"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Sabtu, 06 Juni 2015

Menghadapi hal luar biasa yang tak dapat dihindari:

Menghadapi hal luar biasa yang tak dapat dihindari:
Sebuah kisah menghadapi kematian dan mengetahui kehidupan setelah kematian.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Toili Sulteng. Sabtu tgl 06 Juni 2015

Kematian dan .....ketakutan akan kematian;
Jika ada suatu pengalaman yang terjadi sepanjang sejarah dan di seluruh dunia yang mengikat manusia bersama-sama, pengalaman itu adalah kematian. Kematian adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh kita semua tanpa terkecuali, tidak ada latihan, aturan diet, teknik meditasi, uang yang banyak juga istri cantik atau suami tampan dan ilmu jaya kawijayan yang dapat menghindarkan kita dari kematian.

Untuk kebanyakan orang, akhir hidup adalah kematian, ditambah dengan ketidakpastian akan adanya kehidupan setelah kematian, menghasilkan ketakutan. Kita dapat melihat hal yang ada disekitar kita ini, ketika kita mencoba dengan gigih untuk menghentikan proses penua’an. Kita berharap bahwa ilmu, bahkan pil/obat yang selanjutnya, pembedahan yang selanjutnya, atau penemuan genetis yang selanjutnya akan menjadi kunci untuk memperpanjang kehidupan kita... Subhanallah... He he he . . . Edan Tenan.

Menghadapi kematian dengan damai....Proses setelah kematian yang sempurna.
Bagaimanapun, tidak semua orang menghadapi kematian dengan ketakutan dan ketidakpastian. Beberapa tahun yang lalu, seorang GURU terhormat saya, menghadapi musuh tanpa wajah ini. Pada umur 16 tahun, dia didiagnosa mengidap penyakit kanker perut. Akibat makan minum yang tidak teratur (terlalu sering puasa). Dokter-dokter berusaha penuh mencoba segala macam perawatan, tetapi semua tidak ada gunanya. Dalam satu setengah tahun, di dua kota yang berbeda dan di tiga rumah sakit yang berbeda pula, GURU saya dirawat. Pada waktu itu, berat badannya berkurang 90 pon dan dia juga kehilangan seluruh rambutnya. Sayangnya, setelah 18 bulan, tidak ada yang dapat dilakukan untuknya.

Setelah putus asa mengobati GURU saya, dokter-dokter GURU saya melakukan hal terakhir yang dapat dilakukan oleh mereka, mereka mengirimkan GURU saya kembali kerumah untuk menikmati hari-hari terakhir dalam kehidupannya. Pada saat itu, aku benar-benar sedih karena takut kehilangan seorang GURU terbaik saya dan saya marah kepada Tuhan. Aku marah kepada Tuhan, karena Dia tidak menyembuhkan GURU saya. Aku juga marah karena sang GURU akan kehilangan banyak hal.

Berurusan dengan kematian...
Luar biasanya... GURU saya tidak marah apa lagi TAKUT. Kenyata’annya, GURU saya  menghadapi  yang mengerikan ini, tidak dengan kegugupan yang mungkin pernah dirasakan kebanyakan orang pada kencan pertamanya. Sampai hari ini, ketika saya melihat kedamaiannya di dalam permasalahanku, aku terpesona... Edan Pora.

Kedamaian yang dirasakannya bukan hanya didapat dari lahir. Bukan juga kedamaian itu terpancar dari sikapnya yang perhatian. Sebaliknya, kedamaian itu datang dari keputusan yang GURU saya buat berbulan-bulan sebelum diagnosa awal. Dengan keputusan itu, GURU saya menemukan kedamaian didalam Tuhannya. GURU saya mengetahui bagaimana memiliki hidup setelah kematiannya jika karena Allah. Bila mau menerimanya dengan legowo/rela.

Kehidupan setelah kematian.... Adalah Keputusan Kita Sendiri. Sama dengan Kehidupan sebelum kematian. Di dunia ini, mau sehat atau mau sakit, mau enak atau tidak enak, semuanya yang memutuskannya, adalah diri kita sendiri. Kehidupan setelah kematian juga begitu, kita yang memutuskan. Mau Sempurna? Atau Tidak Sempurna? Kitalah yang memutuskan.

GURU saya bukanlah satu-satunya orang yang perlu membuat keputusan ini, kita semua perlu. Kita harus memutuskan apakah kita mau menerima proses pemberian Tuhan setelah kematian nantinya. Jika kita menolak pemberian Tuhan setelah kematian ini, kita akan dihukum untuk mendapatkan kematian rohani secara terpisah selamanya dari Hyang Maha Suci Hidup. Jika kita menerimanya, bagaimanapun itu, Sempurna Tidak Sempurna. kehidupan setelah kematian yang Sempurna menjadi milik kita.

Keputusan yang kita buat ini, bukan berarti bahwa kita bisa lolos dari kematian jasmani, tetapi kita bisa Tenang menghadapi kematian, karena kematian itulah yang bisa mengarahkan kita kepada kehidupan yang Sempurna setelah kematian. Inilah kebenaran yang GURU saya  temukan, dan,,, setelah saya buktikan, ternyata benar, hubungan yang tumbuh bersama Maha Suci Hidup,  membuat segalanya berbeda di dunia ini. Inilah kebenaran yang saya temukan, yang terinspirasi dari keputusan GURU saya itu, dan hubungan bersama Tuhan, memang benar membuat setiap hari dalam hidupku menjadi berbeda. BUKTIKAN SAJA...!!!

Jika Saudara-Saudariku sekalian menghadapi kematian, dan bertanya-tanya tentang kehidupan setelah kematian, atau mungkin Saudara-Saudariku menghadapi permasalahan dalam kehidupanmu, Saudara-Saudariku Jangan Takut, tidak usah lari, kita masih bisa mendapatkan kedamaian dan harapan Tenteram. Bila kita Berani Memutuskan dan Menentukannya dengan IMAN. Bukan dengan Imron... He he he . . . Edan Pora..?!

SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  SAUDARA-SAUDARI  SAYA  SEMUANYA TANPA TERKECUALI... SEMOGA POSTINGAN SAYA  KALI  INI. BISA  DI AMBIL HIQMAHNYA . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com
Posting Komentar