"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Sabtu, 20 Mei 2017

Memahami lika liku Laku Spiritual Dengan Filosofi Candi Gedong Songo:

Memahami lika liku Laku Spiritual Dengan Filosofi Candi Gedong Songo:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Ungaran Semarang. Hari Minggu Wage. Tanggal 14 Maret 2017

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian... Pada Hari Minggu Wage. Tanggal 14 Mei 2017 kemaren, saya menyempatkan diri untuk Napak Tilas Sejarah leluhur yang tersembunyi dibalik Candi Gedong Songo, yang berlokasi di desa Candi. Kecamatan Bandungan. Kabupaten Semarang.  Jawa Tengah. Tepatnya di lereng Gunung Ungaran.

Dulu... Sekitar tahun 1988, sewaktu saya belum menjalankan laku murni menuju suci. Dengan menggunakan sarana Wahyu Panca Ghaib, yang saya Praktekan atau saya jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Saya pernah mendatangi Candi Gedong Songo ini, namun,,, dengan segala upaya, saya gagal mengutik sejarah yang tersembunyi dibalik candi gedong songo ini. Dan atas ijin Dzat Maha Suci. Saya kembali lagi, dengan menggunakan Wahyu Panca Ghaib. Dan luar biasa,,, dalam waktu kurang labihnya 7 jam. Saya berhasil mengungkapnya secara detail. Saya hasilnya... yang saya uraikan dibawah ini. Semoga bermanfaat dan berguna sebagai Tambahan dan Belajar Memahi Spiritual Mengenal Sang Empunya.

Ternyata... Misteri yang tersembunyi dibalik candi gedong songo tersebut, memberikan jawaban kepada saya, dan penjelasannya, tidak sama dengan cerita masyarat setempat dan yang diriwayatkan oleh banyak nara sumber sejarah yang pernah mempelajari Mistik Candi Gedong Songo ini. Berikut kutipannya.

Candi Gedong Songo;
Candi Gedong Songo ini, sengaja dibuat oleh Oleh Prabu Sanjaya atau yang lebih di kenal dipasundan dengan sebutan Prabu Harisdarma. Pada jaman Kejayaan Wangsa Syailendra di abad ke-9 (tahun 927 masehi). Candi ini dibuat, untuk menggambarkan, atau sebagai gambaran tentang  Tingkatan atau Lapisan Dimensi dan Lika Liku serta  Pernak Pernik Sebuah Perjalanan Laku Spiritual, dalam Mengenal Tuhan melalui pembelajaran diri, sebenar-benarnya Diri Manusia, yang sedang berusaha Sadar untuk  menyadari akan adanya hubungan Sang Pencipta dan yang diciptakannya. Mulai dari mengenal sedulur papat, atau empat anasir. Hidup atau Ruh/Roh Suci/Kudus. Hingga ke soal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Tingkatan Dimensi Laku Spiritual itu, di gambarkan atau di expresikan oleh Prabu Sanjaya, dengan sebuah Candi yang Berjumlah sembilah, dan sepuluh sebagai penutupnya. candi gedong songo di dirikan Prabu Sanjaya, pada masa Dinasti Sanjaya, yang bertahta di Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan mataram kuno, yang terletak di Jawa Tengah bagian utara (dinasti sanjaya) dan jawa tengah bagian selatan (dinasti saylendra). Kerajaan mataram kuno yang wilayahnya subur, karena dikelilingi gunung-gunung yang menghasilkan mata air yang bermanfaat bagi pertanian penduduk mataram kuno.

Mataram kuno didirikan sanjaya pada tahun 732 M. Prabu Sanjaya adalah kemenakan dari Sanna, penguasa sebelumnya. Prabu Sanjaya yang suka berlaku spiritual mengenal Tuhan ini, lalu mendirikan candi-candi untuk memuja Dewa Siwa. Diantaranya adalah Candi Gedong Songo ini. Prabu Sanjaya juga belajar agama Hindu Siwa dari para pendeta yang ia panggil. Prabu Sanjaya meninggal pada pertengahan abad ke-8 dan kedudukannya di Mataram, digantikan oleh Rakai Panangkaran ((760-780), dan terus berlanjut sampai masa Dyah Wawa (924-928), sebelum digantikan oleh Mpu Sindok (929) dari Dinasti Isyana.

Prabu Sanjaya mengetahui, bahwa setelah pemerintahannya nanti, akan ada sembilah tokoh spiritual, dengan masing-masing tingkatan spiritualnya, akan muncul di tanah jawa, dan berhasil menguasai tanah jawa untuk beberapa saat lamanya, yaitu yang lebih kita kenal dengan sebutan wali songo. Prabu Sanjaya juga, mengetahui masing-masing tingkatan ilmu  spiritual yang dimiliki oleh sembilan tokoh spiritual yang di ramalkannya itu, lalu tingkat keahlian ilmu sembilan tokoh spiritual yang dimaksud itu, dikaitkan dengan sembilan pengetahuan laku spiritual yang pernah berhasil di laluinya selama belajar mengenal Tuhan.   

Dan di expresikan dengan cara membangun Candi Gedhong Songo, tujuannya, untuk mengabarkan kepada semua orang, bahwa kelak setelahnya, akan ada sembilan tokoh spiritual, yang  masing-masing tingkatan spiritualnya, sama persis dengan tingkatan yang pernah berhasil di lalui dalam laku spiritual menganal Tuhan itu, akan hadir di tanah jawa, mereka bersatu, salin mengisi dan melengkapi satu sama lainnya, hingga berhasil menguasai tanah jawa. Bercerai, berati runtuh atau gagal.

Dan setelah pembuatan Candi Gedong Songo, tak berselang lama kemudian. Prabu Sanjaya meninggalkan dunia. Yang kemuadian dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya. Untuk mengetahui raja-raja keturunan dinasti sanjaya, dapat diketahui dari isi prasasti kedu atau mantyasih atau yang lebih di kenal dengan nama prasasti balitung tahun 907 M.

Sebagai Berikut Dynasty Sanjaya;
1. Sanjaya
2. Panangkaran
3. Panunggalan
4. Waruk
5. Garung
6. Rake Pikatan
7. Rake Kayuwangi
8. Watuhumalang
9. Watukuro Dyah Balitung


Kita kembali pada Pokok semula, yaitu Belajar Memahami Tingkatan Dimensi Laku Spiritual Dengan Filosofi Candi Gedong Songo, sejak jaman dulu hingga sampai kapapun, untuk bisa mengerti dan memahami serta mengenal hingga bertemu dengan Dzat Maha Suci Tuhan, seseorang harus mencapai sepuluh tingkatan Laku Spiritual terlebih dahulu. Tentang apa saja sepuluh tingkatan laku spiritual yang harus dilalui itu, mari kita telisik candi gedong songo sebagai filosofinya. Dan saya mulai dari Candi Nomer Satu atau candi yang pertama. Yaitu;
1. Candi Duraroha;
Yang Berati Bebas. Pada tahap awal ini, seorang pelaku spiritual harus melatih kualitas pembebasan dirinya, dari semua dan segala kemelekatan, maksudnya, semua dan segala yang dianggap penting dan perlu di dunia ini. harus tanggal, harus sirna, harus luluh, harus runtuh, tanggalnya, sirnanya, luluhnya, runtuhnya semua dan segala kemelekatan diri ini, di gambarkan dengan Candi Duraroha, candi ke 1 atau candi yang pertama, yang berupa reruntuhan bebatuan bahan pembangunan candi, yang terkumpul rapi disatu tempat, sebagai  gambaran, runtuhnya semua dan segalanya kepentingan urusan duniawi yang melekat pada diri. Agar mudah prosesnya dan ringan lakunya.
2. Candi Baddhamana;
Yang Berati Bersih. Pada tahap kedua ini. Seorang pelaku spiritual, harus melatih diri, untuk Membersihkan semua dan segala kotoran atau noda di hati, seperti kebencian, hasut, fitnah, iri, dengki, dendam dll, agar supaya 20 sipat Dzat Maha Suci Tuhan, yang ada didalam dirinya sejak awal hingga kini, dapat tumbuh dan berfungsi sebagaimana mestinya, sehingganya, tidak ada keraguan dan ketakutan di dalam laku spiritual, bisa tetep idep madep mantep, tidak tergoyahkan. Bersihnya hati dan tumbuhnya sipat 20 Dzat Maha Suci Tuhan dalam diri ini, di gambarkan dengan Candi Baddhamana, yang berdiri kokoh dan indah.
3. Candi Pushpamandita; 
Yang Berati Murni. Pada tahap ketiga ini. Seorang pelaku spiritual, harus belajar  mengorbankan semua kepentingan yang hendak melekati dirinya yang telah terbebas dari semua dan segala kemelekatan duniawi itu, dan Harus belajar mengorbankan segala keperluan yang hendak mengotori dan menodai Hatinya yang telah bersih dari semua kotoran dan segala noda itu, agar supaya, yang melekati dirinya dan mengisi hatinya, hanya satu, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan. Kemurnia Jiwa Raga yang hanya terisi satu ini, yaitu Dzat Maha Suci, di gambarkan dengan sebuah Candi ke 3. Candi Pushpamandita, yang berdiri kuat, kokoh, indah, bersih, rapih, elok, dan berwibawa.  

4. Candi Rucira;
Yang Berati Patuh. Pada tahap ke empat ini. Seorang pelaku spiritual, harus belajar mengutamakan Dzat Maha Suci Tuhan dan mementingkan Dzat Maha Suci Tuhan, sedangkan yang lainnya, selain Dzat Maha Suci Tuhan, menjadi urutan tidak utama dan tidak penting. Serta belajar menahan diri, untuk tidak berbuat atau melakukan apapun, jika Dzat Maha Suci Tuhan, tidak mengehendaki. Menjalahkan semua kehendak Dzat Maha Suci Tuhan, dan menghentikan semua kehendak akal. Agar antara kawula dan gusti, atau antara jiwa dan raga, atau lahir dan bathin, bisa seiya sekata atau bisa setara. Dan kepatuhan dan kesetara’an jiwa raga dan lahir bathin ini. Digambarkan dengan Candi Rucira. Candi ke 4, yang terdiri dari dua buah candi, yang berdiri sejajar, sama kokok dan sama tingginya serta sama indahnya.   
5. Candi Citravistara;
Yang Berati Pengetahuan. Pada tahap kelima ini. Seorang spitual yang telah berhasil membebaskan dirinya dari semua kemelekatan dan berhasil membersihkan hatinya dari semua noda, serta berhasil memurnikan lakunya dan menyetarakan lahir bathin atau jiwa raganya. Dia akan terhantar masuk ke dalam proses spiritual yang selanjutnyanya, yaitu laku spiritual yang sesungguhnya. Ini di gambarkan dengan lika liku dan pernak pernik yang ditemui di sepanjang perjalanan menuju Candi ke 5, di sepanjang perjanan menuju candi ke lima, akan tersaji beraneka pemandangan, mulai dari yang bagus hingga yang jelek, mulai dari yang buruk hingga yang indah, mulai dari yang berguna hingga yang remeh dan sepele, mulai dari yang menyenangkan hingga yang menyedihkan, menyebalkan dan melelahkan, semuanya dan segalanya tersaji, tersedia di sepanjang perjalanan menuju tingkat tahapan ke lima ini. Jika seorang pelaku spiritual tetep idep madep mantep, terus berjalan, tanpa sirih dan terganggu apa lagi tergiyur oleh lika liku dan pernak pernik semuanya itu, dia akan berhasil sampai pada sebuah persimpangan jalan. Yang menyajikan dua pilihan, ke kanan dulu? Apa ke kiri dulu?

Di sebelah kanan, terlihat kenapakan candi ke 5 yang sangat memukau keindahannya. Di sebelah kiri, terlihat kenapakan candi ke 8 yang sangat gagah menawan. Jika belok kiri, meuju candi ke 8, berati harus siap melawan arus aturan dunia, dengan segala risikonya, kalau belok kanan, menuju candi ke 5, berati harus rela meng enyahkan kegagahan candi ke 8 yang sangat menawan itu. Kebingungan akibat segudang pengetahuan ini, di gambarkan dengan sebuah persimpangan jalan menuju puncak tahapan ke lima di dalam laku spiritual.

Dan keberhasilan dari mengusai ilmu pengetahuan ini, digambarkan dengan sebuah candi ke 5. Candi Citravistara, yang berdiri teduh dan indah diantara pernak pernik keindahan yang ada di sekelilingnya, di tahap ke lima ini, bisa bernafas lega, duduk santai dan nyaman, tanpa tekanan apapun, sangat membahagiakan.
6. Candi Rupavati;
Yang Berati Sadar. Apapun yang terjadi dan teralami oleh si pelaku spiritual di tahap kelima ini, di candi ke 5 ini, yaitu Candi Citravistara, di sadari atau tidak di sadari, akan mengatarkan si pelaku spiritual sampai ke candi ke 6, masuk ke tahap spiritual selanjutnya, yaitu tahap ke enam. Candi Rupavati, yang berati sadar. Akibat dari tidak sadar, karena terlena oleh kebahagia’an yang teramat sangat di candi ke 5 itu. Di gambarkan dengan sebuah Candi Rupavati, yang berbentuk reruntuhan dari bebatuan bahan bangunan candi, yang berserakan di enam tempat dalam satu lokasi, yang terlihat tidak menarik sama sekali.

Bagi pelaku spiritual yang tidak sadar, akibat terlena akan kebahagia’an yang teramat sangat di candi ke 5, dia tidak akan tertarik untuk memperhatikan candi ke 6 ini, akibat dari tidak tertarik itu, maka tidak akan tahu, dimana letak candi yang ketuju, atau, mengetahui candi ke 7, tanpa memperdulikan candi ke enam, yang merupakan tahap urutan sebelum candi ke 7, sehingganya, terlewati dan kehilangan banyak ilmu pengetahuan dibagian ini, akibatnya, tergesa-gesa ingin segera sampai ke candi ke 8, setibanya di candi ke 8. Dia akan tergulai lemah, karena seluruh energinya, terkuras habis dalam pemaksa’an yang tidak semestinya. Dan kegagalan sadar ini. Di gambarkan dengan candi ke 6, yang berupa reruntuhan batu bahan bangunan  Candi Rupavati.
7. Candi Durjaya;
Yang Berati Kesadaran. Bagi pelaku spiritual yang sadar, pasti akan tertarik untuk singgah dan memperhatikan reruntuhan batu Candi Rupavati, sehingganya dia tahu, ada apa dibalik reruntuhan tersebut, dan pengetahuannya yang sadar itu, akan mengantarnya menuju ke candi nomer 7, dengan tanpa risiko apapun, sehingganya, bisa mencapai candi ke 8 dengan tanpa risiko apapun. Keberhasilan sadar ini. Di gambarkan dengan Candi Durjaya, candi ke 7, yang berati kesadaran. Candi Durjaya berupan candi kecil, simpel, sederhana, namun sangat kokoh dan kuat, juga indah dan bersahaja, didukung alam sekitarnya yang sejuk dan hening serta nyaman, membantu pemulihan tenaga yang telah banyak terkuras dan hampir habis. Sehingganya, bisa melanjutkan perjalanan ke tahan selanjutnya, dengan rilekx, santai, tanpa beban yang menyapek-kan. 
8. Candi Jammanidesa;
Yang Berati Kesadaran Murni. Pada tingkat ke delapan ini. Seorang pelaku sepiritual, harus selalu belajar dan terus melatih diri untuk sadar, agar bisa menyadari semua dan segalanya dengan murni, dalam arti lain, apapun yang dilakukan dan diperbuat, tidak ada satupun yang terlepas dari Kuasa Dzat Maha Suci. Isi raganya hanya jiwa, dan isi jiwanya hanya Dzat maha Suci Tuhan, bukan yang lain. Kesadaran murni ini. Di gambarkan dengan sebuah Candi ke 8, yaitu Candi Jammanidesa, yang berati Kesadaran Murni. Sebuah candi besar, yang berdiri kokoh dan indah serta berwibawah diatas puncak bukit.

Dari candi kedelapan ini, semua lika liku dan pernak pernik yang telah berhasil dilalui, bisa dilihat, segala keindahan dan ketidak sia-sia’an masa lalu diketahui, bahkan masa depan terpampang jelas dalam pandangan mata. Suka dan duka, suka cita, bahagia, sedih, susah, senang semuanya, segalanya, tercurah, klimax, selesai disini. Tidak ada satupun yang sia-sia, tidak ada satupun yang tidak berguna, semuanya, segalanya, berasal dari Dzat Maha Suci Tuhan, semua dan segalanya milik Dzat Maha Suci Tuhan, dan semua dan segalanya akan kembali hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan. Sehingganya, terasa ringan, mudah, bahkan gampang, tanpa beban apapun, plong, enak, nyaman, bahagia, tenteram.
9. Candi Yauvarajya;
Dan Ketenteraman itu. Di gambarkan dengan sebuah Candi ke 9. Tersebut Candi Yauvarajya, yang berati Kosong atau Suwung, kosong, suwung, tidak ada apa-apa, apa-apa itu tidak ada.
Bagi para pelaku spiritual yang berada di tahapan ke sembilan ini, jika kesadaran murninya, hanya kadhang kala saja, sekedar saja, kalau dalam bahasa humornya, pagi tempe siangnya tahu sorenya oncom, terlena pada tenteram itu, tidak mau mencari sejatinya tenteram itu, tidak mau mencari sejatinya kosong/suwung tersebut, dia tidak akan memperoleh apa-apa, tidak akan mendapatkan apa-apa, tidak akan menemukan apa-apa, tidak akan mengetahui apapun, selain hanya sebatas kekosongan untuk menyaksikan keruntuhan/kehancuran spiritualnya sendiri.

Kekosongan dan kehancuran ini. Di gambarkan dengan sebuah Candi ke  9, yaitu Candi Yauvarajya, yang beratti kosong/suwung. Berbentuk reruntuhan dari bebatuan bahan bangunan candi, yang nampak tidak berguna sama sekali, dimana sekelilingnya, hanya ada semak belukar tanpa tanam, tanpa keindahan, tanpa pemandangan. Buntu. Tidak ada jalan untuk kelanjutannya, selain jalan pulang untuk kembali dari awal lagi atau dari awal lagi.
10. Candi Abhisheka;
Yang Berati Isi/Inti. Namun bagi pelaku spiritual yang aktif, yang tetep idep madep mantep. Yang Kesadaran Murni-nya terus menerus tanpa henti. Dia akan berhasil menemukan sesuatu di dalam kekosongan/suwung itu, sehingganya, tidak putus nalar dan pikirannya, terus belajar dan belajar terus, tidak ada istilah lulus atau tamat. Melainkan terus laku dan laku terus. Hingga pada akhirnya, dia berhasil menemukan jalan untuk menuju ke inti/isi-nya kosong/suwung itu, yaitu Candi ke 10, yang merupakan candi penutup, yang merupakan Candi Inti dari Candi Gedong Songo. Keberhasilan ini. Di gambarkan dengan Candi ke  10, tersebut Candi Abhisheka, yang berati Isi/Inti.

Candi Abhisheka ini, terletak dan tersembunyi di puncak paling tinggi di atas candi gedong songo dan di tengah hutan belantara. Sehingganya, tidak semua orang mengetahui candi ke 10 ini, dan lagi. Candi ke 10 yang tersebut sebagai candi penutup ini, tidak berbentuk susunan rapi dari bebatuan seperti pada umumnya candi di Gedong Songo, melain berwujud Arca Anoman. 

Dari Candi Abhisheka Yang Berati Isi/Inti dan berbentuk Arca Anoman ini. Bisa menyaksikan 4 candi yang berada di sebelah timur lereng gunung ungaran pless dengan lika liku dan pernak perniknya. Dan 5 candi yang berada di sebelah barat lereng gunung ungaran  pelss dengan lika liku dan pernak perniknya. Yang keduanya terbatasi dengan keindahan gunung-gunung, kota, desa dan perkampungan yang nampak kecil dan indah untuk di nikmati. Sebagai gambaran terjawabnya semua teka-teki dan segala pertanya’an serta risalah ghaib. Dan Akhir Kata dari saya Wong Edan Bagu, semuga hal ini, bisa menjadi penambahan wawasan laku spiritual kita bersama dalam belajar mendewasakan diri. Untuk mengetahui Rekaman dari perjalan mengungkap Candi Gedong Songo ini. Bisa klik link ini untuk menontonnya. https://youtu.be/yg2Gxt4IELs

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”     
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Rabu, 10 Mei 2017

Lungguhe atau Hakekatnya. Roh Kudus-Ruh Suci Atau Roh Sejati-Sejatining Roh. Atau Guru Sejati-Sejatining Guru:

Lungguhe atau Hakekatnya.
Roh Kudus-Ruh Suci Atau Roh Sejati-Sejatining Roh.
Atau Guru Sejati-Sejatining Guru:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Cilacap Jateng. Hari Rabu. Tanggal 10 Mei 2017


Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian, ketahuilah dengan kesadaran manusiawimu. Roh Kudus atau Ruh Suci, atau Roh Sejati-Sejatining Roh, yang lebih di kenal dalam istilah umumnya, dengan sebutan Guru Sejati atau Sejatining Guru, dalam istilah agamisnya sebagai Nur Muhammad atau Rasullullah/Utusan Tuhan. Itu adalah Hidup kita sendiri, Hidup yang bersemayam di dalam diri/tubuh/jasad kita ini, yang menjadikan kita bisa bergerak, bernapas dll.


Di saat Kekuatan Dzat Maha Suci, mengalir pada Hidup kita, akan mengarahkan dan meningkatkan perkembangan laku spiritual kita, sehingga, inti laku spiritual kita, dapat mencapai tahap pemurnian secara otomatis, pada Intisari terdalam Hidup kita, yang terletak di atas kesadaran murni, maka Hidup akan berevolusi (mijil), hingga tumbuh tubuh Hidup di atas Kesadaran Sejati/murni. Hidup juga akan tercipta setelah mencapai kesempurnaan Sejati itu sendiri. Hidup adalah Intisaripati kesempurnaan dan kesucian serta kesadaran tertinggi dari roh-roh yang ada pada diri individu umat manusia yang masih kedudukan Hidup.


Hidup berada di dalam Rasa, namun bukan asal rasa atau sembarang rasa, melainkan rasa yang sadar, benar-benar sadar dan sungguh seutuhnya sadar (murni), bukan kesadaran yang penuh dengan beraneka pernak pernik keduniawian. Hidup berada didalam rasa, rasa berada di dalam hati, hati berada dibalik rongga dada tubuh/jasad/raga kita. Hidup yang ada di dalam rasa dan rasa yang berada di dalam hati ini, hanya akan bergerak menembus seluruh dimensi lapisan tubuh kita (sekujur badan), ketika kita sadar dan kesadaran kita sepenuhnya murni. Jika tidak, maka tidak pula, hal inilah yang menyebabkan tubuh kita, ada kalanya bisa terserang penyakit dan mengalami gangguan mental, karena ada bagian tubuh/raga kita, yang tidak terisi Hidup, sehingga mengalami mati rasa, dan akibat dari mati rasa itu, sakitlah bagian tubuh itu dan bisa dimanfaatkan oleh yang berada diluar tubuh kita.


Artinya... untuk bisa selalu sehat bergas waras, kalis ing sambikolo, tubuh/raga kita butuh sadar yang murni dan kontinyu, secara terus menerus di sepanjang siang dan malam selama seumur hidup kita. Dan jika di sepanjang hari dan di sepanjang malam kita bisa sadar, dan sadarnya kita itu murni, tanpa noda dan kotoran apapun yang menempel di hati. Maka...


Kita akan memiliki dan memegang kendali/panguwoso, serta menjadi Intisari dari pengendali segala dan semua hal yang positif maupun negatif, baik secara spiritual maupun fisik, dari diri manusia hidup kita sendiri. Sehingganya, kita selalu memiliki kesadaran sejati/murni yang akan Menuntun diri, untuk terhindar dari infeksi sipat jahat dan sikap kejam serta aura kotor. Menuntun diri kita ke tarap/ranah/dimensi hidup didalam berkehidupan, yang lebih baik dan layak serta ke jalan kebenaran menuju Dzat Maha Suci secara sempuna dunia wal akherat.

Bisa saya gambarkan seperti ini. Jika Hidup itu terletak di Perinium. Maka Dia seperti bunga teratai yang menyangga pemurnian, termasuk penyangga sedulur papat kalima pancer. Fungsinya sebagai penjaga dan pembangkit serta penstabil Alam Semesta Kehidupan kita.
Jika Hidup menumbuhkan bunga Ilmu Pengetahuan, maka Alam Semesta Kehidupan kita, akan menumbuhkan Kesadaran Murni-nya. Sehingganya, Ilmu Pengetahuan itu, tidak menjadikannya sombong dan mencelakai.


Kesadaran Murni Hidup kita juga, akan selalu mengalirkan ilmu pengetahuan yang kita butuhkan setiap waktunya, dan Ilmu Pengetahuan itu, akan mengalirkan keberlimpahan dan segala hal yang positif pada kehidupan secara nyata, dan jika tanpa terhambat oleh sifat jahat, maka kesempurnaan itu akan mudah terjadi, yaitu kesempurnaan kebahagiaan dalam hidup. Dengan afirmasi keberlimpahan rejeki, karena secara otomatis Hidup akan mengalirkan keberlimpahan pada diri. Akan tetapi, dengan adanya sifat jahat dan aura kotor, maka sifat jahat dan aura kotor tersebut, yang akan memblok bahkan memutus aliran energi dari kesejatian/kemurnian Hidup hidup kita.


Tapi Jika diri kita kembali ke dalam kekotoran hati atau jalan penyesatan akal/nalar/nurani, maka hal tersebut akan menyebabkan Hidup kita jatuh ke dalam kekotoran, akan terjadi kebocoran dan kerusakan pada Rasa, kemampuan Hidup akan musnah, dan Hidup menjadi pasif atau tidak berfungsi, maka Hidup akan kembali seukuran bola golf. Dan kembali kebentuk roh atau sukma orang biasa pada umumnya yang belum mengenal Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku, dan kejadian ini, teramat sering saya temukan pada diri Putero Romo yang sangat saya kasihi. Sungguh eman-eman sekali, jika sampai mengalami hal ini, karena selain rugi, sungguh akan membuat menyesal seumur hidup di dunia hingga di akherat nanti, karena kesempatan kita, selagi masih berada di dunia ini, na,,, kalau kesempatanan di dunia ini, hanya kita habiskan untuk hal-hal yang tiada guna dan memusuhi sesama hidup bahkan membenci...!!!


Spiritual kita itu dimana...?!
Seumur Hidup saya melanglang buana, belum pernah dengar atau menemukan spiritual yang mengajarkan untuk salin benci, salin hina, salin sikut, salin singgung, salin sindir, salin fitnah, salin dendam, salin iri dan mbel nggedes lainnya, spiritual itu, ditentunkan oleh sikon hati pribadinya, seberapa bersih hatinya, sebegitu yang di perolehnya, jadi,,, untuk apa iri...?!


Tidak ada untungnya, menggunakan hati untuk menyinggung hati sesama hidup, untuk membenci sesama hidup, untuk menyekiti sesama hidup, untuk mengfitnah sesama hidup, untuk dendam dengan sesama hidup dll, tidak ada untungnya sama sekali, juga tidak menjadikan kita kaya raya, tambah hebat dan tambah sakti. Coba saya renungkan dengan Nalar Logikamu... ada orang bisa kaya raya dan sakti mandraguna dengan hal tersebut...?! ada ada justru banyak musuhnya... Dalam hal laku, jangan bersembunyi dibalik kata; “Tidak selembar daunpun yang jatuh kebumi, tanpa kehendaknya” kita bisa celaka dunia akherat dan anak keturunan kita akan ikut menanggungnya, sebab itu bukan hanya kata-kata pengertian yang cukup hanya dengan di pahami, melainkan Tututan Firman Tuhan, yang harus kita buktinya dengan benar dan nyata, seperti halnya Dua Kalimah Syahadat, kalau syahadat tauhidnya, okelah, tapi,,, bagaimana dengan syahadat rosulmu...?! Sebaiknya kita merenungkan ini dengan sadar. Bukan dengan ego...


Kalau didalam Sabda Dawuhnya Romo, baik di buku maupun di rekaman, selama saya mempelajarinya, tidak ada satupun dawuh yang mengajarkan untuk salin benci, salin hina, salin sikut, salin singgung, salin sindir, salin fitnah, salin dendam, salin iri dan mbel nggedes lainnya, spiritual itu, ditentunkan oleh laku pribadinya, seberapa murni lakunya, sebegitu yang di perolehnya, jadi,,, untuk apa iri...?! Sebaiknya kita merenungkan ini dengan sadar. Bukan dengan ego...


Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
           
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”     
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Senin, 08 Mei 2017

Mari BELAJAR ILMU RASA Bersama saya Wong Edan Bagu

Mari BELAJAR ILMU RASA Bersama saya Wong Edan Bagu:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Pangandaran. Hari Senin. Tanggal 08 Mei 2017

Saya sering Baca Artikel Tulisan Pak WEB, yang berbicara soal Rasa, tapi saya kurang nggeh, bahkan tidak mudeng alias tidak ngerti dan paham apa yang pak WEB bicarakan itu.
Rasa itu apa sih pak WEB..?

Rasa itu Hidup.

Rasa kok Hidup, buktinya apa kalau Rasa itu Hidup..?
Buktinya, kamu selagi hidup, kalau di cubit bisa merasakan sakit, bisa teriak aduh sakit, coba kalau mayat yang di cubit, bisa seperti itu….?

Hidup itu apa sih..?
Hidup itu yang menguasai diriku juga dirimu, yang bertenggung jawab atas diriku juga dirimu, yang bisa menjamin lahir bathinku juga lahir bathinmu dan dunia akheratku juga dunia akheratmu. Karena itu, wajib dan harus di ketahui.

Siapa yang mewajibkan dan mengharuskan?
Kepentingan dan keperluan serta kebutuhan dan masalah diriku dan dirimu.
Karena Hiduplah, yang mempunyai apa yang kita pentingkan, apa yang kita perlukan dan apa yang kita butuhkan serta yang kita permasalahkan. Jika kita tidak mempunyai dan memiliki kepentingan dan keperluan serta kebutuhan dan masalah. Tidak ada yang mewajibkan dan mengharuskan.

Sekarang pertanya’annya di balik. Apa kita punya dan memiliki.
Kepentingan...?
Keperluan...?
Kebutuhan...?
Masalah...?

Kalau punya dan memiliki. Maka wajib dan harus…!!!
Jika tidak…. (Lembur tanpo dadi) Bersiaplah untuk hancur dan sakit.

“Aja pisan-pisan ngaku wong Urip. Lamon tan bisa ngrasak’aken Uripe. Sebab, lamon ora bisa ngrasak’ake Uripe. Kuwi dudu wong Urip. Ananging mayit Urip”

Begitulah sebuah kalimat yang sering saya gembar gemborkan di facebook dan blogger, google serta wordpress saya di internet. Sebagai wujud kepedulian saya, dalam laku spiritual salin Asah Asih Asuh antar sesama Hidup. Sebanarnya ini bukan ilmu jawa atau kejawen atau wejangan Syekh Siti Jenar dan bla… bla… bla… lainya.

Malainkan peringatan dari Hidup untuk setiap Roh-Roh yang menempati seluruh wujud manusia tanpa terkecuali, kususnya bagi yang telah lupa Jatidiri asal usulnya. Seperti halnya Al-qitab jabbur, kitab jabur itu bukan ilmunya para rasul atau nabi-nabi dan kalangan ningrat saja, melainkan kabar kusus bagi siapa saja yang ingin Mengenal Dzat Maha Suci Hidup Dengak bukti nyata dan benar.

Para Kadhang kinasihku… Sesuai Bukti yang sudah saya Butikan di TKP buktinya. Tidak ada yang melebihi Hidup. Kecuali Dzat Maha Suci. Apapun itu nama, istilah dan sebutannya. Secantik dan setampan apapun, sehebat apapun, sesakti apapun, sekuat apapun, sekaya apapun, secerdas apapun, sekuasa apapun dan se bla… bla… bla… apapun. Jika di tinggal Hidupnya. Akan jadi bangkai mayat yang amat sangat menjijik-kan jika tidak segera di kubur. Itu pasti… tidak bisa di tawar apa lagi di tolak.

“Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada firman Tuhan. Yang dapat menjamin hidup mati dan lahir bathin serta dunia akheratmu”

Itu juga sebuah kalimat yang sering saya gembar gemborkan di facebook dan blogger, google serta wordpress saya di internet. Sebagai wujud kepedulian saya dalam laku spiritual salin Asah Asih Asuh antar sesama Hidup.

“Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada firman Tuhan. Yang dapat menjamin hidup mati dan lahir bathin serta dunia akheratmu” ini, sebenarnya  juga bukan ilmu jawa atau kejawen, melainkan peringatan dari Hidup, untuk setiap Roh-Roh yang menempati seluruh wujud manusia tanpa terkecuali, kususnya bagi yang telah lupa Jatidiri asal usulnya. Seperti halnya kitab Al-qur’an. Al-qurna itu bukan ilmunya orang islam atau wejangannya umat muslim atau tuntunan dan pedomannya orang arab. Melainkan kabar gembira bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Para Kadhang kinasihku sekalian… Sesuai Bukti yang sudah saya Butikan di TKP. Intisari nya ilmu itu. Baik itu secara syare’at maupun hakekat dan bla… bla… bla… lainya. Itu adalah Rasa. Puncaknya laku/spiritual apapun. Puncaknya ajaran dan intinya wejangan itu. Adalah Rasa. Tidak ada satupun ilmu atau laku/spiritual atau wejangan dan bla… bla… bla… apapun, yang lebih tinggi melebihi Rasa. Kecuali sang empunya Rasa itu sendiri.

(Mari BELAJAR ILMU RASA Bersama saya Wong Edan Bagu).
PERTAMA;
Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian…
Saya punya kebiasa’an. Kalau bangun tidur pagi-pagi. Sebelum melakukan apapun, Itu minum air putih. Minimal satu gelas besar, kebiasa’an ini, sudah saya lakukan selama berpuluh tahun. Ada kepuasan dan rasa nyaman setelahnya. Karena itulah saya suka melakukannya. Kalau tidak melakukanya… rasanya tidak enak. Tidak nyaman sampai-sampai kebingungan, jika bangun tidur pagi, tidak ada air putih untuk di minum.

Kalau sudah minum, rasanya plong… lega. Dahak yang bersarang di tenggorokan selama semalam suntuk, akibat rokok yang saya hisap di sepanjang harinya. Di buat ehem. Begitu saja langsung keluar, badan terasa fress, seperti habis jamu dan pijat urut. Dan saya menyakini, efek dari kebiasa’an minum air putih secara rutin tiap bangun tidur pagi inilah. Yang membuat saya tidak pernah di hinggapi penyaki-penyakit aneh, jarang sakit, bahkan nyaris tidak pernah, misalkan sakit, paling sakitnya, sakit kepala karena tidurnya tidak teratur, atau sakit perut karena makan, makanan yang tidak cocok dengan usus perut saya. Selain itu, teman-teman yang seusia dengan saya, mengatakan, katanya sih… saya nampak jauh lebih awet muda di bandingkan dengan mereka… He he he . . . Edan Tenan.

Di internet saya sering gembar gembor mengatakan, sebagai wujud kepedulian saya antar sesama hidup. Dengan sebuat kata… jika ingin selamat dari pengadilan karma. Jangan sekali-kali menyukai apapun itu, hingga mencapai kadar 100 % jika terpaksa harus menyukainnya, sukailah dengan kadar maksimalkan 99 % saja. Sisakan 1 % nya untuk Tuhan-mu. Agar supaya, jika nanti kamu teradili oleh karma yang kamu beri kadar 99 % itu, kamu punya tabungan 1 %, untuk Tuhan, agar sudi menolongmu. Syukur-syukur bisa sebaliknya. Karena… apapun yang di rahasiakan oleh Tuhan tentang hari esok kita, adalah akibat dari sebab yang kita buat di hari ini.

Nah… karena saya sedang laku murni menggali Rasa, untuk menuju suci. Sejak itu, kebiasa’an ini saya robah. Kebiasa’an yang saya sukai karena efek baiknya itu, saya robah, yang biasanya bangun tidur pagi minum air putih minimal satu gelas besar, saya tahan… bangun dari tidur, yang biasanya sejak awal membukan mata… pikirannya conex ke air, saya alihkan kepada Dzat Maha Suci…

Tangan yang biasanya dengan lincahnya dan otomatis maraih gelas isi air, saya alihkan untuk Patrap Palungguh 3x. Kunci 7x. Paweling 3x. Mijil Sowan 1x “lalu” semedi… didalam semedi, semua dan segala Kepentingan. Keperluan. Kebutuhan. Masalah, saya serahkan atau saya pasrahkan kepada Dzat Maha Suci, “lalu” apapun keputusan Dzat Maha Suci, saya terima “lalu” saya persilahkan Dzat Maha Suci, mengabil alih semua dan segala Kepentingan. Keperluan. Kebutuhan. Masalah saya “lalu” Perlahan saya mengingat Dzat Maha Suci, memikirkan Dzat Maha Suci, lalu membelainya, mendekapnya, merasakannya… seusainya, “lalu” perlahan saya bangkit dari duduk bersilah semedi, meraih gelas isi air putih dan saya minum sambil Memuji-Memuja Dzat Maha Suci. Mensyukuri atas segala dan semuanya akan diri lahir bathin dan jiwa raga saya ini. Bahwasanya adalah karena Dzat Maha Suci semata…

Dengan begitu dan seperti itulah,,, saya benar-benar dapat bisa merasakan selalu bersama Dzat Maha Suci. Sungguh luar biasa Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian… Rasanya jauh lebih nikmat, jauh lebih plong dan jauh lebih menyehatkan, di bandingkan sebelum saya melakukan hal ini. “lalu” Pengalaman ini, saya sebar, saya bagikan dengan semua dan segalanya tanpa terkecuali dengan penuh Cinta Kasih Sayang... Wow.... Sempurna. Sudah nikmat, karena tenggorokan kering yang tersirami air putih di pagi hari, Minumnya di temani bersama Dzat Maha Suci lagi… sambil di belai, di pangku dan di timan-timang oleh Tuhan yang Maha Segalanya itu… katanya berbisik di telinga saya… ( Sayang… kamu ga usah ragu dan bimbang apa lagi takut ya sayang,,, AKU akan selalu bersamamu dalam sikon seperti apapun dan dimanapun) Wahahahahahhaha…. Uedan Tenan Pokok’e…

KEDUA;
Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian… saya pecandu rokok. Penikmat rokok. Hampir di setiap kegiatan saya sehari-hari. Selalu rokok dan rokok, sampai-sampai, yang namanya rokok itu, seperti istri kedua saya, tidak lengkap rasanya jika tidak di temani rokok, apa lagi,,, kalau habis makan, makanya nasi, sayurnya, sayur asem atau sayur bening, sambel terasi, lauknya ikan peda atau ikan asin di goreng setengah matang. Wow… luar biasa nikmatnya, itulah menu favorit saya. Habis makan… duduk santai sambil medang teh hangat, rokoknya gudang garam surya 16… huuuuu…. jan edan tenan pokoknya.

Tapi… walaupun saya makan menu favorit saya itu, jika setelah makan tidak merokok, waduh… tunggu dulu,,, lebih baik puasa saja lah. Mending tidak makan sekalian, asalkan bisa merokok. Soalnya, jika habis makan tidak merokok… Ma’af. Rasanya seperti habis Be’ol tidak wawik. Mual dan muntah… ini menandakan kalau saya benar-benar penikmat rokok atau pecandu rokok. Apa lagi ngisepnya sambil nongkrong di wc… lubang di atas nyedot, lubang di bawah ngeden…. wahahahhahahaha…. Edan Tenan.

Karena saya sedang laku murni menggali Rasa, untuk menuju suci, sejak itulah kebiasa’an ini saya robah. Sa’at makan, seperti biasa rokok sudah saya siapkan di samping menu makanan. Setelah makan, pikiran dan tangan yang biasanya otomatis conex ke rokok, saya alihkan Patrap Palungguh 3x… saya diam sejenak “lalu” memuji dan memuja Dzat Maha Suci… Setelah saya temukan Dzat Maha Suci dan Dzat Maha Suci saya rasakan ada bersama saya “lalu” saya ucapkan syukur atas diri saya ini, segalanya adalah karena Dzat Maha Suci semata. Terima Kasih Tuhan… (Matur Nuwun Romo) Terima kasih Tuhan (Matur nuwun Romo) Semakin tulus saya ucapkab Terima kasih-Matur nuwun itu, Semakin Erat dan Mesrahnya Dzat Maha Suci Memeluk dan membelai saya. Disa’at Dzat Maha Suci Memeluk erat saya dengan kemesrahannya itulah,  saya meraih Rokok dan menyalakannya “lalu” mengisapnya penuh dengan kesadaran. Dan klimaxlah laku murni saya pada sa’at itu…

Rasanya jauh lebih nikmat, jauh lebih wow… sungguh amat sangat luar-luar biasa. Dunia ini hanya milik saya dengan Dzat Maha Suci saja, seakan-akan yang lain Cuma numpang doang, itupun Cuma sebentar dengan kebuta’an panca inderanya. Bukan seakan-akan. Nyata-nyata benar loh… BUKTIKAN saja. Saya Wong Edan Bagu bisa… saudara-saudari Khususnya Para Kadhang kinasih saya. Pasti jauh lebih bisa… He he he . . . Edan Tenan.

Kedua contoh belajar menggali Rasa yang sudah saya ungkap diatas. Jika di praktekan, awalnya akan terasa ganjil, canggung dan kaku, karena kita sudah lama terdogma dengan kebiasa’an masa lalu, tapi itu hanya akan terjadi sekali atau dua kali saja, tiga kali dan selanjutkan sudah tidak akan lagi. Tapi, secanggung dan seganjil serta sekaku apapun, jika akan mendapatkan Ilmu Rasa yang seimbang bahkan lebih dari cukup jika harus di bandingkan dengan perjuangan usahanya untuk mau belajar.

Pamrih saya… dengan tertulis dan ter postingnya artikel ini, berharap. Anak-anak didik saya bisa lakukan cara ini. Kususnya yang sedang Berada dekat di samping saya. Cara ini, cara yang sedang saya gunakan dan saya jalankan selama ini. Dengan ini saya dapatkan kemudahan tanpa hambatan, tidak ribet dan tidak banyak neko-neko itu dan ini. Cukup dengan Tata. Titi. Surti ati – ati. Tetep. Idep. Madep Mantep maring Gustine, bukan lainya… INGAT… Maring GUSTINE. Pada TUHANNYA.

Dengan Menggali Rasa… kita akan mengerti Wahyu Panca Ghaib dan Dengan Menggali Rasa... kita akan paham Wahyu Panca Laku. Dengan Mengerti Wahyu Panca Ghaib dan paham Wahyu Panca Laku, kita akan mengenal Sedulur Papat Kalima Pancer kita, dengan mengenal sedulur papat kalima pancer kita, kita akan mengenal Hidup kita, yang merupakan guru sejati kita, yang bisa menjamin jiwa raga dan lahir bathin serta dunia akherat kita,, dan dengan mengenal Hidup/Guru sejati. Kita akan mengetahui Dzat Maha Suci Hidup Hyang Maha Segala-Nya.


Rasa itu Hidup, Hidup itu rasa, krasa, rumangsa, ngrasakaken, urip (Sedulur Papat Kalima Pancer) dimana ada Rasa, di situ ada Hidup, dimana ada Hidup, disitu ada kehidupan, dimana ada kehidupan. Maka disitu pula ada Dzat Maha Suci Hidup. Maka,,, ketahuilah… agar tak sia-sia dan percuma, sehingganya apapun yang kita perbuat bisa dan sesuai dengan yang di Firmankan oleh Hyang Dzat Maha Suci Hidup. Semoga Pengalaman Pribadi saya ini, bisa bermanfaat bagi Para Kadhang kinasihku sekalian. Salam Rahayu selalu dariku.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
           
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”     
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Sabtu, 06 Mei 2017

Intropeksi Dan Merenunglah Mulai Sekarang;

Intropeksi Dan Merenunglah;
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Semarang Hari Jumat kliwon. Tanggal 5 mei 2017

Dulu... Aku mengira, bahwa Tuhan itu, adalah konsep. Dulu... Aku beranggap, kalau Tuhan itu, adalah teori. Sebab itu, aku selalu mengolah rasa dan perasaan dan memikirkannya siang dan malam.

Kini... Aku sadar, bahwa ternyata. Tuhan itu bukanlah konsep atau teori yang harus di percaya atau harus di yakini. Karena,,, di percayai atau tidak di percayai, di yakini atau tidak di yakini. Dia tetap Tuhan di sana dan di sini.

Sungguh aku tidak bisa mengingkari Wahyu Panca Ghaib. Sungguh aku tak sanggup mengelaki Wahyu Panca Laku. Apa lagi menutupi dan menyembunyikan serta merahasiskannya.

Karena dua itulah. Kini aku tahu. Bahwa TUHAN adalah nama atau sebutan, bagi AKU SANG KESADARAN SEJATI (murni).
Seperti juga budha, krisha, avatar, kristus, rasul, dan syang hyang ismaya, adalah nama atau sebutan bagi kesadaran yang mewakili sumber sejati. Tuhan adalah label yang disematkan sebagai perwujudan pada kesadaran jernih/murni dari segala lapisan alam kehidupan.

Dia bisa hadir ke dalam semua wujud kesadaran jiwa sejati yang murni, nama atau sebutan bagi jiwa yang meresapi semuanya dan segalanya tanpa terkecuali.

Itu sebab Tuhan tanpa bentuk dan tidak bisa dilihat mata. Karena Tuhan adalah kesadaran sejati (murni), maka harus disadari oleh jiwa, bila ada yang meributkan bentuk dan wujudnya, pasti dia buta, karena tidak tahu, bahwa Tuhan itu, adalah wujudnya kesadaran sejatinya/murninya kita sendiri.

Bila ingin menemui Tuhan yang sebenarnya atau yang sesungguhnya, ada ada satu cara saja, yaitu dengan cara disiplin kesadaran, dan disiplin kesadaran itu, hanya bisa di lakukan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.

Jadi... Himbsuanku untuk semua para kadhang kinasih didikan saya khususnya, jangan sekali-kali meributkan Tuhan, kalau tidak tahu makna penyebutannya.

Siapa bilang Tuhan itu minta dipuja dan di puji...?! Siapa yang bilang Tuhan itu harus di percaya dan di yakini...?!

Di puja puji atau tidak di puja puji. Dia tetap Tuhan di sana sini. Di percaya dan di yakini atau tidak di percaya dan di yakini. Dia tetap Tuhan dimanapun.

Hanya jiwa-jiwa yang buta matanya, yang meributkan nama-nama Tuhan. Hanya jiwa-jiwa yang kotor hatinya, yang meributkan wujud dan bentuk Tuhan.

Bagimu yang masih belum mengerti dan paham tentang kesejatian, sehingganya belum bisa salin menghormati dan menghargai apapun dan siapapun, yang masih begitu congkak kepintaran moralnya, yang masih dipengaruhi kesombongan dan kemelekatan.

Jangan munafik, cobalah membuka hati walau sejenak, renungkan dengan sadar kejujuran laku spiritualku dimalam jumat kliwon tanggal 5 mei 2017 ini. Bagi yang bebal hati batu seakan tak berpintu, anggaplah ini angin lalu. Bagi yang menganggap ini bermanfaat, pelajari saja sendiri, dan Bagi yang menganggap ini gangguan, saya sarankan untuk instrospeksi dirilah.


Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Cermin Diri - Kaca Benggala:

Cermin Diri - Kaca Benggala:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Cirebon. Hari Rabu. Tgl 26 April 2017
Ada seorang kadhang, sebut saja namanya Bungeko, yang sedang
mengalami masalah bertubi-tubi. Rumah tangganya tidak harmonis. Bersamaan dengan itu, semua bentuk usahanya selalu gagal dan gagal maning. Dia menggunakan Wahyu Panca Ghaib, untuk mengatasi dan menyelesaikan semuanya itu, tapi, masih saja gagal terus dan terus gagal, bahkan bertambah sulit dan parah.

Pada waktu yang senggang, bungeko berpikir dan mengevaluasi diri.
Apa yang salah dengan hidupku?
Mengapa aku gagal terus?

Spiritual gagal... Usaha gagal... Doa gagal... Bla...3x selalu gagal. Padahal selalu serius dan bersungguh sungguh melakukannya.

Bungeko selalu berpikir dan mengevaluasi dirinya terus. Tentang bagaimana caranya untuk merubah kegagalan dengan kesuksesan?

Dimulailah pencarian jawaban atas pertanyaannya dengan bertanya kepada paranornal terkenal sedunia, yaitu Eyang google, yang dianggapnya mampu memberi jawaban. Terjeruslah bungeko ke situs Wong Edan Bagu.

Setelah beberapa artikel habis dibaca, dia merasa tidak puas dan tidak pula menemukan jawabannya. Lalu dia membeli buku Panduan atau Tuntunan laku spiritual karya Wong Edan Bagu, berjudul Kunci The Power. Setelah buku Kunci The Power habis dibaca, dari awal hinggal akhir, dia tetap merasa tidak puas dan tidak pula menemukan jawabannya. Namun....

Tiba-tiba timbul inspirasi di pikirannya, kenapa aku tidak menanyakan langsung saja ke penulis artikel-artikel itu?
Pasti akan lebih berhasil bila aku bisa mendapatkan petunjuk langsung dari si penulis buku Kunci The Power. Maka ditemuilah si penulis buku Kunci The Power tersebut, yaitu Wong Edan Bagu, disuatu tempat.

Setelah menceritakan semua kesulitan dan kegagalan yang dialaminya, bungeko berkata, “ Pak WEB,,, tolong ajarkan kepada saya, rumus dan cara yang bisa membuat saya sukses ”.

Wong Edan Bagu pun menjawab.
“ Kalau Anda membaca buku Kunci The Power saya dengan teliti, dan menjalankannya dengan nyata, srsuai yang saya tuliskan dalam buku Kunci The Powrr, tentu akan ditemukan cara-cara menuju sukses, jangan hanya sukses secara duniawi, soal Tuhan pun bisa Anda raih dengan sempurna, bukan cuma sukses ”

Bungeko;
”Saya sudah membaca habis, bahkan hafal isi buku anda, tetapi tetap saja belum menemukan rumus sukses. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk bertanya langsung ”

Wong Edan Bagu berpikir sejenak dan berkata, “ Baiklah, saya akan ketemukan kamu dengan seseorang. Biar dia yang memberitahu kamu bagaimana cara sukses dalam hidup ini ”

Dengan gembira bungeko bertanya, “ Dimana orang itu bisa saya temui? ”

Wong Edan Bagu mengajak bungeko ke sebuah kamar, “ Dia ada di dalam kamar ini, kata Wong Edan Bagu"
Maka Bungeko pun mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam kamar. Namun bungeko heran, karena tidak ada seorangpun di dalam kamar tersebut, yang ada hanya sebuah almari yang berpintu cermin.

Lalu Wong Edan Bagu berkata. “Lihatlah ke cermin itu. Orang yang ada di cermin itu, adalah sang penolong yang kamu cari, untuk menunjukkan bagaimana caranya meraih sukses. Sesungguhnya hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri, tanpa kamu berani memulai dari dirimu sendiri, untuk berusaha dan berjuang, maka kamu tidak akan meraih sukses! ”

Seketika itu juga Bungeko tersadar, “ Terima kasih pak WEB. Saya akan berusaha lebih tekun lagi, dan mengandalkan diriku sendiri, untuk mempraktekkan teori yang telah saya dapat dan pelajari dari buku Kunci The Power karya spirituan panjenengan.

Hidup adalah rangkaian aktivitas yang kita lakukan setiap hari, kalau perasaan malas, tidak disiplin, bimbang, ragu-ragu dan lain sebagainya menguasai diri kita, tentu nasib buruklah yang kita dapat. Sukses bukanlah teori, sebagai manusia hidup yang telah dikaruniai segenap kelebihan-kelebihan olah Dzat Maha Suci, kita harus berani mengembangkan diri dan mengandalkan diri sendiri untuk berpikir, bergerak dan berjuang dengan Wahyu Panca Laku (iman).

Kalau mental kemandirian telah kita miliki, dan tidak cengeng dalam menghadapi kesulitan hidup, berani belajar dalam setiap tindakan yang kita ambil, maka pasti nasib takdir yang kita takuti, akan berubah menjadi jalan atau anak tangga untuk meraih sukses dan berhasil dengan sempurna, seperti yang diharapkan...!!!


Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com