"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Rabu, 30 September 2015

WEJANGAN dari WONG EDAN BAGU YANG KETIGA. TENTANG WAHYU PANCA GHA’IB. DIDALAM LAKU SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP:

WEJANGAN dari WONG EDAN BAGU YANG KETIGA.
TENTANG WAHYU PANCA GHA’IB.
DIDALAM LAKU SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP:
Jawa Dwipa Hari Kamis kliwon. Tgl 08 Oktober 2015

Salam Rahayu… hayu memayu hayuning karahayon kanti teguh slamet berkah sukses selalu dari saya, Wong Edan Bagu, untukmu sekalian Para Kadhang Kinasih saya khusunya, dan saudara serta saudari saya sekalian pada umumnya, yang senantiasa di Ridhai Allah Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu …. Wejangan ini, merupakan Wejangan lanjutan tentang WEJANGAN dari WONG EDAN BAGU YANG KEDUA. TENTANG WAHYU PANCA GHA’IB DAN KHUTBAH TERAKHIR RASULULLAH SALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM;
Di Jawa Dwipa Hari Selasa pon. Tgl 06 Oktober yang Lalu.

WAHYU PANCA GHA’IB:
Wahyu Panca Gha’ib, itu bukan agama, bukan kepercaya’an, juga bukan kejawen, bukan organisasi, bukan golongan, bukan partai, juga bukan perguruan atau kebatinan dll. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Jalan untuk menuju pulang kerumah, bagi setiap mahkluk Hidup yang memiliki wujud tanpa terkecuali. Wahyu Panca Gha’ib adalah Sarana untuk kembali pada Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi (asal terjadinya mahkluk) tanpa terkecuali. Karena itu tersebut Wahyu Panca Ga’ib.

Wahyu itu berati Pemberian Hyang Maha Suci Hidup. Panca itu Berati Lima, Ga’ib itu berati Hidup/Suci. Yang maksudnya… LIMA  PEMBERIAN  HYANG  MAHA SUCI  HIDUP. Satu yang bersabda, yaitu Hidup, dan empat yang merupakan Sabdanya Hidup. Terurai. Kunci. Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir. Yang mejadi Pokok Penting di dalam Wahyu Panca Ga’ib, adalah Kunci, karena yang empatnya adalah sebatas Sabda-Nya. Sedang Kunci adalah yang Bersabda. Walaupun yang empatnya hanya sebatas Sabda-Nya, bukan berati tidak penting, semuanya salin berkaitan, namun penentunya adalah Kunci. Itu saja…  

Seperti didalam pembelajaran Lakon Ilmu, yang lebih kita kenal dengan istilah Sedulur Papat Kalima Pancer, yang terpenting adalah Pancernya, bukan sedulur papatnya, tanpa sedulur papat, pancer tetap pancer, tapi tanpa pancer, sedulur papat tak bisa berbuat apa-apa. Dengan pancer saja, sedulur papat bisanya hanya ngercoki, apa lagi tanpa pancer, seperti perumpama’an sebuah kereta kencana, yang di tarik oleh empat ekor kuda, jika tanpa kusir, coba pikirkan, apa yang akan terjadi dengan kereta tersebut, begitulah jika sedulur papat tanpa pancer, begitupun juga dengan Wahyu Panca Ga’ib, jika tanpa Kunci, Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir, bukanlah apa-apa. Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir bergantung pada Kunci nya, jika Kuncinya benar dan tepat, maka Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir sudah pasti joss gandos. Artinya, Kunci adalah penentu pokoknya. Oleh sebab itu, dalam wejangan ini, Kunci yang akan saya wedarkan sesuai pengalaman yang saya dapatkan di TKP. Berikut ini, liputanya… He he he . . . Edan Tenan.

KUNCI:
Apa itu Kunci?
KUNCI itu Lakon Gelar dan Laku Gulung.  KU itu Kumpul. N itu Nunggal. CI itu Suci. Jika di gabung, menjadi. Kumpul Nunggal Suci. Kumpul Nunggal Suci itulah Kunci.
Apanya yang Kumpul?
Angan-angan nya, budi pakarti nya, panca indera nya.
Apanya yang Nunggal?
Sedulur papat nya, lakon laku, gelar gulung nya.
Apanya yang Suci?
Ya pasti Hidup to… He he he . . . Edan tenan. Suci itu Hidup. Hidup Itu Suci. Suci itu bukan bentuk dan warna. Suci itu Hidup/Gha’ib. sebab itu, Kunci Tidak Boleh di robah ubah, tidak bisa di kurangi atau di tambahi, karena merobah Kunci, sama halnya merobah Hidup, emang kita apa dan siapa, kok merubah Hidup itu… yang punya wewenang dan kuasa atas Hidup itu, ya Hyang Maha Suci Hidup. Bukan yang lainnya. 

Kenapa Kunci Harus di baca ping pitu?
Kunci di baca ping pitu. Maksudnya… PIT itu Kejepit/Terhimpit. TU itu Metu/Keluar.
Apanya yang kejepit/Terhimpit?
Lahir bathinya (gelar/gulungnya) yang Kejepit/Terhimpit.
Apanya yang Metu/Keluar?
Rasanya yang Metu/Keluar
Rasa Apa?
Rasa Tenteram… Nya. Karena jika Kunci nya sudah di baca ping pitu dengan benar dan tepat, pasti tau dan mengerti serta paham, bahwa tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi tanpa kehendak Hyang Maha Suci Hidup. Inna Lillaahi Wa Inna Illayhi Raoji’un. Semua dan segalanya milik Hyang Maha Suci Hidup, maka, rela tidak rela, mau tidak mau, harus kembali hanya kepadaNya. Bukan ke yang lain selainNya. Sehingganya. Dengan mengetahuinya. Dengan mengerti dan memahaminya. Yang ada hanya TENTERAM. Tidak ada apa-apa. Apa-apa tidak ada… He he he . . . Edan Tenan.

Kumpul Nunggal Suci. Artinya Menyatukan angan-angan, budi pakarti dan panca indera alias sedulur papat, Menyatukan atau memanunggalkan angan-angan, budi pakarti dan panca indera alias sedulur papat. Itu bukan hal yang sepele, sejak lahir hingga gede tua ini, kita sudah terbiasa menggunakan angan-angan, budi pakarti dan panca indera, hingga menjadi dogma yang melekat jiwa raga, dan sangat kita sukai walau diluar kesadaran kita. Berhenti untuk itu. He he he . . . Edan tenan, tidak gampang brow… tak semudah membalikan telapak tangan. Mak grembyang.

Artinya, sudah pasti kita akan menghadapi seratus rintangan, sudah jelas kita akan mengalami seribu halangan, melewati sejuta goda’an serta perlu dan butuh miliyaran yang harus di korbankan. Maka,,, sedih, sakit, perih,  karena rintangan dan halangan serta goda’an pless pengorbanan itu, sudah menjadi hukum alam yang tidak bisa di hindari. 

Dan… Sedih… Sakit… Perih serta semua penderita’an itulah jepitan/himpitan kita, jalan kita, jembatan kita, tangga kita, batu loncatan kita, maka,,, bacalah, hayatilah, pelajarilah… Rasakan tekannya. Rasakan himpitannya. Rasakan… Rasakan dan terus Rasakan endingnya hingga mentog, ngenox ke sungsum, jika sudah mentog, pasti metu/keluar, Mijil/klimax Rasanya/Tenteramnya, Plongggg…. Legaaaaaa… Bombongggg… Mak nyuss TENTERAM.
Seperti dikala kita mengeluarkan mani sa’at bercinta dengan pasangan terkasih. Namun sayang, kita hanya bisa mengeluarkan Rasa itu di sa’at IMRONnya saja yang terjepit, tapi dikala IMANnya yang terjepit,  lahir batinnya yang terhimpit, malah lari ke dukun dan kiyai, parah lo brow…

Gusti Ingkang Moho Suci.
Apa itu Gusti Ingkang Moho Suci?
Gusti, itu berati, Rasa Sejati.
Sedangkan Maha Suci, itu berati, Sejatinya Rasa.
Dengan maksud tersebut, berati, Gusti Ingkang Moho Suci.
Itu, adalah, Rasa Sejati, Sejatinya Rasa.

Rasa Sejati Sejatinya Rasa itu apa?
Rasa Sejati itu Hidup, sedangkan Sejatinya Rasa, itu Maha Suci Hidup.
Berati, makna lebih dalamnya lagi, Gusti Ingkang Moho Suci, itu.
Maksudnya adalah, Hidup yang berhubungan langsung dengan Hyang Maha Suci Hidup.
Salin terhubung dan terkait serta tidak bisa di pisahkan. Seperti siang dan malam, seperti langit dan bumi, seperti matahari dan bulan dan seterusnya.

Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci.
Apa itu Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci?
Kulo, itu berati, aku, aku itu roh.
roh itu, angan-angan, budi, pakarti dan panca indera.
Atau tersebut sedulur papat, kalau didalam istilah lakon ilmu, itulah aku.
Nyuwun Pangapuro Dumateng.
Artinya, aku meminta pengampunan kepada.
Gusti Ingkang Moho suci.
Berati, rasa sejati sejatinya rasa.
Maksudnya, aku memohon pengampunan kepada Rasa Sejati Sejatinya Rasa.

Kenapa aku harus memohon pengampunan kepada Rasa Sejati Sejatinya Rasa?
Aku atau roh atau angan-angan, budi, pakarti dan panca indera atau sedulur papat, itu tidak memiliki wewenang apapun atas semuanya tentang raga/wujud ini, tidak punya kuasa apapun soal raga/wujud ini, yang memiliki wewenang dan kuasa atas raga/wujud ini, adalah Rasa Sejati/Hidup atas Firman Hyang Maha Suci Hidup.

Namun, yang namanya aku atau roh atau angan-angan, budi, pakarti dan panca indera atau sedulur papat, telah mengambil alih wewenang dan kekuasa’an Rasa Sejati/Hidup, dengan segala dalil dan dalih, sejak awal membuka mata. Telingan, hidung dan mulut ketika masih dipangkuan kedua orang tua, sejak itulah, yang namanya aku atau roh atau angan-angan, budi, pakarti dan panca indera atau sedulur papat, telah mengambil alih wewenang dan kekuasa’an Rasa Sejati/Hidup, seakan-akan iya-iya’a. padahal dusta dan palsu belaka, buktinya, tidak satupun raga/wujud bisa menggapai kemerdeka’an dan menggenggam tenteram yang sempurna’an, apapun caranya, berhayal itu dan ini, tapi nyatanya pusing, membayangkan itu dan ini tapi akhirnya kecewa dan sedih. Seakan-akan, seandainya, andai kata, seumpamanya dll, bahkan sampai ke soal Tuhan, di bayangkan dan kira-kira menurut rancangan dan selera kebiasa’annya.

Karena itulah, apapun alasannya, aku harus segera memohon ampunan kepada Hidup, sebelum terlambat, karena jika sampai terlambat, keburu Hidup menunjukan wewenang dan kuasanya, maka, sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi, untuk itu, selagi Hidup masih menempati raga/wujud, yang berati belum berontak/menuntut balas, sesegera mungkin, aku memohon pengampunan kepada Hidup. Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci.
Jika aku sudah memohon pengampunan kepada Hidup, maka, Hidup akan memohonkan ampunan pula kepada Hyang Maha Suci Hidup, karena hanya Hidup yang bisa menghadap kepada Hyang Maha Suci Hidup, bukan ilmu atau amal ibadah apalagi harta benda dan pahala serta tetek bengeknya.

Sirolah Datolah Sipatolah.
Apa itu Sirolah Datolah Sipatolah?
Sir itu Angan-angan. Dat itu budi dan pakarti. Sipat itu panca indera. Lah itu iqro/bacalah.
Arti lebih dalamnya, Sir Dat Sipat itu, adalah angan-angan, budi, pakarti dan panca indera, atau sedulur papat (roh). Maksudnya… Bacalah angan-angan budi pakarti dan panca indera mu, pelajari, lah, di olah maksudnya, jangan asal sejare dewek se’enaknya udelmu, baca, pelajari gelar gulungnya, di olah, agar kamu tau, mengerti, paham, kalau kita tau dan mengerti serta paham, angan-angan, budi pakarti dan panca indera mu, tidak akan mempermainkanmu, tidak akan menipumu, tidak akan menyiksamu, kita akan bisa mengendalikannya, menguasainya, bahkan memerintahnya sebagai alat/sarana di dalam berlakon dan berlaku, karena memang itulah tugas mereka, angan-angan, budi pakarti dan panca indera alias sedulur papat itu, memang sengaja di berikan oleh Hyang Maha Suci Hidup kepada kita, sebagai Sahabat, sebagai sarana, sebagai alat, bukan sebagai penguasa yang memperbudak kita. Ngono lo maksude… He he he . . . Edan Tenan.

Kulo Sejatine Sateriyo.
Apa itu Kulo Sejatine Sateriyo?
Seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Kulo itu, adalah aku.
La kalau Sejatine Sateriyo?
Sejatine itu, Benar, kalau Sateriyo, Sat, itu asat/kering, riyo itu, nderiyo, maksudnya, Panca Indera. Jadi, Kulo Sejatine Sateriyo itu, arti dan maksudnya adalah, aku yang benar telah asat/kering panca inderanya, maksudnya, sudah tidak dikuasai lagi oleh angan-angan, budi pakarti dan panca indera. Maksud dan arti yang lebih dalamnya lagi, siapapun itu, jika sudah tidak di kuasai lagi oleh angan-angan, budi pakarti dan panca indera nya lagi, alias bisa menguasai sedulur papatnya sendiri, berati dia itu adalah Sejatine Sateriyo. Bila belum, ya belum Sejatine Sateriyo, masih oblog owog… He he he . . . Edan Tenan. Manusia wantah maksudnya.

Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso.
Apa itu Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso?
Wicaksono itu Berkah/Tidak sia-sia, sedang Panguwoso itu Ridha/Ijin. Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso, berati Mohon Berkah dan mohon Ridha.

Jika seseorang telah menguasai sedulur papatnya, alias sudah tidak lagi di perbudak oleh angan-angan, budi pakarti dan panca inderanya, Hidup akan menempati wujud/raganya sesuai FirmaNYA, dan Hidup yang menempati raga/wujudnya itu, akan menjadi penguasa tunggal atas dirinya, akan menjadi guru dan penanggung jawab atas diri pribadinya mulai di dunia hingga akherat, dan Hidup hanya memiliki dua pemohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, yaitu Wicaksono dan Panguwoso, Berkah dan Ridha, Berkah untuk wujud/raga yang di tempatinya, Ridha untuk Sedulur Papat yang telah menjadi abdinya.

Kangge Tumindake Sateriyo Sejati.
Apa itu Kangge Tumindake Sateriyo Sejati?
Kangge itu, Untuk/Buat. Tumindak itu, gerak geriknya wujud/raga (obah polahe rogo) Sateriyo Sejati adalah, aku yang sebenarnya/sesungguhnya. Artinya, Kangge Tumindake Sateriyo Sejati itu, maksudnya, untuk gerak gerik nya aku yang sebenarnya. Bukan aku-akuan, tapi aku yang sebenarnya, yaitu sedulur papat yang telah mengabdi kepada Hidup, sesuai kodrat irodzat yang telah di FirmankanNYA.  Jadi,,, Berkah dan Ridha, yang di mohonkan oleh Hidup tadi, Berkah nya teruntuk wujud/raga terkasih, Ridha nya teruntuk Sedulur Papat tersayangnya sendiri.

Supaya tidak mbalelo lagi, tidak murtad lagi, tidak sragal srugul lagi, yang berakibat menyiksa wujud/raga, supaya tidak selalu bangga menyiptakan ketidak nyamanan, ketidak tenangan, ketidak enakan dll, agar selalu setia tuhu pada Sang Pemimpin sebenarnya, yaitu Hidupnya. Karena itu, uni/bunyi terakhir Kunci. Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindak Ingkang  Luput. Luput itu, semua tingkah lakon dan laku yang menciderai wujud/raga, gerak dan gerik (perbuatan) yang menyiptakan tidak enak untuk sang wujud/raga. 

Sekali lagi saya ulangi. Ingat…!!! Wahyu Panca Gha’ib, itu bukan agama, bukan kepercaya’an, juga bukan kejawen, bukan organisasi, bukan golongan, bukan partai, juga bukan perguruan atau kebatinan dll. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Jalan untuk menuju pulang kerumah bagi setiap mahkluk Hidup yang memiliki wujud tanpa terkecuali. Wahyu Panca Gha’ib adalah Sarana untuk kembali pada Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi (asal terjadinya semua mahkluk) tanpa terkecuali.

Mengapa Hyang Maha Suci Hidup mewahyukan Wahyu Panca Ga’ib?
Karena sudah terlalu banyak yang tersesat, neraka sudah penuh, sorga sudah mbludag… Wahahahahhaha… Edan Tenan.

Inna lillaahi wa inna illayhi roji’un, semuanya, segalanya, mau yang nyata maupun yang tidak nyata, adalah milik Hyang Maha Suci Hidup, dan akan kembali hanya kepdaNya saja, bukan ke yang lain selainNya.

Sudah terlalu banyak jalan dan cara yang di Wahyukan Hyang Maha Suci Hidup, kepada semua mahkluknya, sejak jaman Para Nabi hingga jaman Para Wali, mulai dari agama sampai ilmu kepercaya’an, namun apa yang terjadi, nyaris tidak ada yang mau dan ingin kembali ke Asal Usul Terjadinya/Terciptanya. Dengan agama mereka berlomba, menumpuk pahala, bersaing, bahkan bertanding antar sesame agama, untuk berhasil sukses mendapatkan surga, dengan ilmu kepercaya’an, mereka mempertaruhkan jiwa raga hingga keluarganya, hanya demi untuk bisa moksa atau reinkarnasi, naudzu billaahi mindaliq, pada mengaku pintar dan pandai serta mumpuni, tapi Inna lillaahi wa inna illayhi roji’un saja, tidak tau apa maksudnya.

Padahal Hyang Maha Suci Hidup Sudah memperingatkan dengan sangat keras, tegas dan jelas. Bahwa kelak di akhir jaman, semua akan dihancurkan. Dan mereka lebih memilih hancur dengan semuanya itu, dari pada kembali ke rahmatullah. Karena itu Wahyu Panca Ga’ib di Wahyukan, untuk itu Wahyu Panca Ga’ib di Turunkan sebagai sarana untuk kembali kepadaNya, bagi siapapun yang mau, tidak peduli apapun suku dan rasnya, tidak peduli agama atau adatnya, tidak peduli latar belakang atau statusnya, jika ingin kembali  ke Asal Usul Sangkan Paran Dumadining Mahkluk/Manusia. Ya Hanya Wahyu Panca Ga’ib lah jalannya, hanya Wahyu Panca Ga’ib lah Caranya. TITIK.

Caranya bagaimana?
Caranya Laku Patrap/Semedi Kunci. Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir.
Jalanya?
Jalanya Lakon Kekadhangan dengan Iman yang benar dan tepat.
Iman yang benar dan tepat itu, iman yang bagainama?
Iman yang benar dan tepat itu, iman yang tidak berada di dalam kotak-kotak agama/kepercaya’an dan tidak berada di bawah naungan kibar bendera partai/politik apapun.

Saya ulangi lagi. Ingat…!!! Caranya Laku Patrap/Semedi Kunci. Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir. Jalannya Lakon Kekadhangan dengan Iman yang benar dan tepat. Jika keduanya ini sudah di lakukan. DIJAMIN. Sempurna mulai dari dirinya sendiri, hingga sampai tujuh keturunannya kenan-kekiri, kedepan-kebelakang, keatas dan kebawah bapak dan ibunya. He he he . . . Edan Pora. Kurang opo jal? Sebegitu kasihnya Hyang Maha Suci Hidup terhadap mahkluknya, kenapa tidak mau,,, kenapa malah nyari yang mustahil/katanya, mengapa malah mempersulit sendiri, goblog,,, glubrag, klotak, hehe, pret, kepentut aku rek.

Itulah sekelumit pemehaman dasar dari saya tentang Wahyu Panca Ga’ib, ingat, itu baru dasarnya, belum dalamnya, baru sekelumitnya, belum keseluruhannya, itu baru kulitnya, belum ke otot, daging, tulang, sumsum dan seterusnya. He he he . . . Edan Tenan.

Selanjutnya tentang dan soal semua mahkluk sebelum kedunia, sesudah di dunia dan setelah di dunia ini. Ada tiga Proses Hidup didalam kehidupan ini, yang harus di jalani dan jalankan serta di mainkan, bak peran diatas panggung sandiwara, oleh setiap mahkluk tanpa terkecuali, di sadari atau tidak di sadari, mau atau tidak mau, tiga Proses Hidup yang sudah menjadi Firman/Perintah Hyang Maha Suci Hidup ini, harus terjadi sesuai FirmanNya.

Apakah tiga Proses Hidup didalam kehidupan itu?
Pertama, adalah Proses sebelum kedunia, ketika masih berada didalam goa garba/kandungan  sang ibunda. Namanya; Lakon Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.
Kedua, adalah Proses sesudah di dunia, ketika sudah lahir dari Rahim sang ibunda. Namanya; Lakon Manunggaling Kawula Gusti.
Ketiga, adalah setelah di dunia ini, ketika Hidup lepas meninggalkan wujud/raga alias mati bin isdet. Namanya; Lakon Sangkan Paraning Dumadi.

Panggung Sandiwara Dengan Judul/Lakon.
Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.
Semua mahkluk, khususnya manusia, sebelum di lahirkan di dunia ini, semuanya dan segalanya sudah di tentukan dan di pastikan, oleh Hyang Maha Suci Hidup, dengan sebuah perjanjian kontrak, bahwa sanggup iya, akan menjalani dan menjalankan peran sebagaimana yang telah di tentukan dan di pastikan atasnya tersebut. Agar tidak lupa, buku catatan peran itupun, disertakannya, nanti, ketika kamu naik panggung, catatan yang memuat adegan yang harus kamu perankan itu, mulai berlaku, jika adegannya mencuri, harus di extingkan dengan baik, jika adegannya ngesek, ya harus di extingkan dengan baik, kalau adegannya nipu dll, pokoknya harus di extingkan sebaik mungkin, agar penonton ngefen sama kamu, karena semakin banyak yang ngefen, semakin terkenalah kamu, makin laris job orderanya, ingat,,, diatas panggung, umurmu sekian tahun, kamu harus begini dan harus begitu dan bla… bla… bla… setelah peranmu selesai, tahun segitu, bulan segitu, hari itu, tanggal itu, jam segitu, di tempat itu, sambil begitu-gitu, bla… bla… bla… kamu akan menerima honor, dan honor itu harus kamu gunakan untuk ongkos pulang. Paham? Kata si suteradara.  Paham boss suteradara,,, jawab di bintang fillm nya. he he he , , , Edan tenan.

Terlalu banyak tulisan/artikel ilmu pengertian yang mengungkap tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Dengan masing-masing kepentingannya, namun intinya sama, yaitu tentang sebelum hidup dan sesudah hidup yang di perjanjikan antara Hidup dan Hyang Maha Suci Hidup. Ketika dalam perjalanan dari ga’ib menuju kasunyatan. Bukan soal dan tentang ilmu kesaktian dan jaya kawijayan. Tapi soal lakon nggelar dan laku nggulung, tentang lakon laku dari dalam keluar dalam.

Dengan Pemahaman diatas, artinya, apapun yang dialami, bagaimanapun yang kita lakukan, itu semuanya adalah merupakan penggenapan dari kitab tanpa tulis yang isinya adalah suratan peran/adegan kita yang harus kita mainkan, sesuai firmanNya . Bukan kehendak kita, ini disadari atau tidak di sadari lo, mau tidak mau, disinilah letak berlakunya “ Tidak selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendakNya” artinya, semua adalah kehendak Hyang Maha Suci Hidup, sudah menjadi sekenarioNya. Rencana… Nya. Kita hanya sekedar menjalankan/memainkannya saja. Yang namanya bintang sinetron/film, jika cara memainkan adegan/peran, bagus,,, selain honor/gaji, ya pasti akan dapat bonus, dan jika ada sothing lagi, ya kepakai lagi, hingga menjadi Bintang terkenal dan ternama. Bukan begitu mas/mbak brow… He he he . . . Edan Tenan.

Panggung Sandiwara Dengan Judul/Lakon.
Manunggaling Kawula Gusti.
Setelah Peran dan Adegannya hapal dan siap exsen, maka, lahirlah kita ke dunia ini, untuk bermain sandiwara sebagai bintang film/sinetron, dengan semua peran dan adegan yang sudah dihapal dalam buku exting tadi. Lalu mulailah bersandiwara dengan Lakon Manunggaling Kawula Gusti. Inilah peran yang harus kita mainkan sebagai bintang, diatas panggung, terserah mau menggunakan cara/sistem exting bagaimana, yang penting edegannya adalah Manunggaling Kawula Gusti. 

Terlalu banyak tulisan/artikel ilmu pengertian yang mengungkap tentang Manunggaling Kawula Gusti. Dengan masing-masing kepentingannya, namun intinya sama, yaitu tentang Pengenalan Diri Pribadi, Tentang bersatunya anga-angan, budi pakarti dan panca indera. Soal penyatuan/manunggalnya sedulur papat kalima pancer, dalam mencapai kesejatian dan meraih kebenaran yang sebenarnya. Bab Kehidupan dan Hidup yang tidak bisa lepas dari Hyang Maha Suci Hidup, sesudah menjadi penghuni dunia ini. Jadi, intinya, Manunggaling Kawula Gusti itu, bukan tentang bertemunya manusia dengan sang Pencipta semesta, bukan soal manunggal/menyatu dan bersatunya Mahkluk Dengan Tuhan. Tapi tentang bersatunya angan-angan, budi pakarti dan panca indera, soal menyatunya sedulur papat kalima pancer, angan-angan, budi pakarti dan panca indera (sedulur papat) itu kawulanya. Hidup/Roh Suci itu sebagai Gusti/Tuannya. 

Panggung Sandiwara Dengan Judul/Lakon.
Sangkan Paraning Dumadi.
Terlalu banyak tulisan/artikel ilmu pengertian yang mengungkap tentang Sangkan Paraning Dumadi. Dengan masing-masing kepentingannya, namun intinya sama, yaitu tentang kembalinya, jiwa raga, lahir batin, gelar gulung, dunia akherat kepada yang empunya, dengan sempurna, maksudnya sesuai dengan Firman Hyang Maha Suci Hidup yang telah tertuliskan sejak awal kejadiannya. Jadi… Sangkan Paraning Dumadi itu, bukan ilmu laduni atau ngaweruhi isi sajeroning winarah, tapi lakon tentang kembalinya yang terbuat kepada yang membuat.

Setelah sandiwara tamat, adegan dan exting dalam perannya selesai, sedulur papat kalima pancernya sudah manunggal menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan lagi, maka,,, dengan bekal tersebut, kita akan pulang kampung, kembali ke rumah. Dimana kita di lahirkan dan di besarkan. Dibentuk dan diciptakan. Karena jika angan-angan, budi pakarti dan panca indera alias sedulur papat sudah menyatu dengan pancernya, kawula dan gusti sudah bertemu dan bersatu, akan terbentang sebuah jalan, akan Nampak terlihat jelas, alamat tujuan dan tempat yang akan kita datangi. Dan Sangkan Paraning Dumadi, dimulai. Yang berasal dari Suci, akan kembali kepada Suci, menjadi Suci kembali. Yang asalnya dari air akan kembali ke air dan menjadi air kembali. Yang asalnya dari angin, akan kembali ke angin, menjadi angin kembali. Yang asalnya dari api, akan kembali ke api, menjadi api kembali. Yang asalnya dari sari-sarinya bumi, akan kembali ke sari-sarinya bumi, menjadi sari-sarinya bumi kembali. Yang berasal dari Hidup, akan kembali kepada Hidup, menjadi Hidup kembali. dan selesailah sudah semua dan segala Proses Lakon dan Laku, jiwa raga, lahir batin, gelar gulung, dunia akherat, bersih tanpa bekas dan berkas apapun. “SEMPURNA” Tamat. 

Ketiga Proses Hidup didalam kehidupan yang harus kita mainkan itu tadi dan tidak bisa di tolak serta di hindari oleh siapapun itu, hanya bisa di peragakan dengan Wahyu Panca Ga’ib, hanya bisa di perankan dengan Laku Patrap Kunci dan Lakon Kekadhangan. Selain itu, tidak akan bisa, maksudnya tidak akan sesuai dengan Firmannya, dapat di pastikan mlesed, tidak tepat, sudah terlalu banyak bukti-bukti yang telah menceritakan kegagalannya, kemlesedanya. Dan saya tidak perlu menceritakannya disini, silahkan di trawang sendiri, ada berapa banyak para tokoh dan pinisepuh yang patah dan tumbang disoal Harta Tahta Wanita. Itu bukan di karenakan agama atau kepercaya’an atau ilmunya yang kurang hebat, tapi karena mengira dan menganggap bahwa Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu adalah Ajian untuk meraih Harta. karena mengira dan menganggap bahwa Manunggaling Kawula Gusti itu adalah Ajian untuk meraih Tahta. karena mengira dan menganggap bahwa Sangkan Paraning Dumadi itu adalah Ajian untuk meraih Wanita.

Anggapan-anggapan itu muncul di karenakan, angan-angan, budi pakarti dan panca inderanya, alias sedulur papatnya, gentayangan, tidak bersatu, tidak menyatu, tidak manunggalkan, jadi, isinya hanya kira-kira, mbok menawen, siapa tau, sapa ngerti, muda-mudahan dan bla… bla… bla… nggedebus lainnya. Jangankan iman, beriman saja, susahnya udzubillaah.

Pelajaran Tentang dan Soal  Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dan Manunggaling Kawula Gusti serta Sangkan Paraning Dumadi yang sebenarnya, itu hanya ada di dalam Wahyu Panca Ga’ib. selain Wahyu Panca Ga’ib, isine mung angen-angen thok. Kira-kira dan katanya. Tidak ada iyanya. Tidak ada pastinya. Apa lagi benarnya. Buss nggedebus. Tidak percaya…?! Temui saya. Dan saya akan memberikan Bukti. Bukan janji katanya.

Caranya sangat…9x amat sederhana, tidak ribet tidak sulit dan tidak rumit. Tidak pakai puasa atau bertapa, tidak ada uberampe dan ritual apapun, tidak harus itu dan ini serta bla… bla… bla… tetek bengek lainnya, yang memusingkan kepala. Cukup Laku Patrap Kunci. Paweling. Asmo. Mijil. Singkir dan Lakon Kekadhangan. Dengan iman. Gampang kan…. He he he . . . Edan tenan.

Tapi…. Jangan nggampangake ya, jangan menggampangkan, kalau Soal Patrap Kunci. Paweling. Asmo. Mijil. Singkir, siapapun orangnya, dijamin pasti bisa dan sanggup. Tapi tentang Lakon Kekadhangan dengan iman, tidak semudah membalikan telapak tangan, wolak walik nggrembyang. Tidak…!!!

Karena untuk Lakon Kekadhangan, siapapun dia, butuh tekad yang kuat, perlu pengorbanan yang hebat. Bagaimana tidak, kita sudah terbiasa dengan menggunakan  angan-angan, budi pakarti dan panca indera, dalam lakon Kekadhang, kita tidak di bolehkan menggunakan angan-angan, budi pakarti dan panca indera,  harus Rasa yang di gunakan, bukan perasa’an, dan ini harus di latih secara terus menerus dengan cara Kekadhangan, kita sudah terlanjur hobi dan suka mengumbar sedulur papat, didalam Kekadhangan kita harus menggunakan Hidup/Guru Sejati. Timindak apa bae kinantenan sarwa mijil, yang artinya, samubarang tumindak obah lan polah, nganggo Roso, menggunakan Rasa. Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci. Maksudnya, apapun itu alasannya, kita hanya boleh menggunakan kuasa Hidup, bukan kuasa sedulur papat.  Disaat Kadhangan, apapun cara dan system yang dimiliki, digunakan untuk menyatukan angan-angan, budi pakarti, panca indera, di manfaatkan untuk memanunggalkan sedulur papat dengan pancernya. Jeneg, tetep idep madep mantep tak tergoyahkan, bagi yang masih awal, yang belum biasa, in bukan hal yang mudah dan sepele kan… He he he . . . Edan Tenan.

Tapi jika berani dan bisa, di jamin, dalam hitungan detik Hyang Maha Suci Hidup, akan memberikan bukti kesaksian secara langsung, tidak melalui utusan perantaranya. Tidak percaya…?! Buktikan. Datang Temui saya dimanapun saya berada. Akan saya beri Bukti. Bukan janji katanya. He he he . . . Edan Tenan.

Disinilah letak penting dan istimewanya Kadhangan, tidak semuanya bisa melakukan dan sanggup menjalaninya, karena Kadhangan, adalah Lakon Manunggal. Manunggaling Lakon. Lakon manunggalake Sedulur papat dengan Pancernya, supaya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kekadhangan adalah Manunggalake Lakone angan-angan, budi pakarti, panca indera, agar wujud/raga kita bisa jeneg, tetep idep madep mantep dalam satu kesatuan berbicara keTuhanan secara jiwa raga, lahir batin, gelar gulung dunia akherat. Hanya pilihanlah yang bisa. Karena untuk Kekadhangan, kita harus meninggalkan dan mengabaikan banyak hal, menunda kepentingan, menunda peluk cium mesrah dengan anak dan istri dll. Karena itu, Lakon Kadhangan di cap sebagai penentu Laku Patrap Kunci, jika Kekadhangan nya benar dan tepat, artinya berhasil sukses dari awal hingga akhirnya bisa manunggal sedulur papatnya dengan pancer, sudah pansti Laku Patap Kunci nya Joss tenan.  Tapi jika Kadhangan nya mbel gedes, ya Laku Patrap Kunci nya, mumet, capek, pusing, jengkelnya sama nyamuk, nyalahin ngatuk, apa hubungannya nyamuk sama ngantuk dengan Laku Patrap Kunci…Heeemmmmmm… bahkan bisa jadi, karena saking mumetnya, bisa melihat pocong dan suzana lo…  He he he . . . Edan tenan.

KESIMPULANYA:
Siapapun Anda… Bagaimanapun Anda. Jika ingin sukses berhasil dan sempurna dunia akherat. Hanya Wahyu Panca Ga’ib Jalannya. Cuma Laku Patrap Kunci dan Lakon Kekadhangan Caranya. SelainNya… Tangeh Lamun Jeneng Siro Bakal Tumekan Ngger, Lamun Tan Wikan Maring Kunci nepun. . . He he he . . . Edan Tenan.

Diatas Itulah Tadi Tentang dan Soal WEJANGAN  WAHYU  PANCA  GHA’IB
DIDALAM  LAKU  SPIRITUAL  HAKIKAT  HIDUP. Menurut Hasli Pembuktian saya Di TKP. Tentang semuanya dan soal segalanya yang tersebut diatas, tidak ada yang saya tutup-tutupi dan saya muatin kepentingan pribadi saya. Monggo di Renungkan, jangan di bayangkan, nanti musmet kalau di bayangkan, karena bena itu nyata, bukan katanya, bukan juga bayangan, nyata-nyata-nyata. Semuanya… Segalanya… saya Wejangan secara blak kotak, apa adanya, bahasanya pun bahasa sederhana dan sepele, tidak pakai ribet dan ber belit-belit, jad, pasti pada paham dan mengerti semuanya. Sungguh terlalu jika ada yang tidak mengerti dan paham apa arah dan maksud saya, ya pakai bahasa manusia, bukan bahasa hewan atau mafia atau politikus. Tidak ada katanya, semua sesuai dengan bukti yang saya dapatkan di TKP… Bagi yang penasaran dan ingin bukti, silahkan temui saya secara langsung, saya akan membimbing siapapun Anda, apapun agama Anda dan bagaimanapun latar belakang Anda. Saya jamin dengan bukti. Bukan janji. Ini salah satu bukti dari saya, untuk Anda-Anda sekalian, sesungguhnya, Gha’ib itu tidak ada, semua dan segalanya itu nyata-nyata ada. Tuhan itu bukan Gha’ib. Tuhan itu nyata-nyata ada. Tidak Percaya…?! Mau Bukti…!!! Temui saya dan akan saya berikan Buktinya. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA  KALI  INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Minggu, 27 September 2015

Tentang Olah Laku Spiritual dan Soal Lakon Kebatinan:

Tentang Olah Laku Spiritual dan Soal Lakon Kebatinan:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari rabu kliwon. Tgl 23. September 2015

Pengertian Umum Olah Laku Spiritual.
Sama dengan istilah kebatinan yang pada masa sekarang sudah banyak terjadi kesalah pahaman orang tentang artinya, begitu juga dengan laku spiritual dan lakon spiritualitas.

Lakon meditasi adalah salah satu bentuk lakon yang banyak dijalani oleh orang-orang di dunia spiritual, tetapi karena kesalah pahaman orang kemudian dianggap kalau ia ingin belajar spiritual maka ia harus latihan meditasi, dan kalau orang sudah latihan meditasi dianggap ia sudah menekuni olah spiritual.

Tapi sebenarnya spiritual dan olah spiritual lebih dari sekedar itu. Meditasi saja tidak cukup untuk orang dianggap sudah latihan spiritual. Dan jangan dianggap bahwa jika kita sudah latihan meditasi maka berarti kita juga sudah latihan spiritual. Meditasi saja tidak cukup signifikan menambah spiritualitas kita. Bahkan seorang master ahli meditasi sekalipun, belum tentu ia memiliki spiritualitas yang tinggi dan benar.

Laku spiritual berkaitan dengan pengolahan kekuatan olah spiritual manusia, olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang gaib secara spiritual, asal-usul tentang sesuatu, kejadian-kejadian pada masa lalu atau kejadian-kejadian yang akan datang, sampai olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang tidak tampak mata dan berdimensi gaib tinggi.

Dalam mempelajari sesuatu, di dalam olah spiritual, orang akan mempelajari dan dapat mencapai pengetahuan tentang sesuatu bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi juga dapat sampai kepada hakekatnya (aspek filosofis dan kesejatian dari sesuatu tersebut).

Lakon Spiritualitas adalah mengenai segala sesuatu pengetahuan yang dengan laku spiritualnya pengetahuan itu berhasil dipahami atau orangnya bisa menemukan sendiri kebenarannya (bukan karena diberitahu atau katanya apapun itu).

Spiritualitas tidak sama dengan pengetahuan yang dimiliki/didapatkan seseorang dari suatu sumber atau dengan ia mendalami suatu ilmu/pengetahuan. Itu hanya sebanding dengan pengetahuan dan kebijaksanaan saja. Spiritualitas adalah pengetahuan dan kesadaran yang didapatkan oleh seseorang dengan ia menjalani sendiri olah laku spiritual yang dengan lakunya itu orangnya bisa sendiri menemukan kebenarannya, tidak pakai/menggunakan katanya guru/kiyai/kitab dll.

Apa saja yang menjadi isi spiritualitas seseorang adalah apa saja objek spiritual/pengetahuan yang menjadi interest orang itu yang ditindaklanjutinya sendiri dengan laku spiritualnya. Spiritualitas setiap orang pelaku spiritual tidak semuanya sama, karena masing-masing objek/bidang interest orang juga tidak sama. Dan pada bidang/objek spiritual yang sama masing-masing orang juga tidak sama tingkat pencapaian spiritualitasnya. Spiritual dan Spiritualitas tinggi, hanya ada satu sumber saja, yaitu dari Tuhan/Allah/Hyang Maha Suci Hidup, dan setahu saya; Wong Edan Bagu, hanya ada satu dijaman moderen ini, yaitu... Olah lakon Spiritualitas KUNCI dan laku spiritual Hakikat Hidup, yang murni menggunakan satu sumber saja, yaitu Hyang Maha Suci Hidup, dan itu hanya terdapat dalam pelajaran Wahyu Panca Gha’ib saja, bukan yang lainnya, karena selain Wahyu Panca Gha’ib, menggunakan beberapa Sumber, pless rekayasa dan politik yang di sesuaikan dengan kepentingan masing-masing pribadi yang menjalankannya.

Olah meditasi dan perenungan adalah contoh bentuk lakon yang banyak dilakukan orang dalam laku spiritual sampai dengan lakunya itu orang menemukan sendiri kesejatian dari sesuatu yang dipelajarinya. Sesudah itu barulah lakon spiritualitasnya terbentuk.

Cakra-cakra tubuh yang bekerja adalah cakra-cakra yang berada di leher, di dahi dan yang di ubun-ubun kepala.

Di atas ubun-ubun kepala ada cakra mahkota, yaitu sebentuk energi seperti corong bersusun 2 yang hanya terbentuk sesudah cakra di ubun-ubun kepala kuat dan terbuka serta aktif bekerja, dan orangnya juga aktif menjelajahi kegaiban tingkat tinggi (ini hanya terdapat dalam lakon spiritualitas KUNCI dan laku spiritual Hakikat Hidup). Jadi cakra mahkota itu sebenarnya adalah "energi" yang terbentuk dari kuatnya laku spiritual, sesudah cakra di ubun-ubun kepala kuat dan terbuka serta aktif bekerja, dan orangnya aktif menjelajahi kegaiban tingkat tinggi. Dengan cakra di ubun-ubun dan cakra mahkota orang bisa menyerap energi spiritual alam semesta dan bisa menangkap intisari alam spiritual, sehingga bisa mengetahui rahasia alam semesta/kehidupan  dan rahasia hidup bahkan Hyang Maha Suci Hidup.

Olah kemampuan untuk mengetahui kesejatian dari suatu pengetahuan yang didapat sendiri dari olah spiritual inilah yang membedakan Laku Spiritual Hakikat Hidup (KUNCI) dengan ilmu-ilmu kebatinan umum dan ilmu-ilmu kegaiban yang lain, dan apa saja pengetahuan/kebenaran yang diperolehnya itu, akan menjadi isi spiritualitas seseorang tersebut, secara umum akan menjadi suatu hikmat kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan... He he he . . . Edan Tenan.

Olah spiritual juga menghasilkan kekuatan, yaitu kekuatan spiritual, yang berasal dari cakra di ubun-ubun dan cakra mahkota, yang dapat disalurkan melalui kekuatan pikiran. Selain berasal dari kesadarannya sendiri, kekuatan itu juga berasal dari kekuatan Roh,  (roh pancer/Hidup dan sedulur papatnya sendiri) yang seolah-olah berada di belakangnya (di belakang kepalanya) dan menyatukan kekuatannya dengan kekuatan orangnya menjadi satu kesatuan kekuatan bathin dan pikiran.

Kegaiban kekuatan spiritual seseorang akan memampukannya membuka tabir-tabir kegaiban dan rahasia-rahasia yang bagi orang-orang umum masih tertutup. Bila digunakan untuk berhadapan dengan kekuatan mahluk halus, kekuatannya itu dapat untuk mendeteksi dan menyerang mahluk halus, bukan hanya yang tingkatnya rendah, tetapi juga yang berkekuatan dan berdimensi gaib tinggi, yang dimensinya dan kesaktiannya lebih daripada buto/iblis sekalipun. He he he . . . Edan Tenan.  SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA  KALI  INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

Perbeda’an Antara. Olah Lakon Spiritual Kebatinan dan Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup:

Perbeda’an Antara.
Olah Lakon Spiritual Kebatinan dan
Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari kamis legi. Tgl 24. September 2015

1. Olah Lakon Spiritual Kebatinan;
Olah Kebatinan, berkaitan dengan pengolahan potensi kebatinan manusia, potensi kegaiban sukma manusia, disertai dengan landasan filosofi spiritual kebatinan, misalnya dalam dunia kebatinan kejawen ada cerita saudara kembar sedulur papat kalima pancer, filosofi dalam pewayangan, ilmu kasampurnan (kesempurnaan), konsep manunggaling kawula lan Gusti, dsb.

Bagi orang-orang yang mempelajari kebatinan, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan tersebut di atas adalah dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), tuntunan kerohanian, sasaran/tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita spiritual kebatinan. Pengetahuan gaib atau tentang kejadian-kejadian yang akan datang, dsb, seringkali didapatkan dari istilah ilham/bisikan gaib/wangsit (dari kegaiban sukmanya/roh sedulur papatnya sendiri) yang ditindaklanjuti sampai ketemu kebenarannya.

Tetapi banyak para pemula (termasuk praktisi kebatinan, orang-orang yang mengaku pinter dan spiritualis yang sebenarnya keilmuan kebatinannya masih tingkat dasar) yang bisa bercerita banyak tentang hal-hal filosofis di atas, tetapi sebenarnya mereka sendiri belum sampai pada kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya, dan banyak orang yang bisa melihat gaib, tetapi tidak tahu kesejatian dari apa yang dilihatnya itu, apalagi yang hanya sekedar 'ngecap' saja alias katanya bin kulak jare adol ndean... He he he . . . Edan Tenan, seolah-olah mereka benar sudah mumpuni menguasai ilmunya atau mengetahui sendiri kebenarannya, padahal baru katanya.

Mereka yang mendalami suatu olah kebatinan, biasanya juga memahami aspek spiritual dari olah kebatinan yang ditekuninya. Tetapi aspek spiritual lain yang lebih tinggi biasanya tidak ditekuni, karena biasanya lakonya hanya berkonsentrasi pada aspek spiritual yang terkait dengan apa yang sedang dijalani saja. Tetapi para tokoh kebatinan, yang menemukan konsep-konsep kebatinan, yang kemudian mengajarkannya kepada murid-murid atau para pengikutnya, jika Olah Spiritual Kebatinan ini tidak berhenti, artinya terus mencari tau dan mendalami semua pelajarannya. Akan sampai pada Olah Spiritual Hakikat Hidup, dan selanjutnya akan menguasai aspek spiritual dari kebatinannya secara mendalam dan juga memiliki spiritualitas yang tinggi, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan yang tersebut di atas bukan lagi menjadi dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), sasaran/tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita spiritual kebatinan, tetapi mereka sendiri memiliki kemampuan untuk mengetahui kebenarannya, dan biasanya mereka juga menguasai aspek spiritual lain yang lebih tinggi, hingga mencapai ke yang sebenarnya/sejatinya.

2. Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup;
Olah Spiritual Hakikat Hidup, berkaitan dengan pengolahan potensi spiritual hakikat Hidup manusia, olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang gaib, asal-usul tentang sesuatu, kejadian-kejadian pada masa lalu atau kejadian-kejadian yang akan datang, sampai pada olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang tidak tampak mata dan berdimensi gaib tinggi. Dalam mempelajari sesuatu, dalam olah laku spiritual hakikat hidup, orang akan mempelajari bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi juga sampai kepada hakekatnya (aspek filosofis dan kesejatian dari sesuatu tersebut). 

Dan setahu saya; Wong Edan Bagu. Orang yang menekuni Laku  Spiritual Hakikat Hidup, bersamaan atau sebagai kelanjutan dari laku kebatinannya. Termasuk dalam lakon kebatinan untuk kanuragan/kesaktian, olah Laku Spiritual Hakikat Hidup dilakukan bersamaan atau sebagai kelanjutan lakon kebatinannya untuk menelisik lebih dalam sisi spiritual/kesejatian dan potensi dari keilmuannya. Begitu juga lakon kebatinan keTuhanan, yang seharusnya kemudian dilanjutkan menjadi laku kebatinan-spiritual keTuhanan, untuk menelisik kesejatian dan kebenaran dari jalan keTuhanannya. Dengan demikian dari lakon kebatinan dan Laku spiritualnya, orang tersebut bisa menguasai sekaligus, sisi Spiritual  kebatinannya dan sisi Spiritual Hakikat Hidup nya, menguasai kekuatan kebatinan dan kekuatan spiritualnya, dan kekuatan sukmanya, yang juga berasal dari kekuatan kebatinan dan spiritual tersebut.

Pada orang-orang yang sudah menekuni tahapan laku spiritual, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan yang tersebut di atas bukan hanya menjadi dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), atau hanya sebatas sasaran/tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita kebatinan spiritual saja, tetapi menjadi tujuan untuk dicaritahu kebenarannya, sehingga mereka bisa memiliki kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya. Cerita-cerita tersebut bukan hanya menjadi kisah cerita belaka atau menjadi bumbu pelajaran ilmu saja, tetapi mereka juga mempelajari kebenarannya berikut aspek filosofis di dalamnya.

Banyak orang yang baru mempelajari sesuatu ilmu, baru sepotong atau baru sebatas kulitnya saja sudah sesumbar seolah-olah ilmunya sudah mumpuni, bagi saya; Wong Edan Bagu. Dia hanya bersensasi saja. Air beriak tanda tak dalam. Tetapi orang yang sudah dalam ilmunya, justru lebih memilih diam dan diam-diam ia dapat mengukur kedalaman/ketinggian ilmu orang lain.

Orang  'berisi'  yang memilih diam biasanya ilmunya lebih dapat berkembang, karena ia memiliki banyak waktu untuk memperhatikan lingkungan dan belajar dari kehidupan sehari-hari atau dari pengalaman orang lain... He he he . . . Edan Tenan. Contohnya saya... karena senengannya koar-koar mengungkap kebenaran yang sebenarnya, jadi, sudah pasti saya; Wong Edan Bagu ini, masih duuuuuaaaaangkal buuuuaaaanget, jadinya, banyak nggedebusnya, anggap saja tong kosong nyaring bunyinya ya luur,,, tapi lumayan, bisa buat tabuhan mengiringi tembang galau... He he he . . . Edan Tenan.

Kebanyakan orang hanya ingin mempraktekkan ilmunya saja dan mempertunjukkan ilmunya, sehingga dirinya dipandang hebat, tapi ia tidak berusaha mengembangkannya, apalagi setelah berpisah dari gurunya. Dengan demikian orang tersebut tidak akan bisa mencapai tingkatan seperti gurunya atau melebihinya. Apabila suatu saat nanti orang tersebut mempunyai murid, dan murid-muridnya itu sama juga perilakunya sepertinya, maka dunia keilmuan semakin lama akan semakin surut. Padahal, seharusnya setiap murid harus bisa melebihi gurunya, sehingga dunia keilmuan akan berkembang terus dan semakin oke. Namun sayang,,,  kesadaran seperti itu, seringkali tidak dimiliki oleh kebanyakan orang, termasuk iyong dewek... He he he . . . Edan Tenan.

Tetapi orang-orang yang sudah mendalami sisi spiritual dari sesuatu dan mampu menguasainya, walaupun hanya sebagian saja, kemudian akan lebih banyak diam, tidak pamer atau menonjolkan diri, karena mereka sendiri sadar bahwa mereka lebih mengetahui daripada orang lain, seringkali dianggap lebih baik untuk diam, tidak pamer, dan tidak mempertentangkannya dengan orang lain.

Diperibahasakan seperti ilmu padi : " makin berisi makin merunduk ".  Inilah yang kemudian menjadi suatu kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.
 
Olah Spiritual Hakikat Hidup sebenarnya adalah bagian dari kelanjutan Olah Spiritual Kebatinan. Tetapi karena pada masa sekarang ini banyak orang yang membedakan spiritual dengan kebatinan, apalagi ada juga orang yang mempelajari spiritual secara khusus yang tatacara pengolahannya tidak sama dengan olah kebatinan yang umum, maka dalam Tulisan saya kali ini, saya  tuliskan tentang pengertian spiritual itu, yang sisi pengolahannya dan sifat-sifatnya berbeda dengan kebatinan yang umum.

Tetapi jangan dilupakan bahwa sebenarnya Olah Spiritual Hakikat Hidup adalah satu kesatuan dengan Olah Spirituan Kebatinan, termasuk dalam hal tatacara mempelajarinya, dan sesungguhnya memang begitu. Kebatinan dan spiritual jangan dianggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri.

Olah Spiritual Kebatinan dan Olah Spiritual Hakikat Hidup sebenarnya merupakan satu kesatuan laku yang dilakukan bersama-sama, satu kesatuan laku yang tidak terpisahkan, dalam menjalankannya, hanya proporsinya saja yang berbeda-beda. Di satu saat mungkin lakunya lebih besar proporsinya untuk kebatinan. Di saat yang lain mungkin porsinya lebih besar untuk spiritualitas, tergantung objek dan tujuan dari lakon yang sedang dilakukannya.

Saya; Wong Edan Bagu, menekuni Laku Spiritual Hakikat Hidup sebagai kelanjutan dari lakon Spiritual kebatinan, yang awalnya saya pelajari sebelum Laku Spiritual Hakikat Hidup. Termasuk dalam lakon kebatinan untuk plah kanuragan/kesaktian yang dulu pernah saya pelajari dari berbagai karakter Guru.

Lakon Spiritual Kebatinan dan Laku Spiritual Hakikat Hidup, saya lakukan bersamaan, alasannya untuk menelisik lebih dalam sisi Kesejatian Spiritual pribadi saya dan untuk mengetahui potensi dari Keilmuan Kesejatian Spiritual pribadi saya. Keduanya saya dasari dengan Wahyu Panca Gha’ib, Wahyu Panca Gha’ib sebagai busurnya, Laku Spiritual Hakikat Hidup sebagai tali busunya dan Lakon Spiritual Kebatinan sebagai anak panahnya. Dengan ini saya berhasil menelisik dan menembus dimensi tanpa batas, tentang  kesejatian dan kebenaran yang benar dari iman keTuhanan saya.

Dengan demikian saya bisa menguasai sekaligus memeliki sisi kebatinan dan sisi spiritual pribadi saya, menguasai kekuatan kebatinan dan kekuatan spiritual pribadi saya, dan kekuatan Hidup dan kehidupan pribadi saya... Ingat..!!! Pribadi saya, bukan orang lain... He he he . . . Edan Tenan. 

Menurut hasil pengalaman saya di TKP. Biasanya, kalau tidak berhenti di sampai disitu saja, walaupun proses lakon yang dijalani oleh seseorang adalah olah kebatinan, hasilnya akan merupakan kombinasi dari kebatinan dan spiritual. Karena, menurut saya, dalam setiap sisi kebatinan yang ditekuni sesorang, selalu terkandung makna spiritual yang juga harus dikuasai. Dan dalam penggunaan kekuatan kebatinan, biasanya juga disalurkan melalui kekuatan pikiran, sehingga biasanya orang-orang yang menekuni kebatinan, lakon kebatinannya itu bukan hanya membentuk kekuatan kebatinan, tapi juga membentuk kekuatan gaib spiritualnya. Dan biasanya lagi, para tokoh kebatinan dan para praktisi kebatinan, orang-orang yang benar-benar menekuni kebatinan, mempunyai kemampuan spiritual juga, namun sayang, kebanyakan dari mereka, tidak menyadari akan hal tersebut.

Pengetahuan yang didapat dari lakon kebatinan bersifat dalam, berupa penghayatan kesejatian akan sesuatu, sehingga pengetahuannya itu tidak dangkal, tidak mengawang-awang, tidak berisi dogma dan pengkultusan, artinya, sudah tidak lagi berada di dalam kotak-kotak atau derada di bawah warna bendera, pengetahuan itu, juga bisa dibuktikan oleh orang lain yang sama-sama mempelajari kesejatiannya.

Dengan olah laku spiritual suatu pengetahuan yang secara kebatinan sudah diketahui itu, ditindaklanjuti lagi untuk menelisik kesejatiannya yang lebih tinggi lagi. Karena itu olah laku spiritual adalah kelanjutan pencarian kesejatian yang lebih tinggi dari suatu objek pengetahuan yang secara kebatinan sudah diketahui kesejatiannya. Karena itu orang-orang yang tekun di dalam olah kebatinan dan spiritual akan memiliki penghayatan atas sesuatu secara mendalam, sekaligus juga tinggi, dibandingkan pemahaman orang lain yang umum atas suatu objek yang sama.

Seseorang yang menjalani laku kebatinan akan merasakan kekuatan kebatinannya di dada. Sesuai penguasaan dan pencapaiannya, kekuatan kebatinannya itu akan mengisi kekuatan tangan, kaki, tubuh, menjadi kekuatan gaib yang melipatgandakan kesaktian kanuragan seseorang. Selain itu kegaiban sukma dari lakon kebatinannya akan membentuk dirinya menjadi seorang yang linuwih dan waskita. Pada penggunaannya, selain kekuatan itu digunakan sebagai kekuatan yang mengisi tubuh untuk kanuragan, kekuatan itu juga dipusatkan di kepala, menjadi kekuatan spiritual.

Dalam proses awal lakon kebatinan dan laku spiritual, orang memusatkan perhatiannya secara batin, memusatkan rasa terasa merasa dan merasakan rasa Hidupnya pada suatu objek tertentu yang menjadi perhatiannya. Pada proses selanjutnya, memusatkan perhatiannya di kepala, mempertegas apa yang ada di "awang-awang", untuk menindaklanjuti ide/ilham dan bisikan gaib/wangsit, untuk mempelajari lebih lanjut kesejatian spiritual dari objek yang menjadi perhatiannya itu sampai kepada aspek hakekatnya.

Selanjutnya berdasarkan objek perhatian yang sudah dikuasai pengetahuannya itu, dengan mendayagunakan aliran rasa sebagai sumber inspirasinya, orang itu akan melanjutkan pencariannya kepada objek-objek pengetahuan selanjutnya, hingga ke dimensi spiritual yang lebih tinggi lagi. Yang ukurannya tanpa batas ruang dan waktu. Karena itu kebanyakan lakon kebatinan dan laku spiritual seseorang akan menciptakan suatu kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya tinggi bagi orang kebanyakan yang mengantarkannya menjadi seorang yang linuwih dan waskita.

Dalam proses pencarian jati diri itulah, olah Olah Spiritual Kebatinan dan olah Spiritual Hakikat Hidup, dilakukan secara bersama-sama, sehingga lakon kebatinan dan laku spiritual menjadi satu kesatuan kelakuan yang tidak dapat dipisahkan.

Tetapi isi spiritualitas setiap orang tidak sama, tergantung pada objek spiritual yang menjadi interest-nya. Untuk objek spiritual yang sama yang membedakan pencapaian masing-masing orang hanyalah sejauhmana lakon kebatinan dan laku spiritual itu dilakukan oleh seseorang dan seberapa besar minat seseorang mempelajari sampai mendalam apa yang menjadi interest-nya itu.

Selain itu, pencapaian setiap orang juga dipengaruhi oleh "kecerdasan hati"-nya dan kepekaan hati-nya. Ingat..!!! Kecerdasan Hati dan Kepeka’an Hati, bukan otak bukan pikiran. untuk mendapatkan ide/ilham/wangsit sebagai bahan untuk ditindaklanjuti. Energi di dada, cakra di ubun-ubun kepala dan cakra mahkota akan bekerja dengan sendirinya mengikuti proses lakon  kebatinan dan laku spiritual orang tersebut.

Tetapi tidak semua orang yang menjalani olah kebatinan, paham dan tau serta mengerti hal ini, kebanyakan hanya berhenti sampai di batin saja, tidak dilanjutkan hingga ke Hidup dan mentog Hyang Maha Suci Hidup, sudah bisa menerawang togel saja, sudah puas, lalu berhenti dan menikmatinya sebagai mata pencaharian nafkan lahirnya. Dia tidak mau laku spiritual, bahkan konyolnya, dia menganggap Spiritual itu sesat/hitam/musrik dan bla,,, bla,,, lainnya. Edan pora hayo...

Pada jaman dulu, di Jawa, ketika manusia masih hidup di jaman kesaktian, kekuatan kebatinan memang merupakan sumber utama kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan, bukan ilmu gaib dan ilmu khodam dan bukan tenaga dalam. Pada tingkat kesaktian yang tinggi orang melatih keilmuannya dengan lambaran kekuatan kebatinan. Lakon prihatin, berpuasa bahkan tapa brata akan mengisi sehari-hari lakonnya.

Di kalangan kesaktian kanuragan itu kebanyakan olah lakon kebatinan mereka tidak secara khusus dilakukan untuk juga mempelajari olah spiritual, tetapi olah lakon kebatinannya lebih ditujukan untuk meningkatkan kesaktian kanuragannya, sehingga sekalipun kesaktian kanuragan mereka tinggi, tetapi tingkat spiritualitas dan kekuatan sukmanya terbatas dibandingkan orang-orang yang benar-benar menekuni olah kebatinan dan laku spiritual yang mengolah kekuatan dan kegaiban sukmanya.

Pada jaman dulu... Laku spiritual yang tinggi kebanyakan dijalani oleh orang-orang yang sudah menepi, yang sudah mandito, para pertapa, resi atau panembahan, yang sudah tidak lagi melulu mengedepankan kesaktian kanuragan untuk lebih mengedepankan lakon kebatinan keTuhanan, yang kemudian dilanjutkan dengan olah laku spiritual keTuhanan. Spiritualitas yang tinggi biasanya adalah hasil dari lakon kebatinan dan laku spiritual seseorang dalam rangka pencarian jati diri keTuhanan (karena Tuhan adalah materi spiritualitas yang tertinggi).

Karena itu orang-orang jaman dulu yang menekuni kebatinan dan spiritual biasanya adalah juga orang-orang yang berilmu kesaktian tinggi, yang sudah melewati masa-masa pelatihan olah kanuragan atau tenaga dalam tingkat berkali ber... He he he . . . Edan Tenan.

Bahkan banyak kemudian yang pada masa tuanya mengaso meninggalkan keduniawiannya, mandito, dan menepi, menjadi seorang panembahan atau pertapa, untuk lebih menekuni dunia kerohanian keTuhanan nya. Karena itu seorang panembahan atau pertapa biasanya adalah orang-orang yang mumpuni dalam ilmu kesaktian dan kebatinan, hanya saja kemudian kesaktiannya itu tidak kelihatan, karena mereka lebih mengedepankan sikap dan penampilan sebagai orang yang sudah mandito, yang kelihatan lebih menekuni dunia kerohanian, tidak lagi melulu menonjolkan kejayaan keduniawian. Dan... lagi-lagi namun sayangnya lagi, kebanyakan dari mereka itu, mengakhiri riwayat Hidup dan kehidupannya dengan cara moksa, bukan,,, Inna lillaahi wa inna illayhi roji’un, sungguh sangat di sayangkan bukan? Heeeemmmm... Edan Tenan.

Tidak seperti di jaman sekarang yang orang memandang olah spiritual sebagai jenis keilmuan tersendiri yang berbeda dengan olah kebatinan yang kemudian secara khusus diajarkan/diwujudkan dalam kursus/perguruan meditasi pembangkitan kundalini, reiki, dsb, tapi bagi saya pribadi, orang yang benar-benar menekuni dunia spiritual, pasti memahami bahwa olah lakon kebatinan dan olah laku spiritual adalah sesuatu yang menyatu, merupakan satu kesatuan proses yang salah satunya tidak boleh diabaikan, apa lagi di pisahkan. Ini menurutku,,, menurut Wong Edan Bagu lo...  Menurutmu, ya terserah sampean to, mau menggunakan kacamata apa dan kacamata mana, silahkan. Hikz.

Lakon kebatinan dan laku spiritual bukanlah jenis-jenis keilmuan yang berdiri sendiri-sendiri. Begitu juga dengan olah kalakuannya. Olah lakon kebatinan menjadi dasar untuk ditindaklanjuti dengan olah laku spiritual, atau laku spiritual adalah kelanjutan dari lakon kebatinan seseorang. Penggunaan kekuatan spiritual juga sebenarnya adalah kekuatan kebatinan yang kekuatannya difokuskan di kepala. Kekuatan spiritual yang di pusatkan ke rasa. Tingkat spiritualitas seseorang akan lemah jika tidak didasari dengan olah lakon kebatinan. Jadi... Jelasnya. Olah lakon kebatinan merupakan pondasi bagi kemampuan laku spiritual seseorang.

Dengan demikian olah laku spiritual biasanya dijalani orang bersama-sama atau merupakan kelanjutan dari laku kebatinan, sehingga olah spiritual itu sebenarnya bukanlah suatu jenis ilmu yang berdiri sendiri-sendiri yang dipelajari secara sendiri-sendiri seperti yang pada masa sekarang diajarkan dalam pelajaran praktis meditasi kundalini dan reiki dsb. Olah laku spiritual sebenarnya berhubungan dan menjadi satu kesatuan dengan olah lakon kebatinan dan merupakan tindak lanjut dari lakon kebatinan.

Dengan demikian seseorang yang menjalani laku spiritual biasanya adalah bagian dan kelanjutan dari lakon kebatinannya dan seseorang yang menjalani lakon kebatinan biasanya juga menguasai tingkat spiritualitas tertentu, sesuai pencapaian spiritualnya pada bidang interest-nya masing-masing.

Begitu juga dalam proses melatih energi kekuatan spiritual, biasanya juga dijalani dengan kombinasi kebatinan. Pada jaman dulu orang-orang yang sedang khusus menjalani lakon kebatinan (olah batin) biasanya akan melakukannya dengan jalan menyepi, berpuasa, atau tapa brata. Selain dilakukan untuk tujuan mendapatkan pencerahan kebatinan yang terkait dengan kesaktian atau dunia spiritual dan untuk menambah tinggi kekuatan kesaktian dan spiritualitas mereka, kekuatan dari lakon mereka itu juga akan menambah tinggi kekuatan sukma mereka.

Karena itu jika kita sudah masuk ke dunia kebatinan, jangan berhenti sampai disitu saja, saya sarankan, sebaiknya kita juga mempelajari sisi spiritual dari apa yang sedang kita jalani itu, supaya kita juga mengetahui secara mendalam apa yang sedang kita jalani itu dan kita bisa mengetahui potensi dan arah pengembangannya dari apa yang menjadi interest kita itu... He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA  KALI  INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

Soal Lakon Kebatinan dan Tentang Laku Spiritual Pencarian Tuhan:

Soal Lakon Kebatinan dan Tentang Laku Spiritual Pencarian Tuhan:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari jumat pahing. Tgl 25. September 2015

Tuhan/Allah/God/Gusti dll (Sosok Tuhan, Pribadi yang menjadi Tuhan, kesejatianNya dan keberadaanNya) adalah hakikat materi spiritual yang tertinggi. Karena itu tidak banyak orang yang mampu mencapai pengetahuannya, tidak banyak orang yang mampu dengan benar mengenal Tuhan (Sosok, Pribadi Tuhan dan kesejatianNya), bahkan banyak orang yang walaupun agamis, tetapi tidak tahu siapa sesungguhnya Tuhannya?. Lebih banyak orang yang untuk menutupi ketidaktahuannya tentang Tuhan mereka, memunculkan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan seolah-olah mereka benar tahu Tuhan. Karena itulah kebanyakan orang yang menekuni kebatinan/spiritual ketuhanan untuk melakukan pencarian keTuhanan banyak yang mempunyai lingkaran halo di belakang kepalanya sebagai tanda kuatnya laku kebatinan/spiritual mereka.

Saya; Wong Edan Bagu, sudah menuliskan di banyak tulisan tentang Tuhan dan keTuhanan dan spiritualitas keTuhanan, baik itu di facebook/google/blogger/wordpres hingga twitter, bahwa dari tempat keberadaanNya Tuhan/Allah memancarkan "Energi"-Nya ke seluruh penjuru bumi, sehingga semua orang di berbagai penjuru bumi bisa merasakan adanya tarikan Rasa untuk berTuhan dan untuk berkeTuhanan, iya apa nggeh? Hayo,,, ini diluar kesadaran lo... He he he . . . Edan Tenan. Artinya; di akui atau tidak di akui, di ketahui atau tidak di ketahui.

Pancaran 'Energi' Tuhan itu disebut Roh Agung Alam Semesta, yang dengan Roh Agung Alam Semesta nya, orang bisa merasakannya dimana-mana dan dimanapun ia berada di seluruh belahan bumi ini, karena pancaran Energi-Nya itu, memang juga terpancar kemana-mana ke seluruh penjuru dimensi, menjadi Roh Dimensi Tanpa Batas. Roh Agung Alam Semesta atau Roh Dimensi Tanpa Batas itu,  disembah orang dalam banyak bentuk agama dan jalan keTuhanan.

Dari sifat-sifat Rasa Energi-Nya itu orang bisa "merasakan" sifat-sifat Tuhan/Allah, dan bisa dirasakan juga kehendak-kehendak Tuhan/Allah, disebut orang sebagai Cahaya Allah. Itulah yang umumnya dirasakan oleh orang-orang yang berusaha menyelami sifat-sifat Tuhan/Allah dan yang mendalami agama, yaitu Cahaya Allah atau Cahaya Illaahi, sifat-sifat Allah yang dirasakan orang dari Rasa 'Energi' yang dipancarkan oleh Roh Agung Alam Semesta, yang Cahaya Allah itu dirasakan menyelimuti semua kehidupan di dunia dan akherat.

Itulah yang umumnya diajarkan sebagai agama, yaitu Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dan Cahaya Allah yang menggambarkan sifat-sifat dan kehendak-kehendak Allah, ajaran agama yang didasarkan pada kesepuhan keTuhanan. Pengetahuan mereka hanya sedikit, karena mereka belum sampai pada pengetahuan tentang Sosok Allah, Pribadi yang menjadi Allah dan KeberadaanNya, dan mereka juga belum bisa tersambung langsung (kontak Rasa) dengan Tuhan, sehingga mereka tidak sungguh-sungguh mengetahui apa sesungguhnya yang menjadi kehendak Allah (mereka akan banyak memunculkan pemikiran dan pendapat sendiri dan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan dan kehendak-kehendakNya), di sesuaikan dengan kepentingan pribadinya atau jema’ah/golonganya.

Tetapi pengetahuan tentang Tuhan yang hanya sebatas Roh Agung Alam Semesta itu, tidak memuaskan bagi para pelaku pencari Tuhan. Dengan Rohnya, dengan olah lakon kebatinan dan laku spiritual, mereka berusaha mencari Tuhan sampai bisa ditemukan seperti apa SosokNya, siapa sesungguhnya Pribadi yang menjadi Tuhan dan dimana tepatnya keberadaanNya.

Dengan demikian mereka berharap bahwa nantinya mereka akan bisa lebih baik lagi dalam mereka menyelaraskan diri dan Hidup dan kehidupan mereka sesuai dengan yang menjadi kehendak Tuhan serta akan semakin terbuka peluang untuk nantinya mereka bisa kembali kepada sangkan paraning dumading Urip/Hidup (Asal Usul Terjadinya Jadi)

Tetapi Tuhan/Allah mempunyai jalanNya sendiri. Shingganya tidak semua orang yang mencari Tuhan itu berhasil dalam usahanya. Kecuali jika Menggunakan Saran Hidup, yaitu Wahyu Panca Gha’ib.  Apalagi Tuhan juga tidak kepada semua orang Ia berkenan menunjukkan diriNya. Kecuali orang yang sudah KUNCI. Dengan demikian pengetahuan orang-orang tersebut masih tetap hanya sebatas Tuhan sebagai Roh Agung Alam Semesta saja dan sifat-sifat Tuhan dari Cahaya-Nya yang diajarkan sebagai agama/kepercayaan keTuhanan.

Tetapi diluar itu, selain kisah para nabi dan wali, ada tokoh-tokoh jawa, sebelum datangnya agama Islam, yang berhasil "bertemu" dengan Tuhan dalam "Penampakkan"-Nya serupa bola energi besar bercahaya kuning terang benderang, mereka menyebutnya (Roh Kudus/Suci) yang itu hanya bisa dilihat secara batin dan roh saja. Mereka juga bisa tersambung kontak Rasa dan batin dengan Tuhan, bisa mendapatkan pengajaran-pengajaran langsung dari Tuhan, dsb, sehingga mereka bisa mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang kesejatian manusia, kesejatian Hidup, dsb, yang itu kemudian mereka ajarkan dalam banyak nama dan istilah dalam kepercayaan agama jawa.

Karena itu selain tuntunan kerohanian dan keagamaan yang diberikan oleh tokoh-tokoh agamanya, agama-agama jawa mengajarkan para penganutnya untuk bisa fokus batin kontak Rasa langsung dengan Tuhan dan untuk bisa mendapatkan pengajaran-pengajaran langsung dari Tuhan, olah roso untuk manunggaling kawula lan Gusti, sehingga mereka masing-masing secara pribadi bisa menjadi lebih mengerti sifat-sifat Tuhan dan kehendak Tuhan atas kehidupan mereka, dan pemahaman itu mereka jalankan dalam kehidupan mereka sehari-hari, mereka menyelaraskan kehidupan mereka dengan kehidupan yang menjadi kehendak Tuhan. Dengan demikian mereka tidak membutuhkan Nabi dan Wali sert kitab suci apapun, karena hubungan mereka dengan Tuhan bersifat langsung, pribadi dan personal... He he he . . . Edan Tenan.

Pencapaian keTuhanan orang-orang Jawa itu, belum bisa disebut sebagai manunggal dengan Tuhan, belum mencapai tahap kasampurnan. Walaupun mereka sudah bisa tersambung dengan Tuhan, tetapi ternyata Tuhan masih belum berkenan manunggal dengan mereka, karena Tuhan mempunyai JalanNya sendiri. Buktinya, tidak sedikit bukan, orang jawa yang tidak tau jawanya...

Tapi saya salut pada mereka lo... Karena ketekunan mereka dalam usaha mereka mengenal langsung Tuhannya, yang berusaha senantiasa tersambung kontak Rasa dan batin dengan Tuhan serta  sepenuh hati menyelaraskan pemahaman keTuhanan mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari, sudah mendapatkan perhatian tersendiri dari Tuhan. Usaha mereka tidak ada yang sia-sia, karena dibandingkan manusia-manusia lain di tempat-tempat dan belahan bumi lain mereka dan tanah Jawa khususnya, mendapatkan nilai tersendiri di mata Tuhan, mereka akan mendapatkan kemuliaan dan kemurahan tersendiri dari Tuhan pada akhir zaman, saya yakin itu.

Dan dengan jalan kebatinan keTuhanan mereka itu, mereka memiliki pemahaman sendiri yang cukup mendalam tentang Tuhan, tidak perlu memunculkan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan,  seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahu tapi sok tahu tentang Tuhan.

Apapun agama yang mereka anut, mereka memiliki pemahaman sendiri tentang Tuhan, dan pemahaman itu mereka wujudkan dalam keseharian kehidupan mereka. Mereka berusaha mendekatkan hati mereka dengan Tuhan dan berusaha menyelaraskan jalan hidup di dalam kehidupan dan perbuatan-perbuatan mereka dengan yang menjadi kehendak Tuhan, sesuai yang mereka pahami. Pengertian Manunggaling Kawula Lan Gusti dalam konsep kejawen adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara langsung dan pribadi, hal ini hanya bisa di lakukan dengan Rasa, bukan sekedar bathin saja. Ingat..!!! dengan rasa , bukan dengan sekedar batin. Dan Pelajaran Rasa, hanya ada di dalam Wahyu Panca Gha’ib, bukan yang lainnya. Kalau hanya yang disebut Agama Kaweruh, kaweruh, belum ke Rasa, masih perasa’an, misal berhasil ke rasa, tetap bukan yang sebenarnya/sejatinya.

Kalau masih di dalam lingkaran/dimensi kehidupan manusia, tidak akan pernah bisa nggeh tentang Rasa dan Soal Rasa, karena Rasa itu Hidup, dan Hidup itu, adalah KUNCI. ( Kumpul Nunggal Suci) dan KUNCI itu hanya ada di Wahyu Panca Gha’ib, bukan di lain Wahyu Panca Gha’ib. Jadi... hanya Manusia Hidup yang sudah KUNCI, yang bisa, memiliki pemahaman yang dalam tentang agamanya dan tentang Tuhan sesembahannya. Silahkan direnungkan... Ingat..!!! di renungkan ya, jangan di bayangkan, kalau di bayangkan,,, bisa jadi khayalan yang terbawa mimpi menakutkan nanatinya. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA  KALI  INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com