"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Minggu, 31 Juli 2016

SUDAHKAN ANDA MENGENAL HIDUP ANDA...?!

SUDAHKAN ANDA MENGENAL HIDUP ANDA...?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Minggu Pahing. Tgl 31 Juli 2016

MANFAAT DAN INDAHNYA KESADARAN MURNI;
Para Kadhang dan Para Seduur Kinasihku sekalian.... Ketahuilah. Bahwa sebenarnya.
Menggali Rasa Yang Meliputi Seluruh Tubuh Kita, atau dengan istiah lainnya. Menggali Kesadaran Murni. Potensi Keimanan, Maksud, dan Kebahagia’an kita, ini akan sangat membantu membangkitkan proses penyembuhan, bagi yang sedang dalam bermasalah sakit, apapun penyakitnya,  karena Dzat Maha Suci telah menganugerahi setiap dari diri kita, dengan bakat-bakat yang unik, dan karunia-karunia lainnya yang dibawa kedunia ini.

Seni Penyembuhan Tradisional dan Hidup Sehat Secara Alami, adaah Rahasia Penyembuhan Melalui Energi Dzat Maha Suci. Saat sekarang ini, dimasa yang serba modern, kata penyembuhan tradisional secara alami, akan terdengar sedikit asing bagi kebanyakan orang,  hal ini dikarenakan semakin tergerusnya, kesadaran murni yang di miliki setiap manusia hidup, untuk menemukan identitas dirinya sendiri, yang sebenarnya hal ini kerap terjadi,  tak-kala dirinya tertimpa satu pengalaman pahit masa lalu, yang terekam dengan kuat oleh memori otaknya, lalu menyebabkan dirinya kehilangan identitas kediriannya, hal ini tak lain disebabkan oleh kegersangan spiritual. Yang namanya Penyakit kehilangan “ identitas kediriannya “ inilah... Sebenarnya penyakit yang paling berbahaya bagi setiap manusia hidup. 

Timbulnya penyakit ini, dekarenakan manusia saat ini, yang hanya ditekankan secara langsung, ataupun tidak langsung, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya, untuk selalu berusaha mempertajam rasionya dan mengesampingakan Panggilan Hidup (Hati Nuraninya). Manusia yang hanya bisa berpikir saja, adalah binatang yang paling cacat bagi saya. Ilmunya akan menggapai tingginya angkasa, tetapi hatinya malah diperbudak oleh kerakusan, iri hati, kebencian, dendam, kegersangan emosi, dan penipuan, keterampilannya mampu menggerakan gunung-gunung, tetapi tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Itu sungguh sangat di sayangkan bukan...?!

Menurut pengalaman spiritual pribadi saya. Manusia dalam literatur Agama, adalah makhluk yang Ber-Jasmani dan Ber-Rohani. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Manusia dalam literatur Ilmu, adalah makhluk yang Ber-Syare’at dan Ber-Hakikat. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Dan Manusia dalam literatur Iman atau Yakin atau Percaya, adalah makhluk yang Ber-Wahyu Panca Gha’ib dan Ber-Wahyu Panca Laku. Sama saja, keduanya tidak dapat dipisahkan.

Sebagai makhluk dualitas ini, kita manusia mempunyai potensi, untuk berhubungan dengan dunia materi dan dunia spiritual, yang mampu menangkap gelombang panjang dan gelombang pendek. Ia mampu menangkap hukum-hukum alam, dibalik gejala-gejala fisik yang diamatinya. Tetapi ia juga mampu untuk menyadap isyarat-isyarat ghaib, dari alam yang lebih luas lagi. Maka tak-kala salah satu potensi manusia ini, dikembangkan, luar biasa, sedangkan potensi lainnya dimatikan, manusia menjadi makhluk yang bermata satu.

Dimasa modern saat ini, lebih-lebih karena ada tunjangan masalah yang tak kunjungan selesai/teratasi, manusia terlalu banyak disibukan untuk mencari hiburan bagi nafsunya, yang sebenarnya telah terlalu banyak dan berlebihan. Hal ini terbukti dengan kemajuan dunia teknologi dan informasi multimedia, telah menghadirkan sedemikian banyaknya hiburan, dengan begitu cepat dan mudah. Dunia barat yang terus mempopulerkan hal ini, menganggap manusia bagaikan “robot”  yang telah terprogram untuk mencari dan mencari kenikmatan jasmaniah semata. Derasnya arus teknologi informasi ini, telah membuat kita lupa untuk memfilter diri kita sendiri, sehingga kita terlalu mudah dibuai dan terlena, sampai-sampai kita tidak dapat menyadarinya lagi dan menyebabkan diri kita terjeremus, dalam kenestapa’an yang tiada akhir.

Yang harus kita ingat adalah, bahwa kitalah yang seharusnya mengendalikan teknologi informasi ini dan bukan sebaliknya, dimana kita melupakan bahwa dalam diri manusia ada dimensi-dimensi lain atau yang disebut dimensi halus (ghaib) yang menentukan jati diri manusia. Sedikitnya ada empat lapisan ghaib yang menyertai manusia yaitu:
1. Tubuh fisik, disebut juga tubuh eterik sebagaimana dapat kita lihat dengan mudah.
2. Tubuh emosional, juga tubuh astral atau tubuh kelestial, tubuh inilah kita mengenal suka atau tidak suka pada suatu hal (rasa).
3. Tubuh mental, disebut juga tubuh kausal atau tubuh rasional, tubuh yang satu ini, kita dapat mengukur satu resiko perbuatan (pikir).
4. Tubuh spiritual, disebut juga tubuh cahaya atau lingkaran cahaya. Dimana keluhuran dan keagungan manusia, sebagai makhluk paling sempurna cipta’an Dzat Maha Suci/Tuhan.

Ada sebagian anggapan bahwa pengetahuan tentang dimensi halus ini, hanyalah dimiliki oleh orang-orang khusus saja, yang memiliki spiritualitas tinggi, sehingga orang awam tidak dapat mengenalnya. Namun,,, berdasarkan bukti pengalaman spiritual pribadi saya sendiri di TKP, saya berani ditegaskan, bahwa dimensi halus (ghaib) bukanlah rekayasa atau mengada-ada semata. Ia eksis dalam setiap tubuh manusia manapun, dan dapat di ketahui dan di rasakan bagi mereka, yang punya kepeka’an dan kemauan untuk mengenalnya.

Bahkan konon kabarnya, sekarang berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan lebih banyaknya orang yang memang sengaja mempelajari dan memperdalam dunia metafisika, seluruh lapisan dimensi halus ini, dapat dibuktikan dengan tekhnik foto Kirlian. Dengan fotografi Kirlian, energi-energi halus ini, dapat difoto dengan jelas. Warna dan bentuk dari energi dimensi haus ini, terlihat pada hasil foto, sehingga tampak seperti benda fisik.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian....
Kalau kita browsing di google, untuk mengetahui opini orang-orang tentang pengertian hidup. Wow... buanyaknya orang  yang bingung dan tak menentu arahnya. Ada yang pengertian hidup jomblo itu susah – mau hidup merit bingung, pengertian hidup untuk uang – uang untuk hidup,  pengertian hidup itu untuk dinikmati – tapi pas sakit bingung, bahkan tidak sedikit yang hidupnya hampa, walau sudah banyak yang dimilikinya, kalau tidak percaya, coba saja perhatikan dan teletilah dalam mengamati tulisan yang Anda baca.

Dan anehnya, kebanyakan dari kita, justru menyukai hal tersebut. Karena mungkin, mayoritas, yang seperti itu itu, gambarnya cantik-cantik-ganteng-ganteng, dan mudah di ajak berkomunikasi, lumayan, buat hiburan, bisa dijadikan mangsa sa’at lapar dan haus dll, sehingganya kalau ada kata-kata yang menuntun, mendidik, membimbing, mengarahkan ke jalan yang tepat dan benar, katanya pusing, males bacanya, bikin stres, kepanjangan, ribet bla...bla...bla... He he he . . . Edan Tenan.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian....
Kenapa kita sampai bingung akan pengertian hidup kita sendiri...?!
Banyak alasannya, tapi ada satu persama’an, itu di karenakan kencenderungan kita, untuk menggunakan pikiran kita sendiri, akan pengertian hidup itu untuk apa. Masih ingat kan, dengan Kata-kata saya yang Seperti INI: “Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan

Kalau Anda bisa merenungi kata-kata saya diatas. Anda pasti bisa tau sendiri, bukan katanya. Sehingganya. Iman. Yakin. Percaya. Itu lahir secara alami/murni. Bukan karena paksa’an katanya.

Tapi jika tidak. Anda akan muter-muter terus dalam lingkaran bingung itu, selama Anda masih belum mau menanggakan egoisme. Sehingganya... Begitu mengambil kesimpulan sendiri akan pengertian hidup itu untuk apa, lahirlah harapan, standar penilaian, sudut pandang, bagaimana melihat hidup ini. Dan lebih parah lagi, diyakininya sebagai kebenaran yang mutlak ( sikap pikiran “aku benar” ).

Namun... Pas dihadapkan dengan realita. Gubrak...!!! Brug...!!! Preett...!!!
Terjadi ketidak sesuaian, dan timbulah kebingungan dan kekecewa’an. Besar kekecewa’an itu tergantung seberapa jauh jarak antara realita dan harapan kita. Semakin jauh ya semakin frustrasi saja tentunya. He he he . . . Edan Tenan.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian....
Menurut Pangalaman Spiritual Pribadi saya di TKP. Orang yang memiliki pengertian hidup berdasarkan prinsip alam, kehidupan yang ada cenderung bahagia. Mereka paham bahwa,  semakin kita hidup selaras dengan sistem kehidupan yang universal, semakin makmur dan bahagialah kita. Hidup sukses, hukum kepemimpinan, sebab akibat, hukum daya tarik, sikap positif, peremajaan sikap dan seterusnya, merupakan hal yang perlu untuk di pelihara dan di lakukan. Tapi bukan PENTING apalagi TERPENTING. Karena yang Penting dan Terpenting adalah hanya Dzat Maha Suci/Tuhan. Bukan yang lain selain-Nya.

Masa kehidupan manusia hidup terbagi dua;
Kehidupan yang pertama adalah di dunia ini dan kehidupan kedua, berlaku di akhirat. Kedua kehidupan ini berlaku dalam keada’an konkrit. Berbagai macam ajaran mengenai syare’at dan hakikat kehidupan dan tujuan hidup telah berkembang. Masing-masing berbeda tentang pengertian dan tujuan hidup. Manun hanya Hidup itu sendirilah yang dapat menjelaskan arti dan tujuan hidup manusia sebenarnya-secukupnya, sehingga dapat dipahami oleh setiap individu yang membutuhkannya.  

Dulu saya pernah menjadi seorang atheis, dan orang atheis mendasarkan doktrinnya atas teori naturalism, tidak dapat memberikan alasan kenapa adanya hidup ini, kecuali sebagai kelanjutan dari hukum evolusi, pada setiap benda yang sejak dulu telah mengalami perubahan alamiah. Sementara mereka (orang-orang atheis) tetap salin berbantahan pula, mengenai hukum evolusi itu sendiri, disebabkan banyaknya benturan (dead lock) dalam analysa dan teorinya. 

Benturan itu mereka namakan Missing Link. Untuk tujuan hidup, mereka juga tidak mempunyai arah dan alasan yang tepat. Tetapi mereka semua sama, berpendapat bahwa yang ada kini akan musnah dengan sendirinya di ujung zaman, sesuai dengan menyusut dan habisnya alat kebutuhan hidup yang disebabkan terganggunggunya, stabilitas susunan bintang di alam semesta ini. Mereka berkesimpulan bahwa hidup ini, dimulai dari kekosongan, telah terwujud secara alamiah, dan sedang menuju ke arah kekosongan alam semesta, dimana setiap individu hilang berlalu tanpa bekas dan tidak akan hidup kembali.

Dalam hal ini mereka melupakan unsur Roh Suci (HIDUP), yang ada pada setiap individu itu. Pihak yang menganut paham Plurality atau Trinity, walaupun tidak membenarkan teori evolusi , malah mengakui manusia hidup ini, memulai hidupnya dari satu diri, yang sengaja diciptakan Dzat Maha Suci/Tuhan, tetapi mereka tdak dapat memberikan alasan tentang maksud apa, yang terkandung dalam perencana’an pencipta’an Dzat Maha Suci/Tuhan itu. Sebagai tujuan hidup, mereka sama sependapat bahwa nanti akan berlaku kehidupan balasan sesudah mati, tetapi dalam keda’an ghaib, bukan konkrit, dimana setiap pribadi baik akan menerima kebahagia’an jiwa dan pribadi buruk akan merana. 

Pihak pertama yang saya uraikan di atas tadi, bertentangan dengan ajaran Al Qur’an yang pernah saya pelajari, mengenai asal usul hidup dan juga bertentangan mengenai tujuan hidup.  Sedangkan pihak kedua yang saya uraikan diatas juga, bersama’an dengan ajaran Al Qur’an yang pernah saya pelajari, mengenai asal usul hidup dan juga bersamaan tentang tujuan hidup. Tetapi berbeda dalam hal ghaib dan konkritnya.

Sebaliknya kedua pihak (agama dan Plurality/Trinity) sependapat tentang arti hidup, yang tidak lain hanyalah berjuang untuk kebutuhan dan kelanjutan generasi, tetapi mereka (agama dan Plurality/Trinity) melupakan, bahwa pendapat demikian akan berujung dengan pemusnahan generasi mendatang, karena setiap individu, lebih mementingkan keada’an sekarang, tanpa ancaman resiko konkrit, yang akan dihadapi di akhirat nanti. 

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian... Bukti yang pernah saya peroleh saya Praktek di TKP, sangat sesuai dengan Al-Qur’an, yang menjadi dasar ajaran hidup dalam Islam, memberikan alasan dan keterangan secukupnya mengenai sebab, arti dan tujuan hidup manusia. 

Bahwasanya... Alam Semesta raya ini, dulunya dari kekosongan total, tidak ada satupun yang ada, kecuali Dzat Maha Suci Allah/Tuhan yang Maha ESA, yang senantiasa dalam keada’an ghaib. DIA mempunyai maksud, agar berlaku penyembahan terhadap-NYA, yang tentu harus dilaksanakan oleh makhluk, yang memiliki logika. Maka perlulah diciptakan jin dan manusia,  yang akan menjalani ujian, dimana dapat ditentukan berlakunya pengabdian dimaksud.

Kedua macam makhluk ini, membutuhkan tempat Hidup, dimana segala kebutuhan dalam pengujian tersedia secara alamiah atau ilmiah, maka diciptakanlah benda angkasa berbagai bentuk, masa dan fungsi. Semuanya terlaksana secara logis menurut rencana tepat-Nya, dan tiba masanya dimulai pencipta’an Jin dan Manusia, masing-masing berbeda di segi abstrak dan konkrit. Mulai dari sebelum Adam hingga sampai ke Adam, sebagai manusia yang paling sempurna, di bandingkan manusia-manusia sebelum adam dan mahluk lainnya.

Dzat Maha Suci Allah/Tuhan itu Pencipta tiap sesuatu dan DIA menjaga tiap sesuatu itu. (QS 39/62)  DIA pelaksana bagi apa yang DIA inginkan. (QS 85/16)
Dan tidaklah AKU ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk menyembah AKU (di akhirat utamanya). QS 51/96. 

Al-Qur’an memberikan ajaran, tentang arti Hidup, bahwa hendaklah menghubungkan dirinya secara langsung kepada Dzat Maha Suci tanpa perantara apapun, dengan cara “LAKU” Maksudnya... Melaksanakan hukum-hukum yang tersurat di dalam al-quran dan tersirat di dalam semesta alam.

Dzat Maha Suci-lah yang menciptakan kematian dan kehidupan ini. Dzat Maha Suci menguji kita, yang mana diantara kita, yang lebih baik perbuatannya ”layak”. Dzat Maha Suci itu,  Mulia lagi Pengampun. Baca saja (QS; 67/2).  Dzat Maha Suci menunjukkan garis hukum pada kita (manusia). Namun terserah pada kita, mau bersyukur atau mengingkarinya. Baca saja (QS; 76/3) 

Kehidupan ini bukanlah akan berlalu tanpa sebab akibat, tetapi berlangsung dengan catatan atas semua gerak dzahir dan batin, yang menentukan nilai setiap individu, untuk kehidupan konkrit, nantinya di alam akhirat, dimana Hidup terpisah antara yang beriman dan yang tidak beriman untuk selamanya.

Dengan uraian saya yang singkat dan sederhana ini, jelaslah sudah, bahwa kesadaran murni itu, adalah mengenal Hidup. Mengenal Hidup itu, indah dan bermanfaat. Karena Hidup yang bersemayan di dalam setia diri kita, jika di kenali seagi masih bersemayan di diri kita. Bukan hanya  akan menjelaskan kenapa adanya hidup ini, tetapi juga memberikan artinya Hidup serta tujuannya yang harus dicapai oleh setiap diri. Dan dengan Kata Maaf yang Tiadatara. Saya bertanya; SUDAHKAN ANDA MENGENAL HIDUP ANDA...?!

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
                                 
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Rabu, 27 Juli 2016

Cara Menemukan Kesadaran Murni didalam Laku Spiritual:

Cara Menemukan Kesadaran Murni didalam Laku Spiritual:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Rabu Pon. Tgl 27 Juli 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian... Ketahuilah. Seseorang yang telah menemukan kesadaran murni, dan telah mendapatkan pencerahan dari Hidupnya sendiri, tidak akan bersandar pada siapapun, pada suatu apapun dan tidak akan membuat dirinya sandaran Bagi siapapun. INGAT Itu.

Sebab... Kesempurna’an seluruh pencipta’an ini. Sesungguhnya ada padatiap-tiap diri manusia hidup. Dan tujuan ini, hanya dapat dipenuhi jika manusia hidp itu, telah dapat menyadarkan bagian dari dirinya, yang mewakili Dzat Maha Suci/Tuhan-nya, yaitu Dzat Maha Suci/Tuhan itu sendiri.

Laku Spiritual, hanya dapat dibangkitkan ketika manusia hidup, dengan segenap jiwa raganya, laku hanya kepada Dzat Maha Suci/Tuhan. Karena Dia adalah,,, sandaran yang paling hakiki. Maksudnya; Sumber energi atau kekuatan  yang sangat kuat tanpa batas,  dan tidak pernah habis. Karena Dzat Maha Suci adalah pemelihara dan pelindung terhadap seluruh makhluk-Nya, tanpa kecuali.

Ada kisah dari salah satu Nabi yang saya sukai, yaitu Nabi Muhammad saw; Pada suatu ketika, Nabi Muhammad diancam akan dibunuh, dengan sebuah pedang yang terhunus di leher Nabi, oleh seorang pembunuh bayaran.

Si pembunuh yang telah meletakan pedang di leher Nabi, dengan nada mengancam berkata ”Siapa yang dapat menyelamatkan Engkau dari pedangku ini?”

Dengan PD, penuh percaya diri dan Iman, maksudnya, keyakinan yang mantap Nabi menjawab “Allah!”

Spontan pedang Si pembunuh terpental , dan pedang dapat diambil oleh Nabi dan mengancam balik Si pembunuh yang tengah menggigil.
”Sekarang siapa yang dapat menyelamatkanmu?”

 “Tidak ada,” Jawab si pengancam yang hendak membunuh.
 “Hanya belas kasihmu yang bisa menyelamatkan saya.”

Romo Semono Sastrohadijoyo menjelaskan tentang bagaimana Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Hare Cokro Semono menjadi sumber kekuatan dan sumber energi tanpa batas. Yang kalau saya jelaskan dengan bahasa sederhananya, agar mudah di pahami. Seperti ini INTInya.

Jika seorang Putro Romo dapat menggantungkan gelar gulung dirinya, dengan sepenuhnya, hanya kepada Sang Dzat Maha Suci, maka sesungguhnya ia berada dalam pemelihara’an-Nya, (lebur manunggal menjadi satu dengan-Nya),  sehingga tidak ada satupun kekuatan yang dapat mencelakakannya. Ketika seseorang butuh bantuan-Nya, segera Dia memberikan bantuan tanpa menunggu perantara/utusan. Karena itulah Romo Semono Sastrohadijoyo Mengingatkan “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci”

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian... Ketahuilah bahwa sesungguhnya, walaupun seluruh manusia dan jin memberi pertolongan dan bantuan kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikannya, terkecuali sesuatu yang  telah ditetapkan Dzat Maha Suci  untukmu. Dan sebaliknya, bila mereka menjahatimu, maka merekapun tidak akan dapat melakukanya kepadamu, terkecuali yang telah ditetapkan oleh Dzat Maha Suci atasmu. Sebab itu. Romo Semono Sastrohadijoyo wanti-wanti dalam sabda-nya “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci”

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian... Coba Perhatikan Kata-Kata Romo Semono Sastrohadijoyo. (Jika seorang Putro Romo dapat menggantungkan gelar gulung dirinya, dengan sepenuhnya, hanya kepada Sang Dzat Maha Suci, maka sesungguhnya ia berada dalam pemelihara’an-Nya, (lebur manunggal menjadi satu dengan-Nya),  sehingga tidak ada satupun kekuatan yang dapat mencelakakannya. Ketika seseorang butuh bantuan-Nya, segera Dia memberikan bantuan tanpa menunggu perantara/utusan. Karena itulah Romo Semono Sastrohadijoyo Mengingatkan “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Tetep Kunci”)

Apa detail dari “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci itu?” Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu Didalam Jiwa Ragamu.

Maksudnya;
Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu di dalam jiwa ragamu, niscaya Dia memelihara-Mu. Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu di dalam jiwa ragamu, niscaya kamu mendapati-Nya,  selalu ada dihadapanmu, di belakangmu, disampingmu, diatas dan dibawahmu dan didalam dirimu. Apabila kamu bermohon, maka bermohonlah hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah hanya kepada  Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu mencintai, maka cintailah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu mengasihi, maka kasihilah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu menyayangi, maka sayangilah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Jangan yang lain selain-Nya. Agar iman-mu tidak terbagi, agar supaya kesadaran-mu murni “Tan kemomoran”.

“Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci” (Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu Didalam Jiwa Ragamu).

Adalah merupakan kalimah yang ampuh, yang keluar dari sabda lisan  Romo Semono Sastrohadijoyo, untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. mungkin ada diantara kita yang selama ini telah mengabaikan kalimat “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Tetep Kunci”, yang artinya telah melupakan Dzat Maha Suci.

Seseorang butuh manakala ia gagal dalam menjalani hidup. Tuhanpun bukan lagi awal dan akhir dari setiap perbuatan, melainkan hanya sampingan. Tuhanpun hanya sebagai pelarian, bukan tujuan. Begitupun sebaliknya.  Padahal kitalah yang membutuhkan hubungan ini agar selalu harmonis dengan-Nya. He he he . . . Edan Tenan.

Lalu....
Bagaimana Cara Menemukan Kesadaran Murni didalam Laku Spiritual...?! Jawabannya; BERSIHKAN HATI DAN BUKA PIKIRANmu Dengan Jernih”

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian... Menurut Pengetahuan Laku Spiritual Pribadi saya Wong Edan Bagu. Tuhan-Dzat Maha Suci itu, Indah dan Tenteram serta mencintai, mengasihi, menyayangi semua dan segalanya yang telah di ciptakan-Nya. Itu sebab, seluruh mahluk hidup, memuja-Nya dan Berburu dengan berbagai macan cara untuk mendapatkan-Nya. 

Pertanya’annya sekarang. Apa buktinya kalau Tuhan Dzat Maha Suci itu Indah dan Tenteram..?!

Ini Buktinya;
Buktinya... Tidak seorangpun yang menyukai keburukan atau kejelekan. Semuanya menyukai ke INDAHAN. Demi sebuah keindahan, berbondong-bondong mendatangi pantai, tanpa takut bahaya dari ombak di tepinya. Iya apa iya? Ini membuktikan kalau Dzat Maha Suci Tuhan itu  Indah, dan menanamkan keindahan itu pada tiap-tiap diri manusia hidup cipta’an-Nya.

Buktinya... Tidak ada seorangpun yang bisa sehat bugar kalau tidak tidur. Baik siang maupun malam. Yang namanya Tidur itu, harus. Tidak bisa tidak. Pada hakikatnya, tidur adalah Tenteram. Jika tidak Tenteram. Tidak akan bisa tidur. Iya apa iya?

Lalu apa buktinya kalau Tuhan Dzat Maha Suci itu mencintai, mengasihi, menyayangi semua dan segalanya yang telah di ciptakan-Nya..?!

Mudah... Ini Buktinya;
Apa mungkin bisa ada di Dunia ini. Jika tidak di cintai, di kasihi, di sayangi-Nya...?!

Tapi Kenapa...?!
Ada orang yang penampilannya indah, tapi ia tidak disukai orang lain? Kenapa ada orang yang memiliki rumah yang megah tapi hidupnya tidak bahagia ? Kenapa ada orang yang suaranya indah, tapi akhirnya ia mengalami nestapa ? Kenapa ada orang yang mencintai dan mengasihi serta menyayangi, namun di balas dengan kebencian, caci maki, fitnah dan keburukan lainya ?

Sebaliknya, ada orang tua yang secara fisik tidak menarik, tapi dicintai dikasihi di sayangi banyak orang. Ada orang yang tunanetra tapi suaranya dipuji banyak orang. Ada tukang hasut, tukang adu domba, tapi justru banyak teman, di percaya, ada tukang tipu tapi di percaya, jahat tapi kaya raya dll.

Jawabanya;
Pasti ada apa-apanya dibalik fenomena tersebut. Maka... Laku-lah-Baca-lah “Kunci” Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci.

Praktekan Wahyu Panca Gha’ib dengan Panca Laku. Tanpa begitu, kita takan pernah bisa mengerti apalagi paham. Karena ini sudah menyangkut Dzat Maha Suci Hidup. Jadi,,, hanya dengan Bersama-Nya ah kita bisa Tau. Untuk itu....

Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu di dalam jiwa ragamu, niscaya Dia memelihara-Mu. Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu di dalam jiwa ragamu, niscaya kamu mendapati-Nya,  selalu ada dihadapanmu, di belakangmu, disampingmu, diatas dan dibawahmu dan didalam dirimu. Apabila kamu bermohon, maka bermohonlah hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah hanya kepada  Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu mencintai, maka cintailah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu mengasihi, maka kasihilah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu menyayangi, maka sayangilah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Jangan yang lain selain-Nya. Agar iman-mu tidak terbagi, agar supaya kesadaran-mu murni “Tan kemomoran”.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
                                 
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

Sabtu, 23 Juli 2016

MAKSUDNYA ROMO SEMONO KEPADA PUTERO ROMO:

MAKSUDNYA ROMO SEMONO KEPADA PUTERO ROMO:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Wage. Tgl 23 Juli 2016

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian....
Dulu,,, semasa Romo Semono Sastrohadidjoyo masih sugeng/Hidup, setiap waktu, beliau nyaris tidak pernah istirahat, karena di setiap waktunya, selalu ada Putero Romo yang datang menghadap beliau, baik secara lahir maupun secara bathin. Namun,,, sesibuk apapun, beliau tetap siap sedia sebagai Pandita Ratu. Beliau juga bisa bertani, seperti mengolah sawah, mulai dari menggarap, menanam hingga ke panen, disisi lain, beliau menerima tamu, disisi lain agi, beliau bersenda gurau bersama kedua istrinya, disisi lain, beliau Laku Patrap Semedi, manembah kepada Tuhan. Di samping menerima semua karakter tamu yang datang, khususnya Para Putero Romo, semua dan segala tetek bengeknya kehidupan manusia sewajarnya, tidak ada satupun yang terbengkalai.

Hal ini di lakukannya secara bersama’an. Sungguh luar biasa bukan? Jika kita tidak teleti, sudah pasti tidak akan mengrti, apa agi tau maksudnya. Maksud Romo Semono melakukan ini, bukan karena pamer kesaktian atau menunjukan kelebihannya, sebagai Pandita Ratu Piihan. Tapi mengajari kita semua, bahwa kita harus bisa mengetahui dengan sadar, mana kepentingan dan mana keperluan, karena dengan mengetahui, mana kepentingan dan mana keperluan, siapapun dia, apa lagi Putero Romo, pasti bisa meletakan kepentingan pada tempatnya kepentingannya, dan keperluan pada keperluannya secara tepat dan benar.

Seperti yang telah di contohkan oleh Romo Semono yang sudah saya jelaskan diatas, sehingganya, tidak ada satupun yang terbengkalai, semuanya menjadi laku, artinya tidak ada yang sia-sia dan percuma, serta berakhir dengan sempurna. Untuk itu, ketahuilah dengan sadar, mana yang penting dan mana yang perlu, lalu letakan pada tempatnya masing-masing, jangan di campur aduk menjadi satu, seperti es cendol campursari.

Romo Semono kan Pandito Ratu. Ya jelas bisa lah,,, pada sa’at yang bersama’an, bisa di sawah, bisa menerima tamu, bisa bersama istri dll, sedang kita apa? Tidak mungkin bisa...!!!

Apapun dan siapapun serta bagaimanapun itu Romo Semono. Hakikatnya adalah Wahyu  Panca Gha’ib dan Syare’atnya adalah Wahyu Panca Laku. Tidak punya selain itu dan tidak menggunakan apapun selain itu. Artinya; apakah kita tidak punya, apa yang di miliki oleh Romo Semono? Bukankah kita memiliki yang sama?

Tapi Romo Semono kan manusia pilihan...
Semua manusia hidup itu, adalah pilihan, bukankah Tuhan sudah berfirman soal kesempurna’an kita sebagai manusia hidup, di banding mahkluk lainnya...!!! tidak ada alasan untuk tidak bisa, sementara kita memiliki dan melakukan hal yang sama. Berjalan di jalan yang sama dan menuju pada satu titik yang sama pula.

Mengenai hal ini, saya beri satu bahan mentah, agar mudah untuk mengetahui dan memilahnya. Ini bahannya: (Dzat Maha Suci Hidup itu Penting dan Isi dunia itu Perlu). Silahkan di olah sendiri, menurut masing-masing kemampuan. Ingat...!!! jangan di campur aduk, dan tempatkan pada tempatnya masing-masing. Jika kita bisa paham harus bagaimana sa’at berkepentingan dan harus bagaimana sa’at berkeperluan. KITA BISA. Romo bisa. Artinya kita juga bisa. Nabi bisa. Artinya kitapun bisa. Wali bisa. Artinya kita juga bisa. Titik.   

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian....
Ada lagi adegan yang pernah di peraga’an oleh Romo Semono, semasa beliau masih Hidup. Buat contoh bagi kita semuanya.

Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, bahwa Romo Semono, setiap waktu di datangi para menusia-manusia hidup yang berkepentingan, khususnya Putero Romo. Ada tamu seorang pedagang, minta penglarisan, oleh Romo Semono di beri Kunci. Ada pejuang minta jimat untuk keselamatan, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada lelaki atau wanita ngorak yang belum mendapatkan jodoh, minta pengasihan, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada yang rumahnya angker, minta tumbal, biyar rumahnya jadi aman dan nyaman, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada yang sakit minta obat, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada yang minta ilmu kesaktian jaya kawijaya, di beri Kunci oleh Romo Semono. Bahkan ada yang ingin mengenal Tuhan yang di sembah dan di pujanya selama hidup, apapun agamanya atau kepercaya’annya, tetap di beri Kunci oleh Romo Semono.

Cukup membingungkan jika tidak sadar telitinya. Jika kita sadar dalam ketelitian, akan mengerti maksudnya Romo Semono melakukan ini, karena bersama’an sa’at Kunci di berikan. Romo Semono bersabda; Eling/Ingat “Ono opo-opo Kunci. Ora ono opo-opo tetep Kunci” (ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci). Pasti slamet/pasti bisa/pasti sukses/pasti berhasil/pasti sampurno.

Inilah maksud dari Kalimat. Kalau Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, bukan kepercaya’an, bukan kejawen, bukan kebathinan, bukan perguruan, bukan partai atau golongan, bukan adat istiadat dll, karena siapapun dia dan bagaimanapun dia, bisa jalankan Wahyu Panca Gha’ib. Sebab Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang menempati semua wujud manusia Hidup, tidak peduli apapun agama dan kepercaya’an serta alirannya.

Ini maksud dari Kalimat. Bahwa Kunci itu bisa untuk apa saja. Bergantung si pelakunya mau berjalan ke arah mana dan menuju apa. Asalkan benar-benar dengan sadar “Ono opo-opo Kunci. Ora ono opo-opo tetep Kunci” (ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci). Maksud lebih jelasnya adalah. Laku Patrap Semedi Panca Gha’ibnya. Jangan di saat ada masalah saja, di saat lagi tidak punya uang saja. Sekalipun lagi tidak ada masalah dan lagi punya banyak uang, tetap Laku Patrap Semedi Panca Gha’ib. Begitu bro,,, maksudnya.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian....
Ada lagi adegan yang pernah di peraga’an oleh Romo Semono, semasa beliau masih Hidup. Buat contoh bagi kita semuanya.

Pada waktu itu. Persiden ir Soekarno sedang sakit. Lalu beliau memerintahkan dua orang ajudannya, untuk memanggil Romo Semono datang ke jakarta, di istana kepersidenan, guna  mengobati penyakit beliau, lalu, pergilah dua orang ajudan itu, menemui Romo Semono di sejiwan purworejo, dengan membawa mobil dimas Persiden. Setibanya, dihadapan Romo Semono, kedua ajudan yang dalam tugas ini, menyampaikan perintah Persiden. Namun di tolak oleh Romo Semono.

Lalu Romo berkata “Yang butuh itu siapa? Yang Peru itu siapa? Masak iya, sumur di suruh mendatangi timba”  dengan begitu, lalu kedua ajudan itu, kembali ke jakarta dengan hampa, maksudnya tanpa berhasil membawa Romo Semono ke istana kepersidenan. Di sepanjang perjalanan, kedua ajudan ini, ketar ketir,,, harus melapor bagaimana nantinya. Setibanya di istana kepersidenan. Kedua ajudan ini, langsung menghadap dengan tekad untuk melapor. Namun betapa terkejutnya kedua ajudan itu, sa’at memasuki pintu dimana sang Persiden berbaring sakit. Kedua ajudan itu, melihat Romo Semono sedang duduk santai memberikan wejangan-wejangan pada sang Persiden, dan sudah selesai di sembuhkan. Mengertikah Anda, apa maksud dari adegan ini...?!

Romo Semono memberikan contoh pada kita semuanya, agar kita seperti kacang lupa kulitnya, atau sebaliknya. Romo Semono mengajari kita, agar bisa memilah dan menempatkan, mana yang perlu dan mana yang penting. Mana yang harus dan mana yang tidak harus. Walaupun Romo Semono bisa tau, mengerti dan paham akan hal itu, namun Romo Semono tetap melakukan darma baktinya sebagai Pandito Ratu, untuk itu, Romo Semono tetap datang menemui Persiden, karena dengan ketidak tauan sang Persiden itu. Romo Semono bisa menyampaikan Firman Tuhan kepada Persiden, walaupun hanya se ayat dua ayat. Sedangkan kedatangannya yang secara gha’ib itu, sebagai tanda, bahwa Putero Romo itu, bukanlah hal yang sepele dan remeh, jika di statuskan, jabatan Persiden, itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan status Putero Romo, sebab Putero Romo menguasai dengan sadar, pengetahuan tentang dan soal semua Hakikat Hidup dalam kehidupan di dimensi manapun dan apapun, sedangkan Persiden, hanya soal politik dunia, sedangkan akheratnya, bergantung sikon. Jadi,,, ga mentang hebat, lalu mengabaikan yang belum hebat, mentang-mentang tau dan bisa, lalu meninggalkan yang belum tau dan bisa.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian....
Ada lagi adegan yang pernah di peraga’an oleh Romo Semono, semasa beliau masih Hidup. Buat contoh bagi kita semuanya.

Kala itu... Kadhang kita, dokter Wahyono almarhum, sedang dalam tugas negara, di desa terpencil yang susah di angkau dengan transpot apapun, lalu beliau sowan secara gha’ib kepada Romo Semono, dan bertanya; “Romo,,, saya sedang menghadapi banyak pasien yang harus segera di tolong/diobati, sementara obat yang di perlukan, sudah tidak ada, apa yang harus saya lakukan Romo”. Romo Semono menjawab ” munduto tuyo sak ember, banjur sowan maring ramane, sabdanen tuyo kuwi, minongko gantine obat waras” (Ambilah air satu ember, lalu menghadap kepada Tuhanmu, sabdalah air itu, sebagai ganti obat sembuh). Mengertikah Anda, apa maksud dari adegan ini...?!

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian....
Maksud dari adegan ini. Adalah sebagai berikut; Dengan ini Romo Semono memberikan contoh kepada kita semuanya. Dalam menghadapi masalah apapun dan bagaimanapun. Temuilah Tuhan terebih dahulu, dan dalam sikon sedang bersama Tuhan itulah, kau boleh lakukan apapun cukup dengan menyabda saja. Saya ulangi, cukup menyabda. Tidak ribet dan repot kan? Cukup Sabda. Tak harus mengeluarkan keringat dan tenaga dll, itu tidak penting. Asalkan kita bersama Tuhan. Semuanya tidak penting, jika di perlukan, cukup bersabda. Waras/Sembuh. Maka sembuhlah apapun yang sedang sakit. Begitu istimewa dan luar biasanya bukan... jika bisa bersama Tuhan selalu. Terus,,, kenapa kita tidak mau selalu bersama Tuhan? Bukankah Firmannya sudah jelas, bahwa kita tiada daya apapun jika tanpa Tuhan.      

Dan masih banyak Adegan-Adegan Contoh dari Romo Semono yang pernah di peragakan secara langsung dan detail juga nyata, di hadapan Para Putero Romo Khususnya. Namun sayang, hanya sebatas kagum yang di munculkan, bukan pengkajian lakunya yang di gelar dan di gulung. Dan apa yang sudah saya jelaskan diatas, itu baru sekelumitnya. Maka... Jangan Asal.

Karena itu, dengan Wahyu Panca Gha’ib. Sudah kah kita selalu bersama Tuhan. Kalau sudah bersama Tuhan. Seperti ini atau seperti itukah sipat dan sikap laku kita kepada apapun dan terhadap siapapun...?!

Soal ini, mari kita sama-sama mengkaji diri, tidak usah risaukan yang lainnya, asalkan kita benar-benar bersama Tuhan, semuanya akan baik-baik saja. Kalau belum baik-baik saja, berati masih belum, maka Panca Laku-lah. He he he . . . Edan Tenan.

Kalau selalu bersama-Nya. Maka sipat dan sikap manusiawi-nya akan sesuai dengan Firman-Nya. Seperti dibawah ini:

Romo Pernah Ngudang/menimang Putero Romo seperti ini;
“Heh,,, Putraningsun sami.  Pra satriya lan wanita. Mrenea sun jarwani. Mangertiya jenengsira. Wus Ingsun sabda dadi Kitab suci sejati. Adam makna wastanipun. Iku wujudira. Wulang-reh sejati. Iku uninira. Ber-budi bawa-leksana. Kadya lakunira. Pratanda jenengsira Putraningsun”.

WEJANGAN Tanpa Tedeng Aling-Aling:
Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian.... Ketahuilah;
Sapa kang manggula wentah ragane manungsa, iya Urip. Kang ngobahake ragane manungsa, iya Urip. kang muna muni, iya Urip. kang krasa-rumangsa-ngrasakake, iya Urip. Mula Urip kang pinilih sekalir. Kang sinembah Urip. Urip kang sinembah sakabehing Urip (sedarum) Marga Urip kang kagungan. Kang amengkoni sakabehing kahanan. Kahanane wujud wewujudan kang gumelar aneng ngalam dunya. Iku kabeh den wengkoni Urip. Urip kang kagungan purbawasesa. Kang nguwasani kabeh kahanan.  Mula Urip kang gawe gelar gulung. Ana saka dene Urip. Datan ana, saka dening Urip. Urip iku yekti, Urip kang mahanani sakabehing kahanan. Mula sesembahan nyata, ora nana liya, Iya mung Urip. Bukti luhur luhuring Urip. kang sarwa tuwuh manuwuh, kang sarwo semi manyemi. Iku yektine Urip.

Gumelaring jagad anyar saisine pisan. Anane mung ringgit purwa. Lampahanipun. Manasuka Manunggal. Dalangipun. Bocah saka gunung Heru Cokro Semono. Iku kang mandegani pagelaran aneng jagad agung ngalam donya. Waranggane. Rasa Sejati. Gamelane dudu gamelan perunggu. Gamelan Lokananta. Swarane gemludug. Kang dewe-dewe muna  munining Urip. Ringgit purwanipun waca. Elinga purwaning dumadi. Purwaning dumadi manungsa Urip .

Tan liya saka dening Roh Suci. Kang sinabda tumurun. Gumelar aneng ngalam donya. Kang sarwo tuwuh manuwuh. Dedalane Manunggal. Kinantenan sarwa MIJIL. Nora gampang lungguh aneng jagad anyar. Ora bisa den lakoni batin, agama lan ngelmu utawa amal jariyah. Tangeh lamun jenengsira bisa tumeka. Lamun jenengsira tan mangerti mring KUNCI nipun. Iku Kunci-ning gesang. Dzat Maha Suci sesebutan Ingsun. Iku tumrap sakabehing manungsa Urip. Kang tumitah aneng ngalam donya. Toging angga marsudia badan pribadi. sesolah bawane pribadi, panuntunipun raga kasar. Katone wujud, kang anggendong mondong yekti Urip. Yekti nyata nyatane nyata.

Jenengsira turu binantalan Urip. kinemulan Urip, kinasuran Urip. Samobahing ragane saka krentege kalbu, apa kang jenengsira sedya kudu pada. Jenengsira tumekeng wujud,  datan ana bedane krenteg kang mahanani. Yekti pada ana.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian, jika engkau senantiasa Eling/Ingat dan Waspada. Maksudnya “Ingat pada Panca Gha’ib. Waspada pada Panca Laku”. Tumindak Tetep, Idep, madhep, mantep . Pasti bakal Mengerti dan Paham. Tentang Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling diatas. Ini sudah waktunya, berbahaya bagi kita semuanya jika tidak Eling lan Waspada  “Eling marang Panca Gha’ib. Waspada marang Panca Laku”. Tebarlah Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun sebisa mungkin dan semampunya. Jagalah hati dari segala penyakit Sirik. Iri. Dengki. Hasut. Fitnah. Benci dan Dendam. Jika terasa sulit, cukup jagalah Pikiranmu dari segala yang tidak baik dan tidak penting.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
                                 
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Minggu, 17 Juli 2016

WONG EDAN BAGU:


Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekaian...
Manusia di dunia ini, dibekali oeh Dzat Maha Suci akal pikiran dan hati nurani atau Rasa dan Perasa’an,  dengan keduanya manusia hidup bisa bersikap lembut, bijaksana dan logis/masuk akal, itulah kebesaran Dzat Maha Suci untuk kesempurna’an pencipta-Nya.

Cinta Kasih Sayang menyentuh hati nurani begitu lembut, sehingga membuat seseorang rela berkorban, untuk orang lain yang dicintainya, dikasihinya, disayanginya, bisakah kita serela itu daam Mencintai dan Mengasihi serta Menyeyangi Allah yang begitu indah menaungi hidup dan kehidupan kita...?! Masih kita berhitung untuk Cinta-Kasih-Sayang-Nya...?!

Gerimis menjadi tirai tipis yang meniupkan sepi di hatiku...
Duh,,, jauhnya Pecinta Ragaku...
Kekasih Hatiku...
Penyayang Jiwaku...
Terjeda jarak dan waktu...
Dalam selaksa rindu lirih, kusebut namamu dalam sebait do’a pada Patrap Sungkemku. Ku indah segalanya untukmu. Ku ingin selalu terhangatkan cinta-Mu, terselimuti kasih-Mu dan ternaungi perlindungan Sayang-Mu…

Ketahuiah wahae anak-anaku... Wahai Kadhang Saudaraku...
Inilah sahaja rasaku, yang terpenjara bentangan usia, yang tak dapat aku ceritakan kapan berakhirnya. Yang jelas pasti,,,, kita tak akan pernah bisa luput dari maut, bila ajal sudah menjemput, namun tak perlu kalut ataupun takut, selama hati nuranimu selalu dalam do’a, selama jiwa ragamu selalu dalam laku, yang dapat selalu tertautkan hanya kepada Yang Maha Patut. Maka tidak akan surut akan cinta kasih sayang-Nya yang Maha lembut lagi Maha Sempurna.

INGATlah...!!!
Ajal datang tak memandang usia, maut merenggut tak memandang status, setiap yang bernyawa pasti mati… adakah pantas kita angkuh dan sombong dengan dunia ini...?!

Bahkan orang terkaya sekalipun, tak ada yang mati berkafankan uang ratusan ribu, dan mengikat jenazahnya dengan kilauan kalung berlian, rantai emas atau mutiara, hanya berbalut kain putih dan tali pocong, untuk kemudian bernaung dalam gelapnya liang lahat….maka masihkah kita berat dengan dunia ini...?!

Lakukan Laku Sebisa dan semampu mungkin, dalam segala keterbatasan untuk selalu “ADA” untukmu, namun ku hanya manusia hidup yang sama denganmu, yang kelak pasti kembali menjadi “Tak ADA” maka hanya Dzat Maha Suci-lah sandaranmu yang nyata wahae  anak-anakku…

Cinta tak luput dari ujian. Kasih Sayang dipertaruhkan dalam godaan. Tapi Percayalah,,, dengan Wahyu Panca Gha’ib dan Panca Laku. Tabirnya adalah ketulusan iman dan kesadaran murni akan Penglihatan-Nya, dalam menjaga cinta kasih sayang tetap indah pada Rabb-Nya….

Namun jangan Pernah Lupa. Apalah cinta kasih sayang hamba ini, bila dibandingkan dengan cinta-kasih-sayang Rabb-mu… Bagai sebutir debu tak berarti dalam hamparan padang pasir yang luas, karena itu, jangan SOMBONG dan lupa diri. Sak bedjo-bedjone wong lali, tetap uwih bedjo wong kang eling lan waspodo.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
                                 
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com