"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Jumat, 30 September 2016

MASA LALU. MASA KINI DAN MASA DEPAN:

MASA LALU. MASA KINI DAN MASA DEPAN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Pon. Tgl 30 September 2016

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian...
Jangan menganggap masalah terlalu berbahaya... 
Sebab, tidak ada satupun yang lebih berbahaya, dari pada murka Dzat Maha Suci.

Karena di dalam masalah yang kita anggap berbahaya itu, tersirat ketidakpuasan dan perasaan  tertekan yang menumpuk. Bukti nyataanya, tak kala kita mengganggap masalah itu berbahaya, kita begitu tegang, dan sangat tergesa-gesa, ini menunjukkan, bahwa kita tertekan.

Kalau semua tampak sangat genting, berarti ada banyak yang dipertaruhkan bukan..?! dan sebab dari banyaknya yang kita pertaruhkan, resikonya menjadi sangat tinggi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan, sehingganya, kita jarang puas, karena selalu mengingat-ingat kesalahan kita sendiri, bahkan orang lain. Semua seolah menjadi masalah. 

Kalau semua menjadi sangat penting bagi kita, rasanya hampir tak mungkin kita merasa gembira, apa lagi bahagia. Bagaimana bisa, kita terlalu sibuk dengan merasa kesal, berharap menjadi orang lain atau mengkritik kehidupan orang lain. Cobalah berfikir,,, betapa konyol dan sia-sianya untuk selalu merasa kesal itu. Kenyataannya, saya akan dikritik,  Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku juga iya, kita akan kehilangan sesuatu, melakukan kesalahan, dan rencana kita akan gagal. Tapi itulah hidup di dalam kehidupan dunia ini. Lalu,,, apa gunanya frustasi, karena hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan... 

Hidup di dalam kehidpan dunia fana ini, takkan pernah sempurna dan semulus yang kita inginkan. Yang bagus. Adalah... Begitu kita bisa menerima semua kenyataan ini, kita bisa melanjutkan hidup di dalam kehidupan dunia fana ini, hingga pulang kehadirat Dzat Maha Suci nantinya, tanpa menjadi tertekan oleh hal-hal kecil dan sepele yang tak berguna sama sekali.

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian...  Hargai Hidup-mu. Karena Hidup-mu itu, sungguh sangat berharga, hanya dengan Hiduplah, kita bisa terus menerus menghadapi ancaman kehidupan, yang di luar kuasa kita.

Sungguh selama bertahun-tahun, semua rencana serta harapan saya, berulang-kali gagal bahkan hancur, dan saya terus menerus mengalami kekecewaan, sebab itu, lalu saya mulai merujuk pada tujuan akhir, dalam artian belajar, yaitu sangkan paraning dumadi, yang di dalam ajaran agamanya, tersebut inna lillaahi wa inna illaaihi rojiun, lalu saya menyesuaikan diri di dalam menghadapi apapun itu, lalu mengoptimalkannya dengan Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Dengan begitu, saya sudah tidak lagi bertanya "Mengapa?" melainkan "Apa sih yang dapat saya pelajari dari pengalaman sepanjang perjalanan Hidup ini..?!” 

Saya belajar bertanya. Apa sih yang diminta oleh Hidup saya, di dalam kehidupan dunia fana ini...?!

Ketimbang "Apa sih yang kuinginkan dari Hidup, di dalam kehidupan dunia yang fana ini...?!" 

Dengan itu... Tantangan membimbing saya, untuk belajar dari pengalaman di sepanjang perjalanan Hidup saya, di dalam dunia yang fana ini, entah pengalaman itu positif, ataupun negatif, keduanya saya jadikan ilmu kajian, ketimbang merasa berhak, terhadap kehidupan yang nyaman serta tenteram.

Sasaran-sasaran yang telah saya tetapkan, saya yakin bisa saya capai, tetapi akan banyak hambatannya. Saya Hidup untuk hari ini, dan apa yang bisa saya perbuat hari ini, bukan di masa lalu atau masa yang akan datang. Karena bagi saya, masa lalu sudah bukan milik saya lagi, dan masa depan, belum tentu sesuai dengan rencana saya, karena masih milik Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Yang terpenting bagi saya. Adalah berusaha Hidup, di saat sekarang ini, dengan rasa syukur atas Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
           
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com


Senin, 26 September 2016

“LAKU SEORANG PUTRO ROMO”

“LAKU SEORANG PUTRO ROMO”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Kliwon. Tgl 27 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur tahu Garam/Uyah..?!
Garam/Uyah, selain untuk melezatkan makanan dan minuman, garam lazim digunakan untuk mengawetkan makanan, mencegah pembusukan. Garam adalah alternatif terbaik untuk menghalau kuman dan mencegah infeksi, karena gigitan serangga dll. Garam juga bisa digunakan untuk memadamkan api, mencairkan salju yang membeku. Dan masih banyak manfaat lainnya seputar garam/uyah, jika kita tanyakan pada mbah google.

Setelah saya renungi secara mendalam, sepertinya,,, Laku Putro Romo itu, tidak ubahnya seperti garam/uyah ini, garam yang memberi banyak manfaat, Romo ingin Putro hangayomi kehidupan banyak orang. Namun, hakikat garam itu, bersifat laten atau tersembunyi. Maksudnya, samar, tidak kentara. Bukankah garam itu melezatkan makanan dan minuman, tanpa pernah menjadi makanan atau minuman itu sendiri..?!

Dan ingat... Jangan sampai lupa. Cukup secukupnya saja, karena, jika berlebihan, garam/uyah itu, akan merusak apapun yang seharusnya lezat, dan lagi, tidak semua makanan dan minuman, bisa di lezatkan dengan garam.  

Itulah Laku Putro Romo menurut hasil renungan spiritual pribadi saya, dengan dasar Sabda Dawuhe Romo, tentang Kapribaden atau Pribadi. Artinya. Kapribaden atau Pribadi itu, bukan kepercaya’an atau golongan, melainkan Laku Seorang Putro Romo.

Menjadi garam atau menjadi putro romo itu, menuntut Putro dalam hangayomi, tidak menonjolkan diri, memberi manfaat tanpa pamer, Tidak tampak superior, tidak populer, bahkan tanpa pamrih. Karena Putro bukanlah superstar, tetapi dipilih Romo, untuk membukakan jalan, bagi seorang bintang. Putronya, tetap tersembunyi, meskipun sumbangsih Putro menyemarakkan dunia. Putro mewarnai keberhasilan orang lain, tanpa menerima piala atau medali. Putro adalah pahlawan tak dikenal, yang memerdekakan kehidupan orang lain, dan menyempurnakan hidup tujuh keturunannya dan para leluhurnya, keatas dan kebawahnya hingga tujuh keturunannya pula.

Tahukah Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku Sekalian...?!
Di balik sebutir garam itu, tersembunyi kerendahan hati. Menjadi garam “menjadi putro” itu Laku  dengan benar dan tepat, meski kelicikan dan kepicikan meruyak di negeri katenteman ini.

Sebagai Putro Romo... Siapkah menggarami orang-orang di sekitar Anda...?!
Termasuk mereka yang menolak Anda..?!
He he he . . . Edan Tenan.

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

Minggu, 25 September 2016

TANPA JUDUL...

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Buanglah sampah rohani panjenengan...
Maaf... Setelah saya sering merenungkan, keluh kesah dari setiap orang yang datang menemui saya, saya berpikir tentang bagaimana jadinya, kalau seseorang cuma minum, minuman ringan dan makan, makanan ringan saja, selama bertahun-tahun. Sepertinya, nampak jelas sekali, seperti apa sipat dan sikap mereka.

Karena kita bukan saja tercermin dari apa yang kita makan dan apa yang kita minum, kita juga akan tercermin dari apa yang kita dengar, baca, dan lihat. Ketimbang apa yang masuk ke dalam tubuh kita, yang lebih penting lagi, adalah apa yang masuk ke dalam jiwa kita.

Jadi... Apa Di’it rohani kita..?!
Apakah kita memberikan yang bergizi, atau, limbah TPA..?! 
Media apa sajakah yang kita baca, dengar, atau tonton..?! 
Pernahkah kita merenungkannya..?!

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian Tahu tidak,,, kita ini sedang berenang di dalam media masa, dan bahkan tidak menyadarinya. Cobalah "bebas media" sehari saja “Pasrah kepada Tuhan kita. Menerima ketentuan Tuhan kita. Mempersilahkan Tuhan menjadi Imam kita. Terus perhatikan dan Pelajari Prosesnya setelah Pasrah. Menerima dan Mempersilahkan itu, sembari menebar iman Cinta Kasih Sayang-Nya” maka kalian akan mengerti dan paham maksud saya.

Satu hari tanpa mendengarkan musik, tanpa nonton tv, tanpa baca buku atau majalah, tanpa lihat internet, atau baca iklan (karena itu juga termasuk media).

Sekarang, kalau kita berpikir media massa tidak berpengaruhi kita, ingat-ingat saja, lagu kegemaran kalian, dan bagaimana pengaruhnya terhadap rasa dan perasaan kalian. Atau ingat-ingat saja, saat terakhir kali kalian melihat lawan jenis yang setengah telanjang memenuhi layar atau terpampang di halaman majalah. Atau ingat-ingat saja botol shampo terakhir yang kalian beli. Kenapa kamu membelinya? Mungkin karena pengaruh iklan TV yang lamanya tiga puluh detik atau iklan satu halaman di majalah. Dan kalau iklan satu halaman di majalah bisa menjual sebotol shampoo, apa tidak mungkin, film lengkap, majalah, atau CD menjual gaya dan pola hidup di dalam kehidupan ini..?!

Seperti kebanyakan hal, ada sisi terang maupun sisi gelap dari media massa. Dan kita perlu memilih, apa yang kita biarkan mempengaruhi kita, dan apa yang tidak boleh mempengaruhi kita.

Apa yang saya katakan diatas, yang kesannya seperti orang gila yang nggedebus, hanya sekedar memberi Saran. agar kalian mengikuti hati nurani, dan memperlakukan Hidup kalian dengan hormat, yang sama seperti atlit olimpiade memperlakukan tubuhnya.

Di umpamakannya... 
Kalau musik yang kita dengarkan atau film/vidio yang kita lihat itu, membuat kita merasa depresi, marah, gelap, keras, terbawa alurnya, atau seperti kepanasan karena penasaran, mungkin itu tandanya bahwa mereka itu sampah, dan kita tidak butuh sampah. Sebaliknya, Kalau musik yang kita dengarkan atau film/vidio yang kita lihat itu, membuat kita rileks, bahagia, terinspirasi, penuh harapan, atau damai, teruslah nikmati.
Hingga pada akhirnya kita akan menjadi apa yang kamu tonton, dengar, dan baca, jadi teruslah tanya kepada diri sendiri, "Apakah AKU mau ini menjadi bagian diriku?"

Tapi ingat Saran saya diatas. Cobalah "bebas media" sehari saja “Pasrah kepada Tuhan kita. Menerima ketentuan Tuhan kita. Mempersilahkan Tuhan menjadi Imam kita. Terus perhatikan dan Pelajari Prosesnya setelah Pasrah. Menerima dan Mempersilahkan itu, sembari menebar iman Cinta Kasih Sayang-Nya” maka kalian akan mengerti dan paham maksud saya. He he he . . . Edan Tenan.

Apa guna dan manfaatnya Wahyu Panca Laku yang saya gembar gemborkan di internet setiap sa’at...?! Karena Wahyu Panca Laku adalah Iman, dan Iman itu adalah Sumber kekuatan manusia Hidup selama di dunia yang penuh dengan rekayasa kefana’an ini.
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Ketahuilah,,, kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah, adalah suatu tanda kekuatan. Bila saya kehilangan semuanya, saya akan tetap penuh, karena saya memiliki sumber kehidupan sejati, yaitu Iman. Iman adalah sebuah hubungan pribadi dengan Tuhan.

Bukanlah orang bodoh namanya, jika menyerahkan, apa, yang tidak dapat dipertahankan, demi mendapatkan apa yang tidak akan pernah hilang daripadanya..?!
Kita tidak pernah dapat mengendalikan orang lain, apa lagi dunia ini. Mendambakan orang lain, seperti kehendak kita sebenarnya, secara tidak sadar, kita telah menempatkan diri kita, ke dalam perasaan sakit hati, yang sebenarnya kita berusaha hindari. Harapan-harapan yang tidak realistis terhadap orang lain, menahan saya mendapatkan kepuasan yang saya cari, karena yang namanya manusia, betapapun sempurnanya, tidak akan pernah dapat mengisi kehidupan saya, sebab kehidupan saya, adalah milik Hidup saya, dan Hidup saya, adalah milik Tuhan. Bukankah begitu...?!

SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Para Kadhang kinasihku sekalian, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Khusus untuk Kadhang Anom Didikan saya. Sungguh kemajuan Laku Spirituamu, sangat membahagiakan saya. saya merasa tidak sia-sia menggembar-gemborkan kebenaran melalui internet ini, walau banyak hambatan, namun saya merasa tidak percuma. Buktinya,,, sipat dan sikap kalian tidak sama dengan kebanyakan orang-orang yang menemui saya sa’at pada awalnya. Teruslah melangkah maju sampai berhasil menjadi satu dengan Penguasamu dunia wal akherat, secara sempurna. jangan berhenti karena sudah mengerti dan paham, sebab mengerti dan paham itu, belumlah cukup kalau tanpa bisa membuktikannya sendiri. Terima Kasih dan Maafkan saya dan Terima Kasih lagi saya ucapkan dan Mohon Maafkan lagi saya katakan dengan beribu ucapan Terima Kasih serta selalu Terima kasih saya haturkan untuk hadir indahnya*....._/\_ Terima kasih.
Hormat Saya: Toso Widjaya
Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Jumat, 23 September 2016

TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”

TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Legi. Tgl 23 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian... Masih ingatkah, dengan wedaran saya, di beberapa artikel lama saya, yang sudah saya postingkan di internet. Yang pada intinya, saya mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Ilmu. Kejawen. Kebathinan. Kepercaya’an. Golongan. Partai. Perguruan. Adat istiadat dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang bisa menjamin, jiwa raga dan dunia kaherat, manusia hidup, siapapun dia dan dimanapun dia. Dan dengan Ijin Dzat Maha Suci, pada kesempatan kali ini, saya bagikan dengan Cinta Kasih Sayang, tentang kebenaran dari penemuan saya yang satu ini. Yaitu soal bukti daripada urainya saya, yang pernah mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Ilmu. Kejawen. Kebathinan. Kepercaya’an. Golongan. Partai. Perguruan. Adat istiadat dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang bisa menjamin, jiwa raga dan dunia kaherat, manusia hidup, siapapun dia dan dimanapun dia.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian... semua dan segalanya, soal dan tentang manusia hidup itu, ada tersejarah dengan sangat jelas dan nyata di dalam Wahyu Panca Gha’ib. Maka....
Ketahuilah dengan kesadaran murni Rasamu. Bahwa, ketika kita masih bayi, dan berada di Alam Rahim, masih berbentuk sperman/mani “di dalam air ketuban belum ada nyawa, baru ada Hidup, dari Alam Rahim, bayi pindah ke Alam Dunia, dan di dalam perpindahan ini. Hidup berubah sifat menjadi Roh/Ruh Suci, ketika kontak dengan Alam Dunia itulah, mulai ada sebutan Rasa/Nyawa, nyawa adalah Darah, yang bertempat di bawah kulit di atas permukaan daging, adanya Nafas, adalah, adanya Hidup, adanya Hidup, adalah, karena adanya Sir. Dzat dan Sipat. Dan Sir Dzat Sipat inilah, yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati, manusia Hidup.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
Dibawah ini, uraian lengkap dari Tujuh Alam/Dimensi-nya manusia hidup yang sebenarnya/sesungguhnya, yang terdapat di dalam Wahyu Panca Gha’ib, dari awal hingga akhir Uni/Unen Kunci, yang terdiri dari tujuh ayat dan di baca tujuh kali, yang tak lain dan tak bukan, adalah Hakikat manusia hidup yang sesungguhnya/sebenarnya. Sebab itu, Wahyu Panca Panca Gha’ib, di sebut bukan apapun, kecuali Hidup kita sendiri.

TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”
Ayat Pertama (1) Adalah; Gusti Ingkang Moho Suci.
Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah alam Awang Uwung, dalam istilah lainnya, di sebut juga sebagai Alam Gha’ibull-Guyyub, juga di sebut sebagai Alam Ahadiyah. Yaitu alam, di mana belum ada sifat, belum ada asma’ belum ada afa`al, dan belum ada apa-apa, dalam istilah pengertian ajaran agamanya, alam ini disebut sebagai Alam LA TA`YUN. Yang artinya adalah Dzat Al-hakki. “tidak ada apa-apa kecuali Dzat Maha Suci”. Alam ini adalah alam penegasan. Tujuan dari kalimah Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah memperkenalkan Diri-Nya, dalam memberi tanggungjawab, kepada cipta’annya, terutama manusia, serta di tajallikan-Nya Diri-Nya, dari satu peringkat ke peringkat lainnya, sampai lahirnya manusia berbadan rohani dan jasmani.

Adapun Alam/Dimensi Awang Uwung ini, terkandung di dalam Kunci, pada ayat pertama, yaitu (Gusti Ingkang Moho Suci), artinya. Esa pada Dzat semata-mata, maksudnya, masih belum ada apapun, kecuali Dzat Maha Suci itu sendiri, dan inilah yang di sebut Martabat Dzat, atau Alam Dzat, atau Dimensi Dzat yang Pertama. Pada alam/dimensi ini, diri Empunya Diri itu, (Zat Al-haki atau Dzat Maha Suci), semata-mata menamakan Diri-Nya Sendiri, sebagai. “Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya. Tidak ada permulaan dan tiada akhirnya, dan berwujud Hakiki Lagi Khodim.

Pada alam/dimensi ini, tidak ada sifat, tidak ada Asma, dan tidak ada Afa’al, serta tidak ada apa-apa, masih awang uwung, suwung/Kosong, kecuali Dzat Mutlak-Nya semata-mata, maka berdirilah Dzat itu, dengan Dia semata-mata, dari dalam keadaan ini, dinamakan “Gusti Ingkang Moho Suci”, artinya diri Dzat, atau juga di namakan Dzat Maha Suci, yang maksudnya, tidak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun, kecuali Suci itu sendiri.

Ayat Kedua (2) Adalah; Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci.
Maksud dari kalimah “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah Alam/Dimensi Laku, yang juga di sebut sebagai Alam/Dimensi Wahdah, yang merupakan proses pentajallian-Lakunya diri, yang arti dan maksudnya adalah. Empunya Diri, telah mentajallikan/memproseskan diri-Nya, dari alam awang uwung, suwung/kosong, ke suatu alam/dimensi  sifat, yaitu “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” sabagai noktah mutlak, adanya awal dan ada akhir.

Alam/Dimensi Laku ini, Juga ada yang menyebutnya, sebagai martabat atau alam/dimensi Wahdah, yang terkandung pada ayat kedua Kunci, yang berbunyi Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suciyang maksudnya tujuannya adalah, menjelaskan, tempatnya Dzat Maha Suci, tidak terselindung sedikit pun, meliputi tujuh perkara langit dan bumi seisinya.

Pada alam/dimensi kedua ini, Dzat Maha Suci, mulai bersifat. Sifat-Nya, adalah sifat bathin, jauh dari Nyata, bisa di umpamakan seperti sepohon kayu besar, yang subur, tapi masih di dalam biji. Artinya... Dia telah berwujud, wujudnya adalah biji, bukan pohon, sehingganya, pohon itu terkesan tidak nyata, tetapi nyata, nyatanya biji itu tadi, sebab itulah, pada alam/dimensi kedua ini, ayat kedua Kunci berbunyi. Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci yang maksudnya adalah, tuan Empu-Nya Diri, tidak lagi Beras’ma, dan di alam/dimensi ini, terkumpulah Dzat Mutlak dan Sifat Bathin-Nya, telah sempurna, cukup lengkap segala-galanya, hanya terhimpun dan tersembunyi di balik hakikat-Nya “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”.

Ayat Ketiga (3) Adalah; Sirolah Dzatolah Sipatolah.
Sama seperti yang lainnya. Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Sirolah Dzatolah Sipatolah”. Adalah Menjelaskan tentang Alam/Dimensi rahasia manusia, yang pada Alam/Dimensi ketiga ini. Setelah Empunya Diri kepada Diri, mentajallikan diri-Nya, ke satu alam/dimensi As’ma, sebagai Sir Dzat Sipat. atau dalam istilah lainnya, di sebut juga sebagai Hakikat Insan, yang artinya 
keadaan tubuh diri rahasia manusia, telah terhimpun pada hakikinya Sir Dzat Sipat. Tujuannya untuk memperjelas letak masing-masing Hak-Nya, supaya bisa tepat, agar tidak salah arah dan tujuan.

1.  Sir atau Ruh Suci, adalah (Hak Dzat Maha Suci). 
Bentuknya Rasa. Tempatnya di hati (Bathin), jika Ruh ini keluar dari jasad, manusia akan mengalami kematian.

2. Dzat atau ruh ruhaniyah, adalah (Hak Hidup).
Bentuknya empat anasir. Tempatnya di dada (Jantung), dan pada 360 sendi/organ fital yang ada di seluruh tubuh/wujud badan manusia.

3. Sipat atau nyawa/sukma.
Adalah bentuknya angan-angan atau perasa’an. Tempatnya di kepala (Otak), ruh ini yang suka meninggalkan jasad, salah satunya saat tidur, lalu menimbulkan mimpi.

Sir. Dzat. Sipat ini, ada di dalam kunci ayat ketiga, yang berbunyi, “Sirolah. Dzatolah. Sipatolah”. Sedangkan maksud daripada Lah, adalah di olah, di gali, di pelajari, supaya mengerti dan paham, tentang ketiga inti piranti manusia hidup, tersebut Jati Diri atau Diri Sejati itu.

Hakikat nyawa/sukma, adalah Rasa jasmani, olahan dari empat anasir, tersebut. API – ANGIN – AIR – BUMI.  pada waktu itu, mata terbuka belum bisa melihat, telinga belum bisa mendengar, hidung belum bisa mencium, mulut belum bisa berkata, hanya ada suaranya saja, setelah diberi asi atau makanan apa saja, yang berasal dari saripati Api, Angin, Air dan Bumi, maka dari saripati yang empat inilah, tercipta sipat nyawa atau sukma.

Empat Anasir;
1. Cahaya/Nur Darah Merah.
Berasal dari Saripatinya API, adanya pada DAGING, membesarkan dagingnya bayi, hawanya keluar melalui TELINGA hingga bisa mendengar.

2. Cahaya/Nur Dara Kuning.
Berasal dari Saripati ANGIN, adanya pada SUMSUM, membesarkan sumsum bayi, hawanya keluar melalui HIDUNG, hingga bisa mencium dan merasa.

3.
Cahaya/Nur Darah Putih.
Berasal dari Saripati AIR, adanya pada TULANG, membesarkan tulang bayi, hawanya keluar melalui MATA, hingga bisa melihat.

4.
Cahaya/Nur Darah Hitam. 
Berasal dari Saripati BUMI, adanya pada KULIT, membesarkan kulitnya bayi, hawanya keluar melalui LIDAH/MULUT, hingga bisa berbicara.

Itulah hakikat hidupnya sedulur papat kita, yang berasal dari empat anasir. Tersebut; 1. NAFSU MUTHMAINAH, berdomisili pada HATI. 2. NAFSU ALUAMAH, berdomisili pada LIDAH. 3. NAFSU AMARAH, berdomisili pada TELINGA. 4. NAFSU SUPIYAH, berdomisili pada MATA. Sedangkan pancernya, adalah... Cahaya/Nur Darah Bening.

Ayat Ke’empat (4) Adalah; Kulo Sejatine Satriyo.
Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Kulo Sejatine Satriyo”. Adalah Alam/Dimensi Cahaya/Nur Darah Bening, atau juga bisa di sebut proses pertumbuhan/pengembangan. Setelah bayi membesar kulitnya, membesar dagingnya, membesar tulangnya, membesar sumsumnya, maka keluarlah hawa, sebagai pancernya. Sebab itu ayat ke’empat Kunci, berbunyi, “Kulo Sejatine Satriyo” yang artinya. Aku ini manusia hidup.

Singkat jelasnya seperti ini;
Kunci ayat ketiga, yang berbunyi “Sirolah. Dzatolah. Sipatolah”. Adalah alam/dimensi Jati Diri atau Diri Sejati “dan itulah, yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati-nya manusia hidup”. Sedangkan Kunci ayat ke’enam, yang berbunyi “Kangge Tumindake Satriyo Sejati” Adalah alam/dimensi AKU “ dan itulah yang di sebut Aku-nya manusia hidup”.

Ayat Kelima (5) Adalah; Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso.
Maksud dan tujuan dari kalimat “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso”. Adalah memperjelas dan menegaskan tentang/soal roh. Yang pada alam/dimensi kelima ini. Empunya Diri, menyatakan dan mengolah diri-Nya, untuk membentuk satu batang tubuh halus, yang di sebut roh. Alam/Dimensi roh ini, juga di sebut sebagai Tubuh Hakikat Insan, yang mempunyai awal tiada berkesudahan. Dialah yang sebenarnya, yang dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahasia Dzat Maha Suci, ada di dalam Diri Manusia. Jadi... Tubuh ini, merupakan tubuh bathin hakiki manusia, dimana bathin ini, sudah nyata Sirnya, Dzatnya dan Sifatnya, untuk  menjadi sempurna.

Cukup lengkap seluruh anggota - anggota bathinnya, tidak cacat dan tiada cela. Tubuh ini, di sebut juga sebagai  “Jisim Latiff” yang artinya adalah, satu batang tubuh yang liut lagi halus. Karena itu, ayat kelima dari Kunci. Berbunyi “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” yang maksud dan maksudnya. tidak akan mengalami cacat, cela, dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, asyik, dan hancur binasa. Dan berdirilah Dia, dengan diri tajalli Dzat Maha Suci, hingga hiduplah Dia, untuk selama-lamanya. 

Ayat Ke’enam (6) Adalah; Kangge Tumindake Satriyo Sejati.
 “Kangge Tumindake Satriyo Sejati”. Adalah Alam/Dimensi Perjanjian. Maksud dan tujuan kalimat “Kangge Tumindake Satriyo Sejati. Bahwa ”Empunya Diri, menyatakan rahasia diri-Nya, untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan, bahwa diri-Nya adalah Dzat Maha Suci, terus menyatakan diri-Nya melalui diri rahasia-Nya, dengan lebih nyata, dengan membawa diri rahasia-Nya. Sebab itu, ayat ke’enam Kunci, berbunyi “Kangge Tumindake Satriyo Sejati” yang maksud dan tujuannya, perjanjian yang tidak boleh di lupakan dan di abaikan serta di umumkan, sebab Dia adalah  “DI”, “Wadi”, “Mani” . “Sperma” yang hanya boleh di salurkan ke satu tempat, yang bersekutu di antara diri rahasia bathin (roh) dengan diri kasar Hakiki, di dalam tempat yang dinamakan rahim. Hingga terbentuklah apa yang di katakan “Maknikam” ketika berlakunya persetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa). Tubuh rahasia yang tersebut Satriyo Sejati atau AKU ini, tetap hidup sebagaimana awalnya, tetapi di dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa, dan belum lahir. Dia tetap hidup tidak mengenal akan mati.

Ayat Ketujuh (7) Adalah; Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput.
“Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput”. Adalah Alam/Dimensi Kembali atau Kepulangan-Nya si empunya Diri/Aku. Pada alam/dimensi kembali ini, yang juga disebut martabat/alam/dimensi  “Inssanul Kamil” yang artinya, batang diri rahasia Dzat Maha Suci telah di Kamilkan, dengan kata lain, Jati Diri atau Diri Sejati atau Aku Sejati atau Satriyo Sejati atau Sejatine Satriyo-nya manusia, menjadi “Kamilul Kamil”, yang maksudnya menjadi satu pada lahirnya, yaitu manunggal wujud/badan rohani dan jasmani, yang kemudian lahir sebagai seoarang insan melalui faraj ibu.

Pada alam/dimensi ke tujuh ini, yaitu alam Insanul Kamil ini. Dia terkandung di dalam ayat ketujuh Kunci, yang berbunyi  “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput”, yang maksudnya, berkumpul-lah seluruh proses perwujudan dan pernyataan diri rahasia Dzat Maha Suci, di dalam tubuh badan Insan, yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Maya yang Fana ini.

Untuk mengumpulkan seluruh proses pentajallian diri rahasia Dzat Maha Suci, dan pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuhinya, dari satu peringkat ke satu peringkat lainnya, dan dari satu alam/dimensi ke satu alam/dimensi lainnya. Kerana Dia merupakan satu perkumpulan seluruh alam-alam itu.

Maka,,, sejak di lahirkannya manusia ke alam maya, yang fana ini, bermulalah tugas manusia, untuk menggembalikan balik, semua dan segala diri rahasia Dzat Maha Suci itu, kepada Tuan Empu-Nya Diri, dan proses penyerahan kembalinya semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci ini, hendaknya, dimulai dari sejak awal di lahirkannya manusia ke alam Maya dunia ini. Karena penyerahan kembalinya semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci ini. Bukanlah hal yang mudah dan ringan serta remeh juga sepele, sekalipun seumur jatah hidupnya manusia di dunia fana ini, di pergunakan untuk menyerah kembalikan semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci. belumlah cukup. (kecuali atas kehendak-Nya)

Jadi,,,, bagi siapapun yang sudah melampaui masa bayi, hingga berusia belasan tahun bahkan puluhan tahun sekarang ini, namun belum juga memulainya, sungguh rugi besar yang tiada terkira, dan itulah yang di sebut kegagalan total yang takan bisa di tebus dengan cara apapun, lantaran karena, persiapan untuk balik/pulang/kembali pada asal usul sangkan paraning dumadi itu, tidaklah mudah/gampang/ringan dan sepele. Jadi,,, tidak bisa hanya dengan berlenggang kangkung saja, masudnya “santai”.

Tujuan Turunnya Wahyu Panca Gha’ib ke marca pada ini. Tak lain dan tak bukan. Untuk memahami dan memegang satu Iman Mutlak, bahwa diri kita ini sebenarnya bukanlah diri kita, dan harus  di kembalikan ke asal mulanya, yaitu Dzat Maha Suci. Dan untuk memperjelas kajian, agar dapat mengetahui sendiri,  Hakikat Hidup Jati Diri-nya, dari mana asal mula yang sebenarnya, hingganya kita lahir di alam dunia maya ini. Dan supaya mengerti serta memahami, Hakikat Hidup Diri Sejati-nya, kemana harus kembali dan apakah tujuan sebenarnya. AKU ini di lahirkan.

Dengan mengetahui dan mengerti serta memahami Wahyu Panca Gha’ib yang sebenarnya, yang sesungguhnya, dalam kata lainnya, bukan hanya sekedar memiliki Wahyu Panca Gha’ib dan sebatas menjalannya katanya belaka. maka sudah pastilah, kita dapat mengetahui bahwa diri kita ini, adalah Sir Dzat Sipat-Nya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah semata-mata. Diri sir dzat sifat yang di tajallikan, dalam pernyataan Sir Dzat Sifat-Nya Sendiri. Dan Dzat Maha Suci Memuji Diri-Nya, dengan Asma’-Nya Sendiri, yaitu Wahyu Panca Gha’ib, dan Dzat Maha Suci Menguji Diri-Nya Sendiri, dengan Afa’al-Nya Sendiri. Yaitu Wahyu Panca Laku.

Seperti Firman-Nya: 
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”
Yang Artinya; Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali.
Yang Maksud; Sesungguhnya diri mu itu Allah (Tuhan Asal Diri Mu) dan hendaklah kamu pulang menjadi Tuhan kembali.

He he he . . . Edan Tenan. Setelah mengetahui dan memahami secara jelas, lagi terang, bahwa asal kita ini adalah Tuhan, dan harus kembali menjadi Tuhan Lagi. Apakah itu hal yang mudah dan gampang serta ringan...?!

Laku Mengembalikan diri, Atau dalam istilah kata liannya, Penyempurn’an atau Menyempurnakan Jati Diri atau Diri Sejati, berati menyucikan lahir bathin, dan mengembalikan rahasia kepada Tuan Empunya Rahasia, maka manusia itu semestinya, meningkatkan kesuciannya, kesadarannya, sampai ke peringkat asal mula kejadian rahasia Dzat Maha Suci. Bukan “warung kopi” yang hanya ada sejarah cerita iri, salin saing menyaingi-debat-gunjing menggunjing, iri-dengki-fitnah-benci-sikat sikut sana sini yang menimbulkan, angkara murka, dendam dll.

Ajaran apa yang mengajarkan hal ini, tentang ini dan soal ini...?!

Wahyu Panca Gha’ib...

Wahyu Panca Gha’ib yang mana dan yang bagaimana...?!

Bukankah sudah teramat banyak orang yang memiliki dan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib...?!
Dan dengan itu, sudahkan berkurang permusuhan antar saudara diantara kita...!!!
Sudahkan kita salin Mencintai-Mengasihi-Menyayangi semuanya, khususnya sesama Hidup...!!!
Sudahkan kita Pasrah. Menerima dan Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita dalam segalah halnya kita...!!!

Wahyu Panca Ghaib sekalipun, jika tidak di ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku. Artinya, tidak di jalankan - tidak di praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Tidak akan pernah ketemu/bertemu ujung pangkalnya. please think about...

Sesunggunya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dalam mengenalkan diri-Nya, melalui lidah dan hati manusia, karena Dia telah mentajallikan Diri-Nya, menjadi rahasia kepada diri manusia. Maksudnya; “Manusia itu adalah rahasia-Ku dan AKU adalah rahasia manusia itu sendiri”. Jadi, selama lidah dan hati kita masih pecadal pecodol, pagi tahu, siang tempe, malamnya tauge. Hanya capek dan tambah bingunglah yang akan dialaminya.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
           
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Selasa, 20 September 2016

Hakikat Hidupnya Jati Diri atau Diri Sejati Dan Aku Sejati atau Sejati-Nya Aku:

Hakikat Hidupnya Jati Diri atau Diri Sejati Dan Aku Sejati atau Sejati-Nya Aku:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Pon. Tgl 20 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
Ketahuilah dengan kesadaran murnimu. Bahwasannya. Badan kita yang dzahir/nyata ini, yang bisa dilihat dan di sentuh ini, adalah perwujudan Hidup kita yang gha’ib, yang tidak bisa pandangan mata dan tidak bisa disentuh. Untuk bisa melihat dan menyentuh Hidup kita yang gha’ib itu, diperlukan bayangannya hidup tersebut, yaitu badan kita yang dzahir/nyata ini. Maka dari itulah, dikatakan, badan kasar kita ini, hanya ‘sarung’ atau ‘tunggangan’ atau ‘sangkar’ bagi Hidup kita yang ghaib itu.

Apabila Hidup itu keluar dari badan kita ini, maka tertinggal-lah badan itu, dan lama kelama’an, jadi  hancur lebur. Tapi ada yang tidak hancur setelah di tinggalkan Hidup, yati roh, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat atau mutmainah, aluamah, amarah, supiyah. Mungkin Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, pernah mendengar cerita, ada orang melihat dalam dunia ini ‘bayangan’ atau ‘badan’ orang yang telah lama meninggal dunia, muncul berlakon dan beraksi sebagaimana hidupnya dalam dunia dahulu, sebenarnya itu bukanlah badan orang itu yang sebenarnya. Karena, firman-Nya, badan akan hancur binasa setelah di tinggalkan Hidup. Jadi, ‘bayangan’ atau ‘badan’ itu, adalah roh, dan roh inilah, yang akan menghadapi pengadilan Dzat Maha Suci di akherat, untuk mempertanggung jawabkan, semua dan segala amal perbuatannya selama di dunia.

Itu sebab disebutkan, bahwa  Diri kita ini, terdiri dari tiga unsur. Pertama, yaitu unsur badan kita,  yang berasal dari tanah, dan akan mengalami proses hancur, jika di tinggal Hidup kita. Kedua, yaitu  unsur roh kita, yang berasal dari empat anasir dan tidak bisa hancur, karena harus mengalami proses pengadilan akherat, atas amal perbuatan kita selama di dunia, setelah di tinggal Hidup kita. Ketiga, unsur Roh Suci atau Roh Kudus atau Hidup kita, yang berasal dari Dzat Maha Suci, dan akan kembali kepada Dzat Maha Suci tanpa proses apapun.

Dan tiga unsur inilah, yang saya sebut Jati Diri atau Diri Sejati, yang pengertiannya sering saya uraikan di beberapa artikel saya, di internet. Untuk itu, jika Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, membaca artikel saya, dan menemukan istilah kata Jati Diri atau Diri Sejati. Berati mencakup tiga unsur itu. Yaitu raga atau wujud dan empat anasir atau roh serta Hidup atau Roh Suci.

Setiap orang, hendaklah mengenal akan jati diri atau diri yang sebenar-benarnya, yaitu yang berunsur berunsur tiga, yang sudah saya uraikan diatas, agar supaya tidak mensia-siakan kehidupannya selama di dunia fana ini. Karena kehidupan kita, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan akan berkelanjutan ke akherta nanti, dan dunia akherat itu, kekal dan abadi, tiada ujung dan berakhir. Nilai buruk atau baik, bukan dilihat dari segi kekayaan harta, pangkat atau jabatan yang diperoleh di dunia ini. Melainkan dari IMAN kita yang tidak terduakan, dan soal iman itu apa dan bagaimana, di artikel lainnya, saya sudah pernah mengungkapnya. Dengan kenalnya kita kepada Diri atau Jati Diri yang sebenar-benarnya, maka kita tidak akan kenal dengan yang namanya putus asa, kita tidak akan takut, tidak bimbang, tidak ragu, dalam mengarungi bahtera kehidupan kita yang fana/pana ini.

Hal ini, di karenakan, kita tahu sendiri, bukan katanya, bahwa Diri kita ini, adalah kekasih Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dan sebenarnya... Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, mengasih diri kita lebih dari ibu yang mengasihi anak kesayangannya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Sungguh... Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu. Maha Cinta Kasih Sayang terhadap hamba-hambanya, tanpa terkecuali. Untuk itu, kenalilah dirimu, ketahuilah jati dirimu, agar tahu sendiri, bukan katanya. Maka,,, tidaklah kita takabur, sombong, congkak, dengki, iri hati, khianat, karena kita tahu siapa diri kita sebenarnya.

Sebenarnya kita Tenteram “tiada apa-apa hanya ayat-ayat-Nya saja.
Sejatinya diri kita adalah penguasa dan pengurus. Sesungguhnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menjadikan alam dan makhluk untuk kita, dan menjadikan kita untuk Dia. Sebab itu ada ayat al-qitab yang menegaskan”inna lillaahi wa inna illaaihi rojiun”

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Kalau sudah mengerti dan memahami tiga unsur yang  di sebut Jati Diri atau Diri Sejati ini. Jangan berhenti. Teruslah belajar dan berlatih. Karena masih ada kelanjutan seterusnya lagi. Yaitu tentang AKU. Maksudnya, setelah Jati Diri atau Diri Sejati ini sudah di mengerti dan di pahami, akan muncul AKU, atau Aku Sejati atau Sejatinya Aku. 

AKU atau Aku Sejati atau Sejatinya Aku yang hakiki ini, mempunyai ilmu. Ilmunya adalah limpahan dari ilmu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Seluruh alam ini, ada di dalam AKU. Dalam AKU, ada surga, neraka, dunia, akhirat, malaikat, iblis bahkan seluruh ciptaan Dzat Maha Suci TuhanAllah lainnya. Semua ini ada di dalam AKU, karena AKU tahu semua itu. AKU telah diberitahu melalui ayat-ayat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang tersurat dan tersirat, bahwa semua perkara tersebut ada, dan AKU ‘merasai’ adanya. Oleh karena itulah. AKU ini mempunyai ilmu yang meliputi segala-galanya. Semua itu adalah limpahan karunia Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

AKU sebenarnya, hanya mengagungkan dan memuja serta menuju Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saja, tidak dan bukan yang lain. AKU tidak mengagungkan apa-apa pun jua selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Pada pandangan AKU, tidak ada yang kuat dan gagah melainkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Tidak ada yang bijaksana melainkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Tidak ada yang kaya melainkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Semua kekayaan, kegagahan, kebijaksanaan, keindahan adalah “Pangestu lan Pangayomaning Gusti” Maksudnya sebagai limpahan karunia Dzat Maha Suci Tuhan/Allah semata-mata. Oleh karena itu, AKU tetap dengan puja dan puji hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah  saja, tidak akan membagi-bagi Iman Cinta Kasih Sayangnya kepada apapun dengan apapun selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
AKU tetap melihat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah  di balik segala yang maujud atau perkara yang ada.
Apapun yang  “nampak” perbuatan dan kelakuan dan arah mana memandang disana “nampak” Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Oleh karena itu. AKU tidak akan membalas benci dengan balik membenci. AKU tidak akan membalas Fitnah dengan mengfitnah balik. AKU tidak akan menghina siapapun yang menghina. 

AKU hanya tunduk kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saja. AKU tidak dikuasai oleh siapapun dan apapun jua. Alam ini tunduk kepada AKU. Semua makhluk tunduk kepada AKU atas perintah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU adalah Khalifah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah atau wakil  Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang mengurus makhluk dengan isinya. Segala yang ada di langit dan di bumi semua untuk AKU. Kalau dunia ini ladang. Maka AKU pengurusnya dan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah  yang empunya ladang itu.Namun Dzat Maha Suci Tuhan/Allah tidak perlu apa-apa. Hanya AKU yang memerlukan Dia. Hanya AKU yang memerlukan dunia. Sebab itu Makhluk yang ada di dunia adalah untuk AKU. Semuanya adalah karunia dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah untuk  AKU. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah  jadikan semua makhluk untuk AKU. Demikian mulianya AKU.
                                                            
AKU itu berilmu. Ilmunya adalah limpahan ilmu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Ilmu itu meliputi yang diketahui. Apa yang diketahui itu adalah kandungan ilmu. Oleh karena AKU adalah ilmunya, dan yang diketahuinya adalah sebenarnya ‘bersatu’, ‘bersama’, dan tiada bercerai. AKU itu tahu. Apa yang AKU tahu itulah kandungan ilmu AKU. Bermacam-macam yang diketahui oleh AKU. Semua itu kandungan ilmu AKU. Semua itu tiada terpisahkan dari AKU. AKU tidak megah dan tidak bangga. Orang yang telah kenal AKUnya, tidak memiliki sifat-sifat yang tercela seperti takabbur, congkak, sombong, kikir, iri, dengki, fitnah, dendam, khianat, mengumpat dan semua penyakit hati. Karena AKU tahu. Sifat-sifat tercela itu tidak perlu baginya. Segala sifat tercela itu dengan sendirinya hilang dan diganti dengan sifat-sifat terpuji. Apa yang hendak dimegah-megahkan, dikhawatirkan, ditakutkan?, karena AKU ini sebenarnya tiada apa-apa. AKU itu kosong belaka. Yang ada hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah  memiliki segala-galanya. Dia yang patut dipuji dan dipuja.

 Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
Walaupun dari segi kehidupan dunia ini, seseorang itu miskin harta, tetapi kalau jiwanya kenal diri sejatinya dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah-nya, ia tetap kaya. Kaya pada rasaannya.Walaupun susah kehidupan dunianya,. AKUnya tetap merasa bahagia. Walaupun badannya lemah. AKUnya tetap kuat. Walaupun kesunyian tanpa rekan, namun tetap damai. AKU yang telah ‘menyerap’ dalam Yang Maha AKU, atau jiwa yang ‘menyerap’ dalam Jiwa Semesta atau rasa yang ‘menyerap’ dalam Perasaan Sejagat Raya, atau diri yang ‘menyerap’ dalam Diri Semesta Raya. Maka tidak akan merasa lemah, tidak akan merasa susah, tidak akan merasa jatuh, tidak akan merasa duka, dan tidak akan merasa sunyi.

Tujuan AKU ialah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, bukan sorga, neraka, hutan, jembatan, rumah kosong atau reinkarnasi. Yang diharapnya ialah Pangestu dan Pengayoman-Nya, maksudnya keredhaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.Yang diminta ialah keampunan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Pada pandangan AKU, kehidupan akhirat itulah yang utama. Kembali ke hadirat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itulah yang diidamkannya. AKU tidak takut berpisah nyawa dari badan karena ‘mati’ sebenarnya berpindah alam, dari alam dunia ke alam barzakh. AKU tetap AKU juga.
Walaupun badan hancur, tetapi AKU tidak hancur. AKU akan peduli ketika hijab-hijab pada jasad telah hilang dan pengadilan akan roh telah uasi. AKU tidak merasa hina karena miskin papa atau buruk rupa atau cacat tubuh atau tidak berpangkat atau tidak banyak kawan atau tiada harta benda sedikitpun juaSemua itu berkaitan dengan keduniaan dan kebendaan, tidak ada sangkut pautnya  dengan AKU yang bersifat kerohanian. AKU hina jika menduakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
AKU hina jika membagi iman kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dengan selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU hina jika tidak beriman dan tidak bertakwa,  itulah kehinaan pada AKU yang sebenar-benarnya.

AKU tidak megah dengan harta benda, uang, pangkat jabatan, kekuasaan, sanak, famili, anak, istri, suami, saudara, keluarga bahkan kedua orang tua, selain hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU tidak iri hati dengan orang kaya. tidak dengki dengan orang-orang berpangkat tinggi. Pada pandangan AKU, segala harta benda, uang, pangkat jabatan, istri, anak pinak, saudara dan sebagainya itu, adalah milik Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang dianugerahkan-Nya, kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia yang menentukan siapa yang patut diberi harta banyak dan siapa yang patut diberi-Nya harta yang sedikit. Semua itu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang menentukan. Ketentuan-Nya tidak dapat disanggah dan dipermasaalahkan. Kenapa AKU mesti gusar dan iri hati dengan ketentuan-Nya. Dia yang AKU puji dan puja, tentulah AKU redha dengan ketentuan-Nya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
AKU itu diri sejati. Diri manusia itu banyak, tetapi berasal dari Diri Yang Satu. Diri itu roh.
roh itu banyak, tetapi berasal dari Satu Roh yaitu AL-ROH. Al-Roh itu diberi gelar oleh orang-orang Sufi sebagai Hakekatul Muhammadiyah atau juga di beri gelar sebagai Insan Kamil atau Insan Kabir.

AKU tidak kagum dengan kemajuan manusia. Tidak kagum dengan kemajuan sains dan teknologi, kemajuan perniagaan dan perindustrian. Bahkan AKU tidak heran dengan segala urusan keduniaan.
Yang diherankan oleh AKU, ialah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, Bijaksanaan-Nya yang melimpahkan segala ilham atas kemajuan itu. Sebenarnya Dialah yang maju dan Dialah yang bijaksana. Dia yang memiliki segala ilham. Sumber ilham kemajuan itu dari Yang Memiliki Ilham itu sendiri, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

AKU berasal dari tempat yang tinggi dan mulia, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Kemudian datang sebentar ke alam bumi dan di-jasad-kan dengan badan jasmani, untuk waktu yang ditentukan, seperti merantau sebentar di alam bumi ini. Apabila sudah cukup waktunya berada di perantauan,
AKU pun kembali pulang menuju ke tempat asal. Ibarat perantau kembali ke kampung halaman. Tidaklah terkira hati berasa nyaman. Tetapi jika diperdalam, direnung dan dikaji. AKU tetap berada di tempat sendiri. Bukan dari mana dan ke mana pergi. Kapan dan di manapun juga. AKU tetap di tempat sendiri. AKU datang dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tidak bercerai walaupun seinci dan sesaat. AKU tetap bersama setiap masa dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dulu AKU bersama dengan-Nya, sekarang pun bersama dengan-Nya, akan datang pun bersama dengan-Nya. Senantiasa AKU terus bersama-sama dengan-Nya. AKU ini tetap AKU, bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah senantiasa. Hanya alam-alam yang ditempuh saja yang berbeda , dari satu alam ke satu alam yang lain. AKU senantiasa kekal dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah , walaupun di alam mana pun AKU berada.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
AKU senantiasa menyerahkan diri hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Penyerahan total, bulat sepenuhnya. AKU menyerahkan diri kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, ibarat bayi menyerahkan dirinya kepada ibunya, ibarat mayat menyerahkan dirinya kepada pemandi mayat, ibarat ombak mem-fana-kan atau melenyapkan dirinya kedalam lautan. Bahkan lebih dari sekedar dari itu lagi. Tidak dapat digambarkan lagi.

Hubungan AKU dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, ibarat hubungan matahari dengan cahayanya, ibarat ombak dengan laut, ibarat gula dengan manisnya. Semua ini menunjukkan betapa rapat AKU itu dengan Khaliknya. Kalau mau di ibaratkan lagi, ialah seperti pelukis dengan lukisan, pengukir dengan ukiran, pengarang dengan karangan, pencipta dengan ciptaannya. Ini adalah ibarat untuk menunjukkan bahwa AKU dengan alam semesta raya ini, adalah tanda-tanda atau manifestasi Wujud Dzat Maha Suci Tuhan/AllahYang Esa itu. AKU ini suci, karena AKU limpahan Nur Dzat Maha Suci, dan yang di sebut suci itu, bukan warna bukan bentuk, melainkan Roh Suci/Kudus yang tidak  bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun, jika ingin mendekati dan menemui suci atau manunggal/menyatu dengan AKU/SUCI, maka harus suci Jati Diri atau suci Diri Sejatinya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
Ketahuilah,,, akan siapakah yang disebut AKU ini. Karena AKU inilah, kita barulah bisa tahu dan mengenal akan hakikat sebenarnya Rahsia keTuhananmu.

Maka dengan ini ku uraikan suatu keterangan buatmu sekalian dan ku bukakan tabir rahsia untukmu sekalian, agar Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian... tahu dan mengerti apakah dan siapakah yang dimaksudkan kepada AKU. AKU. Adalah satu kalimah, dan Dia tidak mewakili berbagai jenis kelamin lelaki atau pun wanita, dan lagi, Dia terlepas dari anggapan itu. AKU adalah satu hal yang tidak ada padanya gambaran yang nyata, kerana Dia bersifat tidak nyata (GHA”IB), dan sesungguhnya AKU itu, adalah satu rahasia yang di tajjallikan oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dia menjadi penyata bagi Zatullah. AKU adalah merupakan Sifat keTuhanan yang terbit dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Padanya pula terdiri akan Sifat-Sifat Kebesaran dan Kekuasaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, kerana Dia (aku) itu, adalah Penyata bagi Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, atau dengan kata lain Dia (aku) itulah Kenyataan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Sesungguhnya Dzat Maha Suci itu, tidaklah dapat kita ketahui, akan keadaan diri-Nya, dan jauh sekali, untuk kita mengatakan. Dia itu berupa dan dab serupa macam-macam anggapan, kerana Dia tidak menyerupai dengan sesuatu apa pun. Oleh kerana itulah. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah,  mau memperkenalkan DIRINYA, maka Dia telah menyatakan akan Sifat keTuhanan-Nya, dan Dia yang bernama AKU. Dalam ilmu hakikat agama. AKU ini digelarkan oleh mereka, dengan nama AMAR ROBBI , artinya urusan Tuhan, dan ia membawa makna kepada keadaan Tuhan padanya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
Jangan salah paham dan Perlu di ingat. Bahwa AKU itu, bukanlah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, akan tetapi. Dia adalah Penyata yang dinyatakan  Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, agar Dia nyata, maka apabila Dia (aku) nyata, maka nyatalah Kebesaran Kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu. Maksudnya begitu, kerana kalau Dia tidak nyata, maka Kebesaran Kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu, tidak akan nyata, dan kita tidak akan tahu kalau Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu  ada, walaupun Dia ada.

Dengan Spiritual Hakikat Hidup, didalam Wahyu Panca Gha’ib, yang saya praktekan dengan munggunakan Wahyu Panca Laku, yang sedang saya pelajari sekarang ini.  saya ingin menyatakan bahwa AKU itu, adalah “IMAN” dan dia merupakan titik pertama yang dinyatakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah,  pada jasadku ini. Apabila Dia berada didalam badan diri ini, maka Dia telah menjadi DIRI pula. AKU yang tadinya merupakan titik atau noktah awal, kini telah berkembang menjadi DIRI dan diri itulah Cahaya Ketuhanan atau Iman, yang dinyatakan-Nya, daripada-Nyalah (AKU) mendatangkan kehidupan kepada badanku ini.

Pada AKU itu, ada berbagai macam rahasia, dan Dia merupakan satu amanah/utusan dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kepada kita ini. Asal kita mau, pasti kita akan dapat sesuatu darinya, tetapi dengan syarat, kita mesti mengenal dan mengetahui akan keadaaan-nya terlebih dahulu. AKU yang tidak berupa dan berwarna ini, hanya mampu kau tahu saja, kerana Dianya satu hal yang terahasia dari  keadaan sifat kezahiran rupa paras dan bentuk. Oleh itu kita hanya mampu tahu dan merasai saja, akan keberadaan AKU pada badan diri kita ini. AKU merupakan induk kepada kehidupan kita ini, tanpa AKU kita akan mati.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
Ketahuilah, bahwa AKU itu, adalah Iman. Iman itu Hidup. Hidup itu berasal dari Dzat Maha Suci, serta hanya akan kembali kepada Dzat Maha Suci. Dzat Maha Suci adalah asal usul kita. AKU adalah satu-satu pengantar yang bisa mengatarkan kita pulang kepada asal usul kita, yaitu Dzat Maha Suci, kerana itulah asal diri kita, dan asal dibalik asal kita itu, adalah dari Dzat Maha Suci, serta  semua yang ada ini, berasal dari-Nya jua. Karena itu, usah kita berdebat tentang-Nya, jangan bicara soal keadaan Dzat Maha Suci, sebab tidak ada satupun yang mampu untuk itu, cukuplah kita bicara Tentang AKU dan Soal AKU. kerana Dia adalah asal mula diri kita, dan dari-Nya diri kita terbit, kata singkat dariku. Pandai- pandailah “mengenal diri mengenal Tuhan” dan AKU itulah Dzat Maha Suci bagi diri, dan diri itu kenyataan AKU.

AKU…….adalah kenyataan Dzat Maha Suci, dan Dia adalah sifat kesempunaan-Nya, bila AKU menerima badan, maka diriku terbit mendatang pula, dan aku lenyap didalamnya, itulah saya Wong Edan Bagu, mengatakan ianya adalah Dzat diri, bukan Dzat Maha Suci, kerana AKU adalah AKU dan AKU bukan TUHAN dan TUHAN adalah TUHAN dan TUHAN bukan AKU, akan tetapi AKU datangnya dari TUHAN. He he he . . . Edan Tenan.

Renungilah olehmu wahai  Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
Dengan pandangan basirahmu, agar kau tahu dan mengerti serta paham, lalu temuilah AKU-mu, kehidupan yang kita ada ini, merupakan dalil penyataan dari perbuatan AKU, yang mana Dia terjadi melalui proses-proses semulanya jadi. AKU…..yang menanggung amanah dari Tuhan, membawa dan menerima suatu tugas yang besar, didalam menjalani kehidupan didunia maupun akhirat.

Ingat-ingatlah wahai Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian...
Dalam perjalanan spiritualmu itu, pastikan kita meletakkan semua pengharapan kepada AKU, kerana AKU itu cukup mencukupi bagi kita, rahasia Dzta Maha Suci Tuhan/Allamu, yang Maha Kuasa atas segalanya itu, yang menjadi bekal kita. AKU……..yang hidup tiada mati, kekal tiada binasa, menjadi diri bagi badan kita sendiri, dan kini AKU bergerak pada jalanku, yiaitu jalan rahasia Dzat Maha Suci menuju Dzat Maha Suci. Itulah Hakikat Hidupnya Jati Diri atau Diri Sejati Dan Aku Sejati atau Sejati-Nya Aku , yang bisa saya uraikan dengan apa adanya, sesuai yang saya ketahui dari Bukti nyata, hasil Praktek Laku Spiritual Hakikat Hidup pribadi saya di TKP.  Sampai jumpa di artikel selanjutnya, tentang Tujuh Alam atau Dimensi AKU, yang berhasil saya temukan juga, didalam Wahyu Panca Gha’ib. Dengan Judul Artikel; TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
           
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com