"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Kamis, 24 Maret 2016

Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Laku. Aji Mundi Jati Sasongko Jati:

Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Laku. Aji Mundi Jati Sasongko Jati:
3 In 1; “Tri Tunggal” . “Tri Sula”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Wage. Tgl 25 Maret 2016

Keterkaitan Aji Mundi Jati Sasongko Jati Atau Wahyu Panca Laku.
Dengan Wahyu Panca Gha’ib;

Aji Mundi Jati Sasongko Jati adalah Puncak Ilmu dari Segala Ilmu di Tanah Jawa Dwipa, dulu, pada masanya, ilmu ini sangatlah rahasia dan dirahasiakan, serta hanya di miliki oleh seorang saja, yaitu si penciptanya ilmu itu sendiri, dan itupun tidak sampai ke titik finisnya, maksudnya, tidak sampai selesai, karena lelaku akhir dari ilmu ini, adalah penerapan Cinta Kasih Sayang “Nggelar Cinta Kasih Sayang” antar sesama makhluk hidup, sedang si pelaku/pencipta ilmu Aji Mundi Jati Sasongko Jati, adalah seorang resi, yang awalnya merana dan kecewa, karena di khianati sang istri tercintanya, sehingganya, benci dan dendam serta sakit hati yang mendapat, mempersulit lelaku akhrinya, sebab tetap membengkas dihatinya, sukar di bersihkan, hal inilah, yang menjadikan Aji Mundi Jati Sasongko Jati yang dimilikinya kurang sempurna, dan hanya muncul sekejap saja di dunia Persilatan dan Spiritual keTuhanan, lalu,,, menghilang dan musnah kembali ke asal usulnya bersama sang penciptanya.

Namun sebelum musnah, konon Aji Mundi Jati Sasongko Jati, sempat di ajarkan secara paksa, pada seorang putera mahkota titisan dewa, yang kala itu sedang dilanda asmara dunia, namun tetap memiliki sipat dan sikap arif bijaksana, penuh Cinta Kasih Sayang, terhadap apapun tanpa terkecuali, karena dia adalah titisan dewa, dan putera mahkota inilah, yang berhasil mengusai Aji Mundi Jati Sasongko Jati, hingga ketingkatan sempurna.

Proses penyempurna’annya, cukup sederhana, bukan dengan bertapa atau melanglang buana dan sebagainya, seperti yang pernah dilakukan oleh sang resi sa’at lelaku menyempurnakan ilmu Aji Mundi Jati Sasongko Jati cipta’annya, diluar kesengaja’an, karena sang putera mahkota titisan dewa itu, memiliki sipat dan sikap penuh Cinta Kasih Sayang terhadap apapun tanpa terkecuali.

Peribahasanya (jangankan terhadap sesama manusia, pada nyamuk yang menggigit dan menghisap darahnya saja, konon tidak di bunuhnya, melainkan di biyarkan hingga si nyamuk kenyang dan pergi dengan sendirinya).

Sehingganya, diluar kesadarannya, sipat dan sikap Cinta Kasih Sayang yang dimilikinya itu, menyelesaikan tahap akhir dari lelaku Aji Mundi Jati Sasongko Jati.

Dan setelah dimiliki oleh sang putera mahkota tersebut, tidak ada seorangpun  yang mampu mewarisi Puncak Ilmu dari segala Ilmu itu, karena tidak bisa menerapkan Cinta Kasih Sayang setepat Cinta Kasih Sayang yang pernah, di miliki oleh sang putera mahkota titisan dewa tersebut.

Karena pada masa itu “Cinta Kasih Sayang” hanya dimiliki oleh para Resi Ahli Pertapa, yang sudah tidak tertarik lagi, dengan urusan duniawi. Sehingganya, tidak berminat untuk mempelajari Aji Mundi Jati Sasongko Jati, yang konon, dulu sempat jadi buruan para jawara dan pendekar pilih tanding.

Kemudian Aji Mundi Jati Sasongko Jati, muncul kembali beserta ajaran Jowo  Sanyoto, Aji Mundi Jati Sasongko Jati digelar kembali, sebagai upaya para leluhur bangsa jawa, yaitu Naya Genggong Sabda Palon, untuk menjabarkan keada’an jati diri atau guru sejati.

Sebagaimana kebiasaan leluhur nenek moyang jawa, dengan tujuan agar supaya, kawruh lan ngelmu sejatining jowo sanyoto, lebih mudah dipahami para generasi penerus bangsa jawa, maka digunakanlah sanepo/sanepa, saloka/kiasan, perumpama’an atau perlambang.

Dalam acara ritual atau upacara tradisi. Perlambang, saloka atau sanepa ini, diwujudkan ke dalam wejangan Wahyu Panca Laku. Inti dari isi Wejangan Wahyu Panca Laku ini, menggelar arti dari kalimat kiasan (saloka Aji mundi jati sasongko jati), yakni perumpamaan mengenai suatu makna yang dimanifestasikan dalam bentuk peribahasa. Mulai dari eksistensi yang dicipta-Yang mencipta, eksistensi Hidup dan jiwa atau sukma, hingga eksistensi akal budi pekerti. Yang bisa meneguhkan keyakinan/iman  kepada Gusti Pengeran (Tuhan Yang Maha Suci. Maha dari segala Yang Maha Mulia).

Peribahasa dalam terminologi Jawa sebagai “PasemoN” atau kiasan. Kiasan diciptakan sebagai pisau analisa, di samping memberi kemudahan pemahaman akan suatu makna yang sangat dalam, rumit dicerna dan sulit dibayangkan dengan imajinasi akal-budi. Berikut ini adalah Wejangan Wahyu Panca Laku dari Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati, yang pernah saya pelajari dan saya praktek-kan di TKP, yang digunakan dalam berbagai wacana falsafah Jawa Sanyata (Jowo Sanyoto). Warisan dari leluhur jawa Mbah Buyut Naya Genggong Sabda Palon.

Gigiring Punglu; Gigiring mimis;
Merupakan perumpamaan akan ke-elokan Zat Tuhan. Yakni perumpama’an hidup kita, tanpa titik kiblat dan tanpa tempat, hanya berada di dalam hidup kita pribadi.

Tambining Pucang;
Menunjukkan ke-elokan Zat Tuhan, ke-ada-an Tuhan itu dibahasakan bukan laki-laki bukan perempuan atau kedua-duanya. Dan bukan apa-apa, seperti apa sifat sebenarnya, terproyeksikan dalam sifat sejatinya hidup kita pribadi.

Wekasaning Langit; Batas langit;
Umpama batas jangkauan pancaran cahaya. Yakni pancaran cahaya kita. Sedangkan tiadanya batas jangkauan cahaya, menggambarkan keadaan sifat kita.

Wekasaning Samodra tanpa tepi; Berakhirnya samodra tiada bertepi;
Maksudnya ibarat batas akhir daya jangkauan rahsa atau rasa (sirr). Mengalir sampai ke dalam sejatinya warna kita.

Galihing Kangkung;
Galih  adalah bagian kayu yang keras atau intisari di dalam pohon) galihnya pohon kangkung (kosong), maksudnya, perumpamaan ke-ada-an sukma, yang merasuk ke dalam jasad kita. Ada namun tiada.

Latu sakonang angasataken samodra; Bara api setungku membuat surut air samodra;
Menggambarkan keluarnya nafsu yang bersinggasana di dalam pancaindra, dapat membuat sirna segala kebaikan.

Peksi miber angungkuli langit; Burung terbang melampaui langit;
Menggambarkan kekuatan akal budi kita yang bersemayam di dalam penguasaan nafsu, namun sesungguhnya akal budi mampu mengalahkan nafsu.

Baita amot samodra; Perahu memuat samodra;
Baita atau perahu kiasan untuk badan kita, sedangkan samodra merupakan kiasan untuk hati kita. Secara fisik hati berada di dalam jasad. Tetapi secara substansi jasad lah yang lebih kecil dari hati.

Angin katarik ing baita; Angin ditarik oleh perahu;
Menggambarkan pemberhentian nafas kita dalam jasad, sedangkan keluarnya nafas dari dalam jasad kita pula. Dalam jagad besar, prinsip fisika merumuskan angin lah yang menarik atau mendorong perahu. Sebaliknya dalam jagad kecil, rumus biologis maka badan lan yang menarik angin. Ini menggambarkan prinsip imbal balik jagad besar dan jagad kecil.

Susuhing angin; Sarangnya angin;
Menggambarkan terminal sirkulasi nafas kita berada dalam jantung.

Bumi kapethak ing salebeting siti; Bumi ditanam di dalam tanah;
Menggambarkan asal muasal jasad kita berasal dari tanah, kelak pasti akan kembali (terkubur) menjadi tanah.

Mendhet latu adadamar; Mengambil bara sambil membawa api;
Latu wonten salebeting latu; Bara di dalam bara;
Latu binesmi ing latu; Bara terbakar oleh bara;
Menggambarkan badan kita berasal dari bara api, selalu mengeluarkan api, keadaan untuk menggambarkan  sumber dan keluarnya hawa nafsu kita.

Barat katiup angin; Angin anginte prahara; Angin tertiup angin;
Menggambarkan wahana yang menghidupkan badan kita berasal dari udara, selalu mengeluarkan udara, yakni nafas kita.

Tirta kinum ing toya; Air tertelan oleh air;
Ngangsu rembatan toya; Menimba dengan air;
Toya salebeting toya; Air di dalam air;
Menggambarkan badan kita berasal dari air, selalu dialiri dan mengalirkan air,  maksudnya darah kita.

Srengenge pinepe; Kaca angemu srengenge;
Matahari terjemur; Kaca mengandung matahari;
Artinya bahwa adanya cahaya karena sinar dari sang surya. Surya itu sendiri berada di dalam cahaya. Hal ini menggambarkan keadaan indera mata atau netra kita ; mata itu seperti matahari, namun mata dapat melihat karena selalu disinari oleh sang surya.

Wiji wonten salabeting wit; Biji berada dalam pohon;
Wit wonten salebeting wiji; Pohon berada di dalam biji;
Dinamakan pula “peleburan papan tulis”. Menggambarkan keadaan bahwa ZAT Tuhan berada dalam wahana makhluk, dan makhluk berada dalam wahana Tuhan (Jumbuhing kawula-Gusti).

Kakang barep adhine wuragil; Kakaknya sulung, adiknya bungsu;  
Menggambarkan martabat insan kamil, keadaan sejatinya diri kita. Hakekat kehidupan kita sebagai “akhiran” dan sekaligus sebagai “awalan”. Pada saat manusia lahir dari rahim ibu merupakan awal kehidupannya di dunia, sekaligusakhir dari sebuah proses triwikrama atau tiga kali menitisnya “Dewa Wisnu” menjadi manusia melewati 4 zaman; kertayuga, tirtayuga, dwaparayuga, kaliyuga/mercapadha/bumi. Sedangkan ajal, merupakan akhir dari kehidupan (dunia), namun ajal merupakan awal dari kehidupan baru yang sejati, azali abadi.

Busana kencana retna boten boseni; Busana wrasta tanpa seret;
Gambaran jasad yang dibungkus kulit sebagai “busana”. Kita tidak pernah bosan biarpun tidak pernah ganti “busana” atau kulit kita. Kulit merupakan “busana” pelindung dari tubuh kita.

Tugu manik ing samodra;
Menggambarkan daya cipta yang terus menerus berporos hingga pelupuk mata. Daya cipta akal budi manusia jangkauannya umpama luasnya samodra namun konsentrasinya terfokus pada mata batin.

Sawanganing samodra retna; Pemandangan intan samodra;
Menggambarkan pintu pembuka kepada keadaan Tuhan. Tabir pembuka hakekat Zat. Yakni “babahan hawa sanga” atau sembilan titik yang terdapat di dalam diri manusia  sebagai penghubung kepada Zat Maha Kuasa. Disebut juga kori selamatangkeb; melar-mingkupnya maras atau membuka-menutupnya mulut).

Samodra winotan kilat; Samudra berjembatan kilat;
Dalam Islam disebut jembatan “siratal mustaqim”.
Menggambarkan pesatnya yatma sampai padangabyantaraning Hyang Widhi. Adapula yang mengartikan “jembatan kilat”, sebagai perlambang keluarnya ucapan mulut manusia.

Bale tawang gantungan; Rumah atau tempatnya langit bergantung;
(Dalam terminologi Islam disebut arsy atau aras kursi atau kursi kekuasaan Tuhan). Namun bukan dibayangkan sebagai singgasana yang diduduki Tuhan bertempat di atas langit (ke 7), imajinasi demikian justru memberhalakan Tuhan sebagaimana  makhluk-Nya saja. Dalam konteks ini, aras atau tawang gantungan adalah perumpamaan kekuasaan, yang menjadi “wajah” Tuhan. Hakekatnya sebagai “balai sidang” Zat, keberadaannya di dalam kepala dan dada. Sedangkan kursi, atau dilambangkan bale, merupakan perumpamaan singgasana (palenggahan) Zat. Letaknya ada di otak danjantung. Singkatnya, kepala dan dada sebagaitawang gantungan, sedangkan otak dan jantung sebagai bale-nya.

Wiji tuwuh ing sela; Biji tumbuh di atas batu;
Dalam termonologi Islam di istilahkan laufhul mahfudz loh-kalam. Loh/laufhul itu artinya papan atau tempat, sedangkan al makhfudz berarti dijaga/kareksa. Maknanya adalah tempat yang selalu dijaga Tuhann. Yakni hakekat dari “sifat” Zat yang terletak di dalam jasad yang selalu dijaga “malaikat” Kariban. Malaikat merupakan perlambang dari nur suci (nurullah) ataucahyo sejati. Cahyo sejati menjadi pelita bagi rasa sejati atau sirr. Sedangkan loh-kalam artinya bayangan atau angan-angan Zat letaknya di dalam budi, tumbuhnya angan-angan, dijaga oleh malaikat Katiban. Malaikat katiban adalah pralambang darisukma sejati yang selalu menjaga budi agar tidak mengikuti nafsu.

Tengahing arah; Titik tengahnya arah;
Ibarat mijanatau traju. Yakni ujung dari sebuah senjata tajam. Menggambarkan hakekat dari neraca (alat penimbang) Zat. Traju terletak pada instrumen pancaindra yakni; netra (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (pembauan), lidah dan kulit (perasa). Dalam pewayangan dilambangkan sebagai Pendawa Lima; Yudhistira, Bima/Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Makna untuk menggambarkanpanimbang (alat penimbang)  hidup kita yang berada pada pancaindra.

Katingal pisah; Terkesan pisah;  
Menggambarkan keadaan antara Zat (Pencipta) dengan sifatnya (makhluk) seolah-olah terpisah. Sejatinya antara Zat dengan sifat  tak dapat dipisahkan. Sebab biji dapat tumbuh tanpa cangkok. Sebaliknya cangkok tidak tumbuh bila tanpa biji. Biji menggambarkan eksistensi Tuhan, sedangkan cangkok menggambarkan eksistensi manusia. Kiasan ini  menggambarkan hubungan antara kawula dengan Gusti. Walaupun seolah eksis sendiri-sendiri, namun sesungguhnya manunggal tak terpisahkan dalam pengertian “dwi tunggal”  (loroning atunggil).

Katingal boten pisah; Tampak tidak terpisah;
Menggambarkan solah dan bawa. Solah adalah gerak-gerik badan. Bawa atau krenteg adalah gerak-gerik batin. Solah dan bawa tampak seolah tidak terpisah, namun keduanya tergantung rasa. Solah merupakan rahsaning karep (nafsu/jasad), sedangkan bawa merupakan kareping rahsa(pancaran Zat sebagai rasa sejati). Keduanya dapat berjalan sendiri-sendiri. Namun demikian idealnya adalah Solah harus mengikuti Bawa.

Katingal tunggal; Tampak satu;
Menggambarkan zat pramana (mata batin), dengan sifatnya yakni netra (mata wadag) tidaklah berbeda. Artinya, penglihatan mata wadag dipengaruhi oleh mata batin.

Medhal katingal;
Menggambarkan keluarnya sifat hakekat (Tuhan) ke dalam zat sifat (makhluk), yakni ditandai dengan ucapan lisan menimbulkan suara.

Katingal amedhalaken;
menggambarkan keluarnya nafas. Sedangkan kenyataannya menghirup atau memasukkan udara, yang seolah-olah mengeluarkan.

Menawi pejah mboten kenging risak; Bila mati tidak boleh rusak;
Ibarat sukma dengan raga. Bila raga rusak, sukmanya tetap abadi. Dalam terminologi Islam disebut alif muttakallimun wakhid. Sifat yang berbicara sepatah tanpa lisan. Berupa kesejatian yang berada dalam sukma, yakni roh kita sendiri.

Menawi karisak mboten saget pejah; Bila dirusak tidak bisa mati;
Perumpamaan untuk hubungan nafsu danrasa. Walaupun nafsu dapat kita dikendalikan, namun rasa secara alamiah tidak dapat disirnakan. Karena rasa dalam cipta masih terasa, terletak dalam rahsa/sirr kita pribadi. Berhasil menahan nafsu dapat diukur dari perbuatannya; raganya tidak melakukan pemenuhan nafsu, tetapi rasa ingin memenuhi kenikmatan jasad tetap masih ada di dalam hati. Saloka ini untuk memberi warning agar kitawaspadha dalam “berjihad” melawan nafsu diri pribadi.  Karena kesucian sejati baru dapat diraih apabila keingingan jasad (rahsaning karep) sudah sirna berganti keinginan rahsa sejati (kareping rahsa).

Sukalila tega ing pejah ; sukarela dan tega untuk mati;
Menggambarkan orang mau mati, dengan menjalani tiga perkara; pertama, sikap senang seperti merasa akan  mendapat kegembiraan di alam kasampurnan. Kedua, rela untuk meninggalkan semua harta bendanya dan barang berharga. Ketiga,  setelah tega meninggalkan semua yang dicinta, disayang dan segala yang memuaskan nafsu dan keinginan, semuanya ditinggal. Mati di sini berarti secara lugas maupun arti kiasan. Orang yang berhasil meredam hawa nafsu dan meraih kesucian sejati hakekatnyaorang hidup dalam kematian. Sebaliknya orang yang selalu diperbudak nafsu hakekatnya orang yang sudah mati dalam hidupnya. Yakni kematian nur atau cahaya sejati.

Semua yang disebut; besar, luas, tinggi, panjang, lebih, ialah bahasa yang digunakan untuk mengumpamakan keadaan Tuhan. Sebaliknya, semua yang disebut kecil, sempit, rendah, pendek, kurang, dan seterusnya ialah bahasa yang dugunakan untuk menggambarkan “sifat” yakni wujudnya kawula (manusia).
Gambaran menyeluruh namun ringkas mengenai keadaan Zat-sifat (kawula-Gusti) sebagaimana “cangkriman” berikut ini;

Bothok banteng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong;
Bothok : sejenis pepesan untuk lauk, terdiri dari parutan kelapa, bumbu-bumbu, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Bothok berbeda dengan pepes atau pelas, cirikhasnya ada rasa pedas. Campurannya menentukan nama bothok, misalnya campur ikan teri, menjadi bothok teri. Lamtoro, menjadi bothok lamtoro. Udang, menjadi bothok udang. Adonan bothok lalu dibungkus dengan daun pisang. Dan digunakan potongan lidi sebagai pengunci lipatan daun pembungkus.

Nah... Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati inilah, bahan untuk membuat bothok banteng. Sedangkan Bothok Banteng itu, adalah Wahyu Panca Gha’ib. Dibungkus dengan daun asem jawa, yang sangat kecil/sempit. Sedangkan tusuk penguncinya menggunakan alu semacam lingga terbuat dari kayu sebagai alat tumbuk padi. Alu itu panjang dan lurus, namun alu di sini bengkok. Jadi mana mungkin digunakan sebagai bothok.

Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati di atas. Menggambarkan keada,an yang tampak mustahil jika dipahami hanya menggunakan akal budi saja. Bothok banteng maknanya adalah menggambarkan adanya Zat, yang tidak lain adalah Hidup kita pribadi. Godhong asem, menggambarkan keada’an sifat, yakni sebagai bingkai Hidup  kita, kenyataan dari beragamnya manusia. Alu bengkong, menggambarkan afngal semua, yakni angan-angan, budi, pekerti dan panca indera hidup kita.

Singkatnya, berdirinya/adanya Hidup kita ini, asisinglon warna kita, tampak dari solah dan bawa. Selain makna di atas, bothok banteng diartikan sebagai Wahyu Panca Gha’ib. Godhong asem, adalah Wahyu Panca Laku. Alu bengkong adalah lelakunya “Anggelar Cinta Kasih Sayang”.

Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati. Puncaknya ilmu dari segala ilmu ini, pernah jadi buruan Raja-Raja Jawa, setelah dibawa lenyap oleh leluhur kita “Naya genggong Sabda palon” Karena dianggap satu-satunya Ilmu Kesempaurna’an yang paling Sempurna. namun sejauh pembelajarannya, tidak ada satupun yang berhasil.

Selama berabad-abad lamanya, Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati, lenyap bak di telan bumi bersama “Naya genggong Sabda palon” leluhur jawa, menjadi mitos yang dianggap tidak nyata, karena siapapun yang mempelajarinya, dapat di pastikan gagal, sebab sudah kemomoran dengan  ajaran-ajaran baru yang di bawa oleh para pendatang/perantau dan berusaha menguasa Tanah/Bumi Jawa.

Kemudian muncul lagi dijaman Proklamasi. Dimiliki oleh seorang Opsir Angkatan Laut, yang masih keturunan Raja majapahit yang menghilang dari kedaton. Yang Pinilih lan Pininto oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk menjadi manusia Pertama, menerima Wahyu Panca Gha’ib. Dengan kesempurna’an Wahyu Panca Laku yang dibawanya sejak lahir. Bernama Pangeran Smana/Smono Sastrohadijoyo.

Namun sayang,,, setelah sepeninggalan Beliau “Pangeran Smana/Smono Sastrohadijoyo”. Hanya ada beberapa Pewaris saja, yang berhasil mencapai Sampurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. Selebihnya, baru sampai ditahapan Saring Sinaring Saring (Belum Tentu).

Di karenakan, tidak tepatnya anggapan bab Wahyu Panca Gha’ib, bahkan salah menafsirkan Wahyu Panca Gha’ib, dianggap itu, disangka ini dan itu ini dll. Sehingganya, jangankan bertemu dengan Wahyu Panca Laku, yang merupakan sistem pengguna’an atau penerapan Wahyu Panca Gha’ib. Untuk  Berproses Ke Sempurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. Soal Wahyu Panca Gha’ib-nya saja, yang menjadi bibit sakawitnya, simpang siyur sesuai kepentingan pribadinya masing-masing.  

Dengan Pengalaman atau Pengetahuan Pribadi yang berhasil saya temukan ini. Saya berharap... Seluruh Manusia Hidup, khususnya Pewaris Wahyu Panca Gha’ib dimanapun berada. Bisa tergugah dan tergerak Hatinya/Rasanya, untuk mempertahankan dan menyebar luaskan. Kebenaran yang berhasil saya ungkap kebenarnnya ini, kepada siapapun tanpa terkecuali, dengan Iman Cinta Kasih Sayang, bukan dengan yang lainnya. Tapi,,, harus tau sendiri dulu, harus mengalami sendiri dulu, jika masih katanya saya, sebaiknya tidak usah neko-neko. Karena itu akan lebih mempersulit sikon pribadinya sendiri. Jadi, cukup simpan dan pertahankan, dan kalau sewaktu-waktu sudah tau buktinya sendiri, baru di sebar luaskan...
Hormat saya:
Wong Edan Bagu.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com
Posting Komentar