"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Rabu, 10 Desember 2014

PENGARUH AGAMA TERHADAP PRILAKU:

PENGARUH AGAMA TERHADAP PRILAKU:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu Tgl 10 Des 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1            LATAR BELAKANG;
Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah mahluk yang memilki potensi untuk berahlak baik (takwa) atau buruk (fujur) potensi fujur akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait dengan aspek instink, naluriah, atau hawa nafsu, seperti naluri makan/minum, seks, berkuasa dan rasa aman. Apabila potentsi takwa seseorang lemah, karena tidak terkembangkan (melalui pendidikan), maka prilaku manusia dalam hidupnya tidak akan berbeda dengan hewan karena didominasi oleh potensi fujurnya yang bersifat instinktif atau implusif (seperti berjinah, membunuh, mencuri, minum-minuman keras, atau menggunakan narkoba dan main judi).

Agar hawa nafsu itu terkendalikan (dalam arti pemenuhannya sesuai dengan ajaran agama), maka potensi takwa itu harus dikembangkan, yaitu melalui pendidikan agama dari sejak usia dini. Apabila nilai-nilai agama telah terinternalisasi dalam diri seseorang maka dia akan mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia yang bertakwa, yang salah satu karakteristiknya adalah mampu mengendalikan diri (self contor) dari pemuasan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

1.2            RUMUSAN MASALAH;
A.      Apa pengertian agama ?
B.      Apa pengertian prilaku ?
C.      Apakah pengaruh agama terhadap prilaku ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1      PENGERTIAN AGAMA;
Agama menurut bahasa sangsakerta, agama berarti tidak kacau (a = tidak gama = kacau) dengan kata lain, agama merupakan tuntunan hidup yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan. Didunia barat terdapat suatu istilah umum untuk pengertian agama ini, yaitu : religi, religie, religion, yang berarti melakukan suatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian, perbuatan ini berupa usaha atau sejenis peribadatan yang dilakukan berulang-ulang.

Istilah lain bagi agama ini yang berasal dari bahasa arab, yaitu addiin yang berarti : hukum, perhitungan, kerajaan, kekuasaan, tuntutan, keputusan, dan pembalasan. Kesemuanya itu memberikan gambaran bahwa “addiin” merupakan pengabdian dan penyerahan, mutlak dari seorang hamba kepada Tuhan penciptanya dengan upacara dan tingkah laku tertentu, sebagai manifestasi ketaatan tersebut.[1]

Dari sudut sosiologi, Emile Durkheim (Ali Syari’ati, 1985 : 81) mengartikan agama sebagai suatu kumpulan keayakinan warisan nenek moyang dan perasaan-perasaan pribadi, suatu peniruan terhadap modus-modus, ritual-ritual, aturan-aturan, konvensi-konvensi dan praktek-praktek secara sosial telah mantap selama genarasi demi generasi.

Sedangkan menurut M. Natsir agama merupakan suatu kepercayaan dan cara hidup yang mengandung faktor-faktor antara lain :
a.       Percaya kepada Tuhan sebagai sumber dari segala hukum dan nilai-nilai hidup.
b.      Percaya kepada wahyu Tuhan yang disampaikan kepada rosulnya.
c.       Percaya dengan adanya hubungan antara Tuhan dengan manusia.
d.      Percaya dengan hubungan ini dapat mempengaruhi hidupnya sehari-hari.
e.       Percaya bahwa dengan matinya seseorang, hidup rohnya tidak berakhir.
f.        Percaya dengan ibadat sebagai cara mengadakan hubungan dengan Tuhan.
g.       Percaya kepada keridhoan Tuhan sebagai tujuan hidup di dunia ini.
Sementara agama islam dapat diartikan sebagai wahyu Allah yang diturunkan melalui para Rosul-Nya sebagai pedoman hidup manusia di dunia yang berisi Peraturan perintah dan larangan agar manusia memperoleh kebahagaian di dunia ini dan di akhirat kelak.[2]

Adapun Pengertian agama menurut berbagai agama :
A.      Agama hindu;
Agama menurut agama Hindu ialah satya, arta, diksa, tapa, brahma dan yajna. Satya berarti kebenaran yang absolute. Arta adalah dharma atau perundang-undangan yang mengatur hidup manusia. Diksa adalah penyucian. Tapa adalah semua perbuatan suci. Brahma adalah doa atau mantra-mantra. Yajna adalah kurban. Pengertian lain ialah dharma atau kebenaran abadi yang mencakup seluruh jalan Kehidupan manusia. Jadi agama menurut agama Hindu ialah kepercayaan hidup pada ajara-ajaran suci dan diwahyukan oleh Sang Hyangwidi yang kekal abadi.
B.      Agama budha;
Agama menurut agama Budha ialah suatu kepercayaan atau persujudan atau kepercayaan manusia akan adanya daya pengendalian yang istimewa dan terutama dari suatu manusia yang harus ditaati dan pengaruh pemujaan tadi atas perilaku manusia. Pengertian lain dari agama adalah suatu badan dari ajaran kesusilaan dan filsafat dan pengakuan berdasarkan keyakinan terhadap pelajaran yang diakui baik yang ajaran yang budha yang sangat mulia. Dalam pengertian yang lain bahwa agama adalah cara tertentu untuk pemujaan kepada para dewa, dewa agung yaitu adanya kekuatan gaya tak terlihat yang menguasai alam semesta.
C.      Agama kristen;
Agama menurut agama Kristen ialah segala bentuk hubungan manusia dengan yang suci. Terhadap yang suci ini manusia tergantung, takut karena sifatnya yang dahsyat dan manusia tertarik karena sifat-sifatnya yang mempesonakan.
D.     Agama islam;
Agama menurut agama Islam ialah, kata Islam berasal dari kata: salam yang artinya selamat, aman sentosa, sejahtera: yaitu aturan hidup yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat.[3]

2.2PENGERTIAN PRILAKU
Perkataan prilaku atau tingkah laku mempunyai pengertian yang luas skali. Yaitu tidak hanya mencakup kegiatan yang bersifat motoris saja seprti berbicara, berjalan, lari-lari, berolah raga, bergerak dan lain-lain, akakn tetapi juga membahas macam-macam fungsi seprti melihat, mendengar, mengingat, berfikir, penampilan emosi-emosi dalam bentuk tangis dan tersenyum.[4]
Tingkah laku atau perbuatan manusia ini tidak terjadi secara sporadic(timbul dan hilang disaat-saat tertentu), akan tetapi selalu ada kelangsungan  antara perbuatan satu dengan perbuatan yang berikutnya.[5] Misalnya seorang anak akan sekolah ahari ini dan akan sekolah besok hingga terus-menerus sampai bertahun-tahun untuk akhirnya kepandaian tersebut menjadikan dia mendapatkan pekerjaan dan pengalaman pekerjaan yang kemudian dia mendapatkan penghasilan, dan berkeluarga, berketurunan dan seterusnya.

Dalam pengertian yang lain Perilaku adalah merupakan perbuatan atau tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya.

Perilaku mempunyai beberapa dimensi:
·         fisik, dapat diamati, digambarkan dan dicatat baik frekuensi, durasi dan intensitasnya.
·         ruang, suatu perilaku mempunyai dampak kepada lingkungan (fisik maupun sosial) dimana perilaku itu  terjadi
·         waktu, suatu perilaku mempunyai  kaitan dengan masa lampau maupun masa yang akan datang.
·         Perilaku diatur oleh prinsip dasar perilaku yang menjelaskan bahwa ada hubungan antara perilaku manusia dengan peristiwa lingkungan. Perubahan perilaku dapat diciptakan dengan merubah peristiwa didalam lingkungan yang menyebabkan perilaku tersebut
·         Perilaku dapat bersifat covert ataupun overt
a.       overt artinya nampak (dapat diamati dan dicatat)
b.      covert artinya tersembunyi (hanya dapat diamati oleh orang yang melakukannya)
·         Fokus pengubahan perilaku kepada perilaku yang dapat diamati (perilaku overt)

2.3      PENGARUH AGAMA PADA PRILAKU
Agama adalah pedoman perilaku moral, maka agama adalah pemengaruh perilaku moral manusia karena keyaqinan itu masuk ke dalam konstruksi kepribadian[6]. Sejauh mana efektivitas pengaruhnya tentu tergantung dari kuat mana antara penyampai pengaruh dengan penerima pengaruh.

Setiap agama pasti memiliki aturan atau perintah masing-masing agama yang harus di patuhi oleh segenap pengikutnya. Dan aturan-aturan tersebut akan mempengaruhi pada tingkah laku atau prilaku dari pengikutnya. Akan tetapi apabila dalam menjalankan perintah atau atauran yang diberikan oleh agama dijalankan hanya karena meggugurkan kewajiban belaka maka bisa saja prilakunya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh agama. Salah satu contohny adalah ada orang yang ibadahnya rajin akan tetapi mereka juga ahli ma’siat atau ahli berbuat kemunkaran.
Dewasa ini pula banyak perilaku para pemeluk agama yang telah menyimpang jauh dari esensi ajaran agama itu sendiri. Akibatnya, agama menjelma menjadi sosok yang seram dan menakutkan. Padahal, esensi ajaran agama adalah cinta dan kasih sayang. Saat ini kita tidak hidup di zaman perang dengan senjata sebagai alat utama. Kita sekarang berpijak di era keterbukaan dan demokrasi. Seharusnya, yang tampak adalah sikap saling membantu dan menebar kedamaian.

Dapat disaksikan perbedaan antara orang yang  beriman dengan ornag yang tidak beriman yang hidup menjalankan agamanya, dengan orang yang tidak menjalankan  agama atau mejalankan agama dengan cara acuh tak acuh kepada agamanya. Pada wajah orang yang beragama terlihat ketentraman batin, sikapnya dan perbuatannya tidak akan menyengsarakan atau mnyusahkan orang lain, lain halnya dengan orang yang hidupnya terlepas dari iktan agama atau tali agama, hidupnya akan mudah terganggu oleh goncangan jiwa dan suasana.[7]

kalau kita mau berfikir secara mendalam sebenarnya agama adalah sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling kuat, sebagian jumlah besar moralitas sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin dan individu sebagai suatu yang memulyakan dan yang membuat manusia beradab.

Akan tatpi banyak sekali tuduh-tuduhan yangsangat menykitkan telinga kita, mereka berpendapat bahwa agama adalah sumber mpeghambat kemajuan manusia dan memepertinggi fanatisme dan sifat tidak toleran, pegacuan, pengabaian, tahayul, dan kesia-sian, padahal pandangan seperti itu adalah pandangan yang sanagt keliru.

Dan sebenarnya agama adalah sebagai sumber penting dalam kebudayaan memberikan arahan dan bentuk pada fikiran, perasaan, dan tindak tanduk manusia, bagaimanakah tidak tindakan ini sudah susai ataukah belaum dengan masyarakat dan bagaimana akibatnya.[8]

Sedikit contoh tentang perintah agama yang mempengaruhi pada kehidupan pemeluknya :
1.      Perintah sholat pada pemeluk agama islam
Shalat adalah sala satu perintah dan juga rukun islam yang harus dilakukan oleh pemeluk agama islam ketika mereka sudah baligh baik orang islam laki-laki ataupun perempuan, dan tidak bisa diwakilkan ketika mereka masih hidup. Dan tanpa kita sadari ternyata pelaksanaan perintah ini berpengaruh pada kehidupan pelakunya. Diantara pengaruhnya adalah
ü  Alokasi waktu
ü  Pekerjaan atau kegiatan disesuaikan agar tidak terjadi konflik
ü  Kebanyakan tempat-temat belanja dan gedung-gedung sarana umum didirikan tempat untuk sholat
ü  Pakaian shalat
2.      Perintah puasa pada agama Kristen atau katolik
Punya tidak hanya untuk pemeluk agama islam ternyata dalam ajaran agama Kristen juga mengenala yang namanya puasa akan tetapi puasa mereka tidak sama dengan puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama islam, puasa yang dlaukakn oleh pemeluk agama Kristen dilakaukan kurang lebih sekitar empat puluh hari sebelum atau sesudah hari paskah dengan tidak makan daging, telur, keju, susu, dan tidak merokok. adapun pengaruhnya terhadap pemeluknya diantaranya adalah :
ü  Pengeluaran yang berkurang
3.      Peringatan hari besar terhadap pemeluk agama islam
Setiap agama mempunyai hari besar yang haris diperingati oleh seluruh pemeluk agama tersebut. Dan ini berpegaruh pada pemeluk agama tersebut. Adapun pengarihnya adalah :
ü  Secara umum mereka bisa berkumpul dengan keluarga, sanak saudara, dan handai taulan.
ü  Saling memaafkan atas segala kesalahan
ü  Bertambahnya kebutuhan.

Dari sedikit contoh pengaruh agama diatas dapat kita fahami bahwa agama memang memberikan pengaruh pada pola hidup pemeluknya, dan yang pasti pengaruhnya adalah pengaruh yang positif bukan pengaruh yang negatif, dan jika kita jumpai pelaku agama atau pemeluk agama yang mungin melakukan perbuatan yang tidak mencerminkan agama mereka itu bukan berarti agama tersebut yang tidak tepat akan tetapi oknum dari pelaku agama tersebut yang tidak mampu melaksanakan aturan aagam yang telah ada.

Dan mungkn kita juga pernah melihat ada orang yang ahli ibadah akan tetapi mereka juga ahli dalam melakukan kemunkaran, fenomena seperti ini adalah sesuatu yang sudah biasa terjadi dikalangan masyarakat kita ini karena merelka melakukan aturan agama atau perintah agama yang mereka peluk hanya karena sekedar menggugurkan kewajiban atau mungkin hanya karena faktor-faktor kedunian saja.

BAB III
PENUTUP
3.1            KESIMPULAN;
Agama adalah pedoman perilaku moral, maka agama adalah pemengaruh perilaku moral manusia karena keyaqinan itu masuk ke dalam konstruksi kepribadian, Dalam pengertian Agama merupakan pengabdian dan penyerahan, mutlak dari seorang hamba kepada Tuhan penciptanya dengan upacara dan tingkah laku tertentu, sebagai manifestasi ketaatan tersebut.

Perilaku adalah merupakan perbuatan atau tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya.
Agama memepunyai pengaruh yang sangat besar pada pola hidup dan tingkah laku pemeluknya, karena agama memberikan kedamaina dan ketentraman bagi pemeluknya bila ia menjalankan aturan tersebut dengan sesungguhnya mnejalankan dan bukan ahnaya karena menggugurkan kewajiban saja.
SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI... SEMOGA POSTINGAN SAYA INI BERMANFA’AT SEBAGAI WAWASAN DAN PENGALAMAN TAMBAHAN KITA.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com



Posting Komentar