsaida Serpong, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (26/3/2014).

Sementara itu menurut Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS dari Universitas Udayana, seiring bertambahya usia maka perubahan yang bisa terjadi pada vagina antara lain bibir vagina yang bentuknya menjadi datar. Selain itu, rugae atau lekukan pada dinding vagina akan berkurang atau menghilang.

“Otot sekitar vagina juga melemah apalagi kalau perempuan tidak melatihnya melalui olahraga,” jelas Prof Wimpie.

Dia menerangkan perubahan pada kelamin perempuan sangat dipengaruhi oleh berkurangnya hormon estrogen, progesteron, dan testosteron. Ketika hormon ini berkurang seiring usia, maka timbul gejala antara lain dorongan seksual berkurang, perlendiran vagina berkurang, dan relaksasi vagina yang juga berkurang.

“Perubahan ini menimbulkan disfungsi seksual yang mengganggu hubungan seksual dengan pasangan. Perubahan lain di luar kelamin tidak saya bahas di sini,” tutur Prof Wimpie.

Sedangkan pada pria perkembangan penis sejak kecil dipengaruhi oleh testosteron. Fungsi ereksi juga antara lain dipengaruhi hormon testosteron. Kalau testosteron berkurang, misalnya karena penuaan, maka dorongan seksual dan fungsi ereksi berkurang. Ereksi spontan pada malam hari atau pagi hari juga berkurang
Dihubungi secara terpisah, dr Indra G Mansur SpAnd dari klinik imunologi dan kesehatan reproduksi Sayyidah Pondok Kelapa memaparkan perubahan yang terjadi pada penis adalah perubahan panjang dan diameternya, bukan bentuknya. Menurut dr Indra, bentuk penis sebenarnya sama saja.

“Panjang dan diameternya memang akan berubah sesuai dengan pertumbuhannya. Biasanya pertumbuhan panjang dan diameter ini akan terjadi dengan cepat ketika pria itu masih berada dalam masa pubertas. Tapi setelah ia lewat masa pubertas, pertumbuhan yang akan terjadi akan berjalan dengan lambat,” lanjutnya.

dr Indra menuturkan batas pertumbuhan penis adalah sampai seorang laki-laki berusia 20 tahun. Setelah melewati usia itu, maka pertumbuhan tidak akan terjadi lagi.

“Penyebab pertumbuhan ini tentu saja hormon yang ada di dalam tubuh manusia. Hormon itu kan akan terus tumbuh. Lalu pertumbuhan bisa juga disebabkan oleh rongga yang terus membesar seiring bertambahnya usia. Makanya rongga itu akan mendorong penis akan menjadi lebih besar,” ucap dr Indra.

Dikutip dari WebMD, ada dua perubahan besar terkait penampilan penis seiring semakin bertambah tuanya seorang laki-laki. Kepala penis (glans) secara bertahap kehilangan warna keunguannya. Kondisi itu akibat dari berkurangnya aliran darah. Perlahan, pertumbuhan rambut kemaluan juga mulai melambat, dan bahkan mengalami kerontokan sedikit demi sedikit.

“Karena testosteron berkurang, penis secara bertahap beralih ke masa prapubertalnya, sehingga sebagian besar tidak lagi berbulu,” kata Irwin Goldstein, MD, Direktur Pengobatan Seksual di Alvarado Hospital di San Diego dan editor-in-chief The Journal of Sexual Medicine.

Muga Bermanfa’at.
Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://wongedanbagu.blogspot.com


Posting Komentar