"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Kamis, 29 Oktober 2015

ANTARA WAHYU PANCA GHA’IB Dan WONG EDAN BAGU:

ANTARA WAHYU  PANCA  GHA’IB Dan WONG EDAN BAGU:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Jawa Dwipa. Hari Kamis Legi Tgl 29 Oktober 2015

Salam Rahayu Para Kadhang Konto dan Kanti Kinasihku Khususnya dan Umumnya Saudara-Saudariku sekalian yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Terlalu banyak anggapan-anggap, sangka’an-sangka’an tentang apa itu dan bagaimana itu Wahyu Panca Gha’ib. Hal ini sudah sering saya wejangkan, baik melalui media internet maupun secara langsung. Soal apa itu Wahyu Panca Gha’ib, sudah sering saya wedarkan, tentang bagaimana Wahyu Panca Gha’ib juga sudah sering saya wejangkan. Namun rupanya... apa yang pernah saya katakan tempo dahulu, bahwa iman yang benar itu, bukanlah keyakinan/kepercaya’an  paksa’an/katanya, tapi iman yang benar itu, adalah keyakinan/kepercaya’an yang tumbuh alami dengan sendirinya seiring bukti-bukti nyata yang di perolehanya sendiri secara nyata di TKP.

Jika imannya karena keyakinan/kepercaya’an yang terpaksa, sudah pasti, tidak  akan bisa Kukuh (Tetep idep madep mantep)  jika ada yang lebih bagus, akan tertarik, jika ada yang lebih baik terhasut, jika ada yang lebih indah, terperangkap, begitu dan begitu seterusnya. Tidak ada akhirnya... Maka,,, dunia ini, semakin maju semakin moderen, artinya, keindahan hari ini, pasti akan kalah dengan keindahan hari esok, kecanggihan tahun ini, sudah pasti akan di kalahkan oleh kecanggihan tahun depan. Jika iman nya karena paksa’an/katanya. Ya sudah tentu, setiap hari akan berubah dan berubah seterusnya begitu, hingga akhirnya Mati Tanpa Iman.

Ada yang mengira, mengatkan, menyebut. Bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, adalah pembuktian atau penggenapan tentang Firman Tuhan, yang mengatakan bawha kelak. Yesus.  Injil. At-taurat  akan Turun ke bumi lagi. Ada yang bilang, Gusti Amat. Ratu Adil dll sebagainya. Namun kenyata’annya apa?

Terdapat Kotak dan Bendera yang berkobar di dalamnya. Jika memang iya, apakah seperti itu ajaran yesus? Apakah seperti itu isi dari Injil dan at-taurat? Apakah  seperti itu sipat dan sikap Gusti Amat atau  Ratu Adil? Dan bla... bla... bla... tetek benget lainnya?  Coba di Pikir, katanya Gha’ib itu tahayul... yang bukan tahayul itu logika dan riyil. Nah... sekarang gunakan pikiran dan logika nya. Iya tidak begitu...?! jangan di bayangkan ya... di Pikir, jika mau dalam, di renungkan, jangan di bayangkan, nanti musmet kalai di bayangkan. Karena Wahyu Panca Gha’ib itu bukan bayang bayangan.

Kadhang sepuh, termasuk saya sendiri. Menjelaskan sesuai Dawuh dari Romo Smono Sastrohawidjojo... Bahwa. Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, bukan kepercaya’an, bukan kejawen, bukan perguruan, bukan kebatinan, bukan golongan, bukan partai dll sebagainya. Namun buktinya apa?

Hampir  Semuanya Group-groupan, rombongan sana rombongan sini, mbolo rono mbolo rene, orang itu yang cocok apikan, dengan saya, itu yang mbel gedes, sory lao you. Sama agama benci, ibadah di salahkan, membuka sasono perkumpulan kejawen, kepercaya’an, ini anak buahku, itu kelompokku dll mbel nggedes kabeh.

Termasuk anak-anak angkat didik saya juga, banyak yang seperti itu, padahal, tak kurang-kurangnya saya memberi arahan dan pengertian, bibir saya sampai dobleh mejang wejang, tapi ko yo,,,, masih tetep saja mengikuti angan-angan, kalau yang di ikuti angan-angannya sendiri sih mending, sudah mengikuti angan-angan, angan-angan orang lain lagi. Gusti.... tobil tobal tobel tenan.

WAHYU PANCA GHA’IB itu. Sarana untuk Bisa KUNCI. Kembali ke Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Brow... Lakone nggelar jagat anyar. Lakune nggulung jagat lawas.

Jagat anyar itu apa?
Jagat Ketentreman. Jagate Roso. Jagate urip.  (Dunia Tenteram/Dunia Rasa/Dunia Hidup). Bukan dunia kacau balau, bukan dunia angan-anagn bukan dunia perasa’an yang penuh kira-kira dan kobongan. Ngono lo brow.... beh...beh.

Jagat lawas itu apa?
Jagat mosak masik. Jagat angen-angan. Jagat perasa’an (Dunia kacau balau/Dunia angan-angan/Dunia perasa’an) yang penuh kira-kira dan kobongan. Ngono lo brow.... beh...beh.

Dunia lama yang selalu menyiksa dan mengecewakan serta menyakitkan tempo dulu. Karena penuh dengan andai kata, mbok menawen, kira-kira menurut analisa perasa’an penuh hayal. Di ganti dengan Dunia nyata. Dunia Rasa. Dunia Hidup. Tenteram damai enak dan bahagia gemah ripa lohjinawi rapah repeh rapi kanti teguh rahayu slamet.

Dunia nyata. Dunia Rasa. Dunia Hidup. Tenteram damai enak bahagia gemah ripah lohjinawi rapah repeh rapi kanti teguh rahayu slamet itu bagaimana dan seperti apa sih? Wong Edan...!!!

Halah kadala aba ka dabra.... La wong kita ini kan, satu Leluhur dan satu Asal Usul. Yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Mbok  yang wajar-waar saja, apa adanya, tidak usah beda membedakan, tidak usah sikat sikutan, tidak perlu unggul-unggulan, tidak harus aku akuan, bukankah kita semua yang beragama ini sudah salin mengetahui, bahwa semua/kita ini milik Tuhan dan hanya kepadanya akan kembali, bukankah kita semua yang berkepercaya’an  ini sudah salin mengerti. Bahwa tidak selembar daunpun yang jatuh kebumi tanpa kehendak Tuhan, dan hanya kehendak Tuhanlah yang benar akan terjadi.

Semua/kita ini milik Tuhan dan hanya kepadanya akan kembali. Tidak selembar daunpun yang jatuh kebumi tanpa kehendak Tuhan, dan hanya kehendak Tuhanlah yang benar akan terjadi. Inikan bukan hanya berlaku untuk orang-rang yang beragama atau tidak beragama, bukan hanya berlaku untuk orang-orang yang berkepercaya’an atau tidak berkepercaya’an, bahkan yang di sebut kafirpun. Terkait di dalamnya. Iya apa iya? Hayo....

Jika ini di sadari sepenuhnya sebagai Manusia Hidup yang Sebenarnya. Bila ini tertanam di setiap diri manusia Hidup, sebagai Iman yang benar.  Bisa tertebak bukan... seperti apa damainya Dunia ini, bagaimana bahagianya kehidupan ini. Jika ada pelecehan, tidak beda membedakan, tidak ada pilih pilhan kasih, tidak ada sikat sikut, tidak ada hiruk pikuk, tidak ada fitnah watang limpung, tidak ada golongan kaya dan golongan miskin, tidak ada rombongan pejabat dan rombongan jelata, tidak ada group hitam dan group putih, tidak ada sakit menyakiti, tidak ada rugi merugikan. Yang ada hanya kasih sayang, salin mengerti, salin memberi, salin mengisi, salin asah asih asuh, walau berbeda wujud, namun satu hati, satu rasa, satu hidup, satu keyakinan. Berdiri sama tinggi. Duduk sama rendah. Oh... sungguh indah mempesona setiap Rasul dan Malaikat. Dan Tuhan pun pasti Tersenyum... He he he . . . Edan Tenan.

Ini lo Wahyu Panca Gha’ib... Itu lo Wahyu Panca Gha’ib. Untuk itu an karena itulah Wahyu Panca Gha’ib Turun ke bumi setelah Muhammad dan Al-qurna’an. Sebagai wujud dan bentuk agungnya kasih sayang Hyang Maha Suci Hidup kepada seluruh sekalian alam. Tidak peduli apapun agamanya, kepercaya’annya, sukunya, tempatnya, latar belakangnya dan bla... bla... bla... lannnya. 

Ini sudah saya wedarkan, sudah saya wejangkan, di media internet jari saya sampai keriting, karena ngetik panjang dan lebar alias buanya. Secara langsung bibir saya sampai dower karena ber jam-jam bicara ngotok kayak orang senewen bin sinting. Tapi kok yo ajeeeeggggg..... wae, tetap saja. Begitu... tobil-tobil biyuh ampyuuuunnnnnnnn.

Katanya ingin tau, ingin bisa, ingin mengerti, ingin paham. Di tunjukan jalannya, jalan yang pernah saya lalui, dan hingga sekarangpun, jalan itu masih tetap saya lalui, yaitu Laku Patrap Kunci. Paweling. Asmo. Mijil. Singkir. la Cuma jalan itu yang bisa menyapaikan saya ke tujuan finis. Di kasih tau caranya, cara yang pernah saya gunakan, dan hingga sekarangpun, cara itu masih tetap saya gunakan, yaitu Lakon Kekadhangan,  la Cuma cara itu yang bisa menyapaikan saya ke titik finis tujuan saya. Masak saya akan mengunakan jalan lain dan cara lain. Sementara ada jalan dan cara yang saya sendiri sudah membuktikannya hingga berulang kali. Dan saya tidak mungkin mengajarkan yang lainnya selain yang sudah saya buktikan dan saya sendiri juga menggunakannya. La,,,  anak didik itu tanggung jawab saya kok.

Tapi la kok,,,, malah sejare udele dewek. Di wanti-wanti jangan sekali-kali merubah Kunci. karena Kunci itu Pas dan Pasti. Tidak bisa di ubah. Tidak bisa di kurangi. Tidak bisa di tambahi. Eh...’ Malah di robah sesuai keyakinannya. La dobol... Merubah Kunci. sama halnya merubah Hidup, emangnya kita ini siapa, kok mau merubah Hidup, yang kuasa atas Hidup itu ya Cuma Hyang Maha Suci Hidup. Soal menata kehidupan saja ke pontal-pontal, kok akal-akal merubah Hidup. bocah-bocah....

Dikasih mandat/Amanat untuk memiliki panguwasa memberi Asmo, malah ngarang Asmo sesukanya hati, katanya yang nyuruh Tuhan. Yang mrentah Tuhan. Tobil... Tobil... Tobil... di elingake mbantah, di sadarake nolak. Yo wes... Kalau saya harus Sombong, saya bisa mencabut/mengambil kembali Wahyu Panca Gha’ib yang saya bimbingkan kepadamu. Karena saya yang memberi dan saya yang membimbing, maka sayalah yang bertanggung jawab dan kuasa atas itu. Tapi sepertinya... memang harus saya cambut/ambil. Gulung kembali, la dari pada menyesatkan yang lainnya, mending di  STOP. Nanti ada yang ingin belajar Wahyu Panca Gha’ib, di kasih Kuncinya. Kunci karangan nya sendiri, bukan Kunci yang sebenranya, Terus Asmo nya. Nanti Asmo ngarang dari film sinetron televisi. Kalau dalam film kontofersi Wali Songon, seperti ini: Jika Syekh Siti Jenar nya yang Sesat. Tidak apa-apa... tapi ini, bisa jadi nantinya, setiap ada orang yang ingin mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh ikut tersesat. Dari pada dari... mending saya gulung saja. Selanjutnya, po jare sing ngubengke jagat.

Saya juga manusia lo... sama sepertimu. Artinya, punya jenuh ya juga punya bosan dan capek, jadi,,, jangan buat saya jenuh dan bosan serta capek.  Sebab kalau saya sudah jenuh bosan dan capek. Tak tinggal sowan ngarsaning Gusti... tanpa peduli. Sopo hayo sing arep kowar-kowar koyo Wong Edan buatmu yang tidak punya Prinsip dan Pendirian itu. Saya meninggalkan semuanya dan segalanya itu, demi untuk menyampaikan amanah dari Hyang Maha Suci Hidup kepadamu yang sedang saya tungguin sampai sekarang ini. Dulu,,,, sewaktu jamannya Para Nabi, banyak yang tidak punya prinsip dan pendirian di dalam iman, itu wajar, karena jaman dul itu, belum ada sekolahan dan pesantren, kalau di jaman sekarang tidak punya prinsip dan pendirian. Sementara segudang wejangan/pendidikan sudah di berikan tanpa tutup-tutupan, blak kotak tanpa rahasia. Kok begitu... yo kebangeten to rek....

Wahyu Panca Gha’ib itu bukan agama, bukan kejawen, bukan kepercaya’an, bukan perguruan, bukan kebatinan, bukan golongan atau partai, bukan group atau bolo-boloan/bala-bala’an. Bukan, artinya,,, tidak ada istilah kamu agama A, di sana, yang agama B, disini, kamu yang cocok sama saya disini, yang ga cocok disana, yang penting disini, yang ga perlu disana, yang terkasih disini, yang terbenci di sana, yang biasa-biasa saja disitu dan lain sebagainya. Bukan sepeti itu Kadhang kinasihku sekalian bukan. Semua pelakon dan pelaku Wahyu Panca Gha’ib itu, Kadhang. Kadhang itu, jauh lebih ngenox di bandingkan saudara kandung sekalipun, kalau yang namanya saudara, itu masih ada bentiknya, tidak sedikit bukan, contohnya, kakak  kandung jadi orang lain, adik kandung jadi musuh, bahkan  kakak dan adik kandung salin bunuh hanya karena sebuah warisan... tapi Kadhang tidak demikian. Kadhang itu, satu jiwa, satu hati, satu Rasa walau beda wujud dan tidak sekandung, satu keyakinan dan tujuan, yaitu Hyang Maha Suci Hidup.

Ini sudah sering saya wejangkan bahkan berulang kali, lebih detil dan lengkap dari yang saya katakan diatas, kenapa Kadhangku masih saja pilih-pilihan, hanya karena rumahnya lebih dekat dari yang lainnya, hanya karena jika di ajak ngobrol selalu iya dan nyambung, hanya karena alasan itu dan ini belaka, lalu letak dari maknanya kalau Wahyu Panca Gha’ib itu bukan golongannya dimana? Yang sedang membimbing itu saya, karena saya pembimbing, maka saya tau betul dan sadar betul, bahwa saya akan bertenggung jawab penuh hingga sampai di akherat nanti, tentang apa yang saya bimbingkan itu. Jika tidak percaya, tanyakan pada semua guru dan kiyai-kiyai yang  membimbing, soal sejauh/sampai mana tanggung jawab seorang pembimbing terhadap yang di bimbingkannya.

Karena itu, saya rewel dan cerewet, tanpa kenal lelah ngomal ngomel, karena saya bertanggung jawab atas apa yang saya bimbingkan kepadamu. Tapi jika memang tidak mau dan tidak bisa, ya sudah,,, yo wes, maksa-maksa buat apa, sudah bukan jamannya pakai sistem paksa-paksa’an. Jalannya sudah saya tunjukan, caranya sudah saya berikan. Tinggal terserah Anda-Anda sekalian. Jika jalan yang saya tunjukan di lalaui, bila cara yang saya berikan di gunakan, berati, secara Hakikat Anda adalah Kadhang saya, secara Syare’at Anda adalah anak didik saya. Yang akan saya tanggung jawab hingga di akherat nanti. Sampai Bertemu dan Berjumpa Di Telaga Kesempurna’an. Jika Bertemu berati Sempurna. Bila tidak... ma’af saya tidak bisa katakan, dan mohon maafkan lagi, saya tidak bisa menolongnya. Karena jalan dan cara serta kuburan kita berbeda... He he he . . . Edan Tenan.

Sebagai seorang bekas tidak karuan, banyak hal yang sudah pernah saya alami sendiri, bukan katanya, sebagai seorang yang yang haus ilmu, banyak lakon dan laku yang pernah saya jalani sendiri, bukan katanya.  Hingga sampai ke Wahyu Panca Gha’ib, juga semuanya serba saya alami sendiri, saya jalani sendiri, saya tempuh sendiri, saya dapatkan sndiri, bukan katanya, berulang kali saya berhasil mencapai titik finis tujuan saya, itupun saya alami sendiri, bukan katakannya, dan Wahyu Panca Gha’ib lah yang bisa membawa saya berhasil sampai ke titik finis tujuan akhir saya, karena saya sudah pernah sampai di tujuan akhir saya, hingga berulang-ulang kali, saya jadi hapal betul, tau betul tempatnya, sikonya. Sangat amat tau dan hapal, seperti apa dan bagaimananya. Dan saya sangat suka itu, karena saya suka, saya tidak bosan-bosannya untuk datang dan sampai lagi ke tempat itu lagi dan itu lagi, hingga bolak balik berulang kali, namun salalu di suruh balik lagi dan balik lagi. saya balik lagi balik lagi, itu bukan karena yang saya gunakan tidak hebat, tapi karena ada yang harus saya selesaikan terlebih dahulu sebelum saya kembali pada tempat saya yang seharusnya dan selama-lamanya.  

Walau saya sudah sering berhasil mencapai titik Finis tujuan akhir saya. Dengan Wahyu Panca Gha’ib, saya tidak Merubah Wahyu Panca Gha’ib. Saya tidak mengaku Malaikat, tidak mengaku Nabi, tidak mengaku Wali, juga tidak mengaku Tuhan. Dan lagi, tidak bim salabim dalam segala halnya. Sakit kepala, setelah mengetahui Hakikatnya, saya minum bodrex. Pegel linu, setelah mengetahui Hakikatnya, saya minum neo remasil. Capek-capek, setelah mengetahui Hakikatnya, saya pijat urut ke tuna netra. Sakit,,, setelah mengetahui Hakikatnya, ya suntik, malah belum lama ini saya sempat rawat inap di rmah sakit. Mau kadhangan, karena tidak ada kendara’an. Saya jalan kaki. Ingin makan ingin merokok, saya jualan akik dan taring macan di facebook dll. Tidak bim salabim. Tidak mentang-mentang karena saya sudah bisa mencapai titik finis hingga berulang kali. Sudah tau tempat saya nantinya di akherat, trus mau apa-apa tinggal bim salabim aba kadabra. Tidak begitu... Para Kadhang tau sendiri kan, saya tidak begitu. Saya tetap menjalani manusia saya dengan apa adanya...

Sebenarnya....
Sebagai seorang Pembimbing, ini adalah bentuk  pamrih saya kepadamu sekalian yang sedang saya didik, yang sedang saya bimbing  para Kadhang kinasihku, agar tidak neko-neko dan anehaneh walaupun sudah punya Wahyu Panca Gha’ib. Tapi... Eh’ Alah tobil... Gusti Pangeran Diponegoro numpake jaran mlayune ngetan separan-paran..... ala embuh. Pikiren dewe. Yang penting jalan sudah saya tunjukan, cara sudah saya berikan, tinggal terserahmu.

Kalau sadarnya selalu nunggu saya sadarkan, kalau ingatnya nunggu saya ingatkan, lalu kalian kapan bisanya ingat dengan sendirinya dan bisanya sadar sendirinya kapan. Jadi... wes wayae iyong meneng. Po jer sing ngecet lombok/mengkreng. Gari nyawang karo udud nunggu panggilan. Yang mungkin datangnya se wayah-wayah. Jika ada yang mlesed dan jatuh, saya akan tertawa sambil menangis penuh kasih dan doa, mugo jalan dan cara dari saya digunakan. Jika melihat yang tepat sasaran, ya wes tentu... sebagai pembimbing... akan merasa wah....  He he he . . . Edan Tenan. SALAM  RAHAYU  HAYU  MEMAYU HAYUNING  KARAHAYON  KANTI  TEGUH  SLAMET  BERKAH  SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku  yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA  POSTINGAN  SAYA  KALI  INI.  Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com


Posting Komentar