"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Rabu, 08 Februari 2017

LAKU SUCI TEMUJU/MENUJU SEMPURNA/DZAT MAHA SUCI:

LAKU SUCI TEMUJU/MENUJU SEMPURNA/DZAT MAHA SUCI:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Yogyakarta. Hari Rabu. Tgl 08 Februari 2017

Wahyu Panca Gha’ib Dan Wahyu Panca Laku, adalah Laku Suci Menuju atau Tumuju  Sempurna atau Dzat Maha Suci. Maksudnya. Wahyu Panca Gha’ib itu Dzat Maha Suci yang diTuju. Sedangkan Wahyu Panca Laku itu Cara untuk Menujunya. Sebab itu,,, siapapun dia, yang memiliki dan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Mau tidak mau, relah tidak relah, suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, yakin atau tidak yakin. Harus murni tan kemomoran (tidak ternodai), bersih, tulus, jujur, apa adanya. Jika tidak,,, bagaimana mungkin bisa alias tidak akan pernah bisa.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali).

“Tiap-tiap yang berjiwa hidup akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai coba’an (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” ( QS. 21 : 35 )

Coba saja di pikir dengan logika yang nyata dan wajar;
Tuhan/Allah itu Dzat Maha Suci. Kita berasal dari Dzat Maha Suci. Kita milik Dzat Maha Suci, dan Kita akan kembali kepada Dzat Maha Suci (inna lillahi wa inna illaihi rojiun). Suci itu bukan warna, bukan bentuk dan sebutan, suci itu adalah sesuatu yang tidak bisa saya sebutkan gambaran perumpamaannya disini, saya hanya bisa mengatakan kalau suci itu, adalah sesuatu yang tidak bisa di campuri dan tercampuri serta tercemari oleh apapun dan dengan apapun, kecuali dengan suci dan oleh suci itu sendiri.

Terus... Kita ini berasal dari suci itu, kita ini milik suci itu. Lalu... mana mungkin dan apa mungkin bisa...?! jika kita tidak suci...?! kalau kita bukan suci...?!

Suci itu tidak bisa dicampuri, tidak bisa tercampuri serta tidak bisa tercemari dengan apapun dan oleh apapun, kecuali suci itu sendiri lo... Coba saja dipikir lalu di renungkan. Iya apa iya...!!!.

Disinilah babak penentuan Laku Spiritual Hakikat Hidup, sebenarnya bukan Cuma Hakikat Hidup saja, yang babak penentuannya di bagian ini, setahu saya, semua Ajaran, termasuk agama dan kepercaya’an, juga sama, penentuannya di bagian ini, namun karena gagal paham soal Suci dan tentang Sempurna. Jadi patah dan tumbang oleh ego aku-nya masing-masing.

Khusus untuk Para Kadhang kinasih saya yang memegang Buku Kunci The Power dan Para Kadhang kinasih bimbingan saya dimanapun berada. Tolong; Copy Paste Artikel ini. Untuk dipelajari secara mendalam dan penuh penghayatan rasa. Agar supaya. Panjenengan semuanya. Bisa mengerti dan Paham Serta mengetahuinya sendiri secara langsung. Bukan katanya Wong Edan Bagu. Tentang Semua dan segalanya soal Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. (kalau masih katanya Wong Edan Bagu, berati masih belum benar dan tepat), karena itu, untuk bisa sendiri. Baca baik-baik Artikel ini, dengan sadar, jangan dengan melamun, supaya lebih mudah membacanya, salin atau copy paste Artikel ini. 

LAKU SUCI TEMUJU/MENUJU SEMPURNA/DZAT MAHA SUCI;
Wahyu Panca Gha’ib Dan Wahyu Panca Laku, adalah Laku Suci Menuju atau Tumuju  Sempurna atau Dzat Maha Suci. Maksudnya. Wahyu Panca Gha’ib itu Dzat Maha Suci yang diTuju. Sedangkan Wahyu Panca Laku itu Cara untuk Menujunya. Sebab itu,,, siapapun dia, yang memiliki dan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Mau tidak mau, relah tidak relah, suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, yakin atau tidak yakin. Harus murni tan kemomoran (tidak ternodai), bersih, tulus, jujur, apa adanya. Jika tidak,,, bagaimana mungkin bisa alias tidak akan pernah bisa.

Caranya bagaimana Pak WEB...?!
Caranya. Galilah rasa, yang meliputi seluruh tubuhmu, di dalam tubuhmu, ada firman Tuhan, yang dapat menjamin, jiwa ragamu, lahir bathinmu, dunia akheratmu dan hidup matimu. Mengibadahkan atau Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Di sadari atau tidak di sadarai, di sengaja atau tidak di sengaja niyatnya. Pada hakikatnya, itu sudah berupaya atau berusaha menggali rasa yang meliputi seluruh tubuh kita.

Prakteknya bagaimana Pak WEB...?!
Prakteknya. Langkah awal adalah mengenal Hati;
Semua orang pernah mendengar tentang mengenai hati, apa lagi yang ngefen dengan kiyai atau ustdaz AA Gim, karena tema dakwahnya, adalah tentang hati. Tapi sangat jarang yang benar-benar mengenal hati. Padahal, hati adalah bagian dari diri kita, sama seperti kaki, tangan, hidung, telinga, dan organ-organ tubuh lain, namun nyatanya, hampir semuanya, tidak mengenal hati, sebaik mengenal tangan, kaki, telinga, hidung dll-nya itu.

Bagi kita manusia, hati memiliki fungsi yang spesial, yang menentukan kita bisa atau tidaknya menjalani hidup di dunia ini, seperti dan sesuai Firman Dzat Maha Suci Hidup. Kita sudah tahu, bahwa fungsi kaki adalah untuk berjalan, tangan untuk memegang, telinga untuk mendengar, hidup untuk mencium, otak untuk berpikir, merancanakan, mengontrol jalannya mesin tubuh. Namun, tahukah kita apakah itu fungsi hati..?!

Hati, seperti yang kita sudah ketahui, adalah pusat dari semua organ. Kita dapat merasa, menyadari, mengalami dll, dengan menggunakan hati. Artinya, jika bicara mengenai rasa, hati adalah pusat rasa yang keluar masuk, tersebut rasa indah, rasa tenang, rasa damai, rasa nyaman, rasa bahagia. Jadi, hati adalah lapaknya hubungan sosial dengan sesama hidup dan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta Segalanya. Karena rasa yang sejati, rasa yang sebenarnya, rasa yang sesungguhnya, bersemayan di Hati. Mari kita kupas lebih dalam lagi, ada apa di dalam Hati...

Firman Tuhan;
Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai, yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada rasa, di dalam rasa, ada hidup, di dalam hidup, ada Sir, di dalam Sir, ada Dzat, di dalam Dzat, ada Sipat, di dalam Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku. “Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu” Rahasia kalian adalah rahasia-Ku.

Sebab itu saya selalu berpesan wanti-wanti;
Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan

Semua berlapak di Hati, segalanya bermuara di Hati. Ketenteraman ada di dalam diri kita. Kesucian ada di dalam diri kita. Kesempurnaan ada di dalam diri kita. Tuhan-pun ada di dalam diri kita. Yaitu di Hati. Janganlah mencarinya di luar diri kita, carilah kedalam diri kita. Yaitu Hati. Hati kita sendiri, bukan Hatinya orang lain, sebab itu dan karena itu. Hati-Hati-lah. Dengan Otak/Perasaan-mu.

Hati/Rasa dan Otak/Perasaan adalah dua piranti Hidup, yang kita peroleh dari Dzat Maha Suci, dimana hati adalah piranti utama, untuk kehidupan yang asli dan pasti. Selama ini, kita terbiasa menggunakan otak, untuk di hampir semua aktivitas, menyelesaikan persoalan, berhubungan antar sesama manusia, menghadapi tantangan, dan merespon situasi/kondisi di sekitar kita, bahkan berTuhan-pun, kita menggunakan otak, sebab itu, walau satu ajaran keyakinan, bisa salin sikut dan salin fitnah, karena otak yang di gunakan, Inilah yang menjadi sumber stres bahkan trauma, ketidak bahagiaan, ketidak puasan, kekuatiran, kejengkelan, ragu, takut dan hal-hal negatif lainnya,  yang berujung pada pencarian kebahagiaan serta kepuasan yang semu dan sesaat.

Itulah ciri-ciri di mana saat kita hanya menggunakan otak/perasaan. Dengan lebih mengutamakan hati daripada otak, hal-hal negatif tersebut, akan berganti dengan rasa khas hati yang indah, tenang, damai, nyaman, bahagia, tenteram, sempurna. Dengan mengenali hati, kita bisa memanfaatkan hati untuk perbaikan segala aspek kehidupan yang sudah mendogma/mendogtrin otak, seperti kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual.

Langkah Kedua adalah Membuka Hati;
Untuk dapat memanfaatkan hati, kita perlu belajar dan berlatih untuk menggunakannya. Sama persis seperti di saat kita belajar menggunakan kaki untuk merangkak, berdiri, berjalan, berlari, tangan untuk menyentuh, meraba, menggenggam, memegang, menjumput dll. Kita perlu mengasahnya seperti halnya kita mengasah otak dengan mempelajari beberapa ilmu pengetahuan, mulai dari TK, SD, SMA, sampai pendidikan lanjutan. Jika biasanya kita menyehatkan tubuh dengan olah raga, mencerdaskan otak dengan olah pikir, kita bisa memperkuat hati dengan olah rasa.

Menggunakan dan memanfaatkan hati adalah suatu keterampilan, yang dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun, dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Keterampilan ini dapat dipelajari oleh siapapun, tidak memandang usia, laki-laki, perempuan, agama, suku, dan lain lain, karena bersifat sangat universal dan caranya juga sangat sederhana, tidak ribet, tidak rumit, sulit dan berat. La wong cukup Patrap Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, minimal dua kali dalam sehari semalam, sebelum tidur sekali dan setelah tidur sekali. Itulah Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Harus Murni tak ternoda. Harus tak tercampuri. Seperti yang sudah saya uraikan diatas.

Isi Hati itu selalu murni dan tidak dapat terkontaminasi oleh apa pun dan dengan apapun. ‘Sir atau Cinta' adalah lapisan khusus yang melindungi hati dari pengaruh luar yang tidak murni. ‘Dat atau Kasih’ adalah lapisan penyaring atau filternya, dan ‘Sipat atau Sayang’ adalah lapisan penyempurnanya.

Mengapa harus Hati? Kok tidak langsung ke Rasa saja. Hati adalah lapaknya. Hati adalah muaranya. Tempatnya. Domisilinya. Siapapun bisa mempelajari rasa, sekalipun tidak menggunakan Wahyu Panca Gha’ib. Atau menggunakan Wahyu Panca Gha’ib, tapi tidak dengan Wahyu Panca Laku, tetap bisa mempelajari rasa... namun tidak akan abadi, tidak langgeng, tidak sempurna. Sebab,,, rasa yang berhasil di pelajarinya  itu, selalu berubah-ubah, tidak tetap, tidak menetap, karena tidak berlapak, tidak muaranya, tidak berdomisili, gampangnya, tidak punya rumah.

Contoh misal;
Jika kita melihat motivasi di balik pikiran (otak) perasaan, dan tindakan sadar serta bawah sadar, motivasinya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun kendati sukses secara duniawi dan sosial, kadang-kadang merasa kesepian, kosong, dan seolah-olah ada sesuatu yang hilang. Bahkan saat mengalami kebahagiaan, cenderung hanya sekejap saja.

Dalam menggunakan dan membuka hati, kita diberkahi, kita dirahmati, kita diridhoi, dengan anugera kedamaian dan kebahagiaan serta ketenteraman yang sempurna, yang dapat dirasakan secara nyata, sungguh-sungguh dalam hidup kita sehari-hari ini, bukan katanya, tidak nanti setelah mati di akherat. Kehidupan sehari-hari kita, sebenarnya adalah manifestasi dari seberapa sering dan seberapa kuat kita terhubung dengan Dzat Maha Suci. Dengan demikian, hati yang terbuka, dan selalu digunakannya dengan sadar, akan bertumbulah laku spiritualnya secara alami dan murni, tanpa harus di rancang dan di karang.

Didalam Hati, ada hubungan cinta kasih sayang yang indah dan sangat mesra, antara Dzat Maha Suci Hidup dan Dzat Maha Suci. Ini adalah hubungan yang sangat penting dan utama, yang perlu ditingkatkan terus menerus, untuk mendapatkan manfaat penuh dari Cahaya/Nur  Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci, yang mengalir melalui hubungan indah dan mesrah itu. Hubungan Ilahi ini, mendefinisikan seberapa baik dan seringnya kita membuka dan menggunakan Hati kita, untuk terkoneksi dengan Dzat Maha Suci. Semakin sering kita membuka dan menggunakan Hati. Semakin indah dan mesra hubungan percintaan, kasih sayang Dzat Maha Suci Hidup kita dan Dzat Maha Suci kita. Semakin indah dan mesra, semakin Suci dan Sempurna semuanya dan segalanya.

Melalui hubungan yang indah dan mesra ini, yang kejadian proses di dalam hati ini, seluruh keberadaan kita, terus menerus, menerima Berkah kesempurnaan dari Dzat Maha Suci, yang merupakan sumber sukacita, kebahagiaan, ketenangan, kesehatan, kekayaan, kesaktian dan semua serta segala hal di dalam kehidupan ini. Melalui hubungan cinta kasih sayang didalam hati ini, kita sedang diurus dan di tanggung jawab oleh Dzat Maha Suci, secara langsung, tanpa wakil dan perantara apapun, jadi,,, tak perlu ragu, khawatir, takut. Karena Dzat Maha Suci adalah Maha Kuasa atas Segala-galanya.

Langkah Ketiga adalah Mencapai Tujuan Hidup Yang Sebenarnya;
Sebelum Mencapai Tujuan Hidup Yang Sebenarnya, hendaknya terlebih dahulu mengenali adanya kesadaran dalam diri kita. Secara spiritual, manusia memiliki setidaknya tiga kesadaran:
Kesadaran fisik-lahir, dengan otak sebagai pusat, (terletak di kepala)
Kesadaran jiwa-sukma, dengan Patrap sebagai pusat, (terletak di antara alis).
Kesadaran Ruh-Roh Suci atau kesadaran diri sejati, dengan rasa sebagai pusat (terletak di dalam hati). Ketiga kesadaran ini juga, dikenal sebagai Kesadaran Super atau Supra atau Atman.

Roh-Ruh Suci (diri sejati), bersemayam di dalam hati. Dari penjelasan saya tersebut diatas, dapat dilihat, bahwa di dalam tubuh manusia, terdapat jiwa-sukma, dan di dalam jiwa-sukma, terdapat Roh-Ruh Suci, yang lebih di kenal dengan sebutan Guru Sejati atau Hidup, dan keduanya itu, bermukim di hati. Wujud fisik, akan musnah jadi bangkai kalau tanpa adanya Jiwa-Sukma. Jiwa-Sukma, tidak bisa ada tanpa adanya Roh-Ruh Suci atau Hidup dan Hidup tidak akan mangejawantah jika tanpa Dzat Maha Suci.  

Semasa kita hidup sebagai manusia, kesadaran fisik atau otak adalah lapisan luar dari kesadaran yang membungkus tingkat kesadaran yang lain didalamnya. Meskipun kesadaran terdalam jiwa-sukma, mengetahui apa yang terjadi, itu tetap hanya sebuah kesadaran fisik, yang dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar kita. Kesadaran yang lebih tinggi atau lebih dalam, adalah kesadaran Ruh-Roh Suci, dan saya menyebutnya dengan istilah kesadaran murni. yang terletak di dalam hati, dia tidak memiliki kesempatan berinteraksi langsung dengan lingkungan, karena dia hanya milik Dzat Maha Suci, kecuali saat mengikuti ide atau gagasan dari tingkat kesadaran yang lebih tinggi dengan otak.

Begitu tubuh fisik berhenti bekerja, pusat kesadaran fisik-otak, langsung pergi begitu saja. Karena kesadaran jiwa-sukma, hanya bisa berinteraksi secara langsung dengan lingkungan. Maka  Kesadaran jiwa-sukma inipun, menjadi tidak berfungsi. Kesadaran jiwa-sukma ini, juga dikenal sebagai kesadaran perantara, sebagai antarmuka, antara fisik dan Hidupnya, agar hidup dapat menggunakan tubuh fisik, untuk bergerak di bumi sebagai manusia.

Mengingat bahwa hati sangatlah penting, itu tidak berarti bahwa yang lain tidak penting. Kesadaran fisik dengan otak sebagai pusatnya, juga merupakan fasilitas yang luar biasa. Otak merupakan bagian dari alat-alat spiritual, yang diberikan oleh Dzat Maha Suci, sehingga kita dapat belajar melalui pengalaman, sebagai pelajaran spiritual di dunia, untuk membantu kita ingat dan memilih Dzat Maha Suci. Tetapi, tentu saja, ada alat spiritual khusus yang membantu kita ingat dan memilih Dzat Maha Suci, yang telah disediakan bagi kita, untuk benar-benar meningkatkan hubungan kita dengan Dzat Maha Suci. yaitu Rasa yang ada di dalam hati.

Bahkan, saat otak memilih Dzat Maha Suci, kita juga dapat dengan cepat dan tepat menggunakan fasilitas khusus itu, yang telah diberikan kepada kita, yaitu rasa, yang ada di  dalam hati, yang menghubungkan kepada Dzat Maha Suci, serta dapat membantu Ruh-Roh Suci (Hidup), langsung terhubung secara langsung dengan segala sesuatu yang diperlukan. Hal ini adalah bagian dari hadiah indah dari tubuh fisik manusia dari Dzat Maha Suci, karena selain manusia, tidak diberi hadiah ini, dan inilah yang membedakan kita dengan mahluk-mahluk lainnya.

"Siapakah aku?", "Mengapa aku di sini?", dan "Di mana aku menuju?"
Adalah pertanyaan yang kita hadapi dewasa ini. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tersebut, perlu kita sadari, siapa diri kita sebenarnya. Maksudnya; Apakah kita adalah tubuh fisik manusia yang sementara, atau jiwa-sukma, atau Roh-Ruh Suci/Hidup?

Hayo... Siapa diri kita yang sebenarnya...?! Manakah yang ada lebih dulu, tubuh fisik manusia yang sementara, atau jiwa-sukma, atau Roh-Ruh Suci/Hidup...?! He he he . . . Edan Tenan.

Sebagian besar menganggap tubuh fisik manusia yang sementara ini, sebagai kita yang sebenarnya. Jika kita memandang tubuh fisik yang sementara ini, sebagai kita yang sebenarnya, sangatlah mudah untuk memahami mengapa kita memiliki begitu banyak kekhawatiran mengenai tubuh fisik yang sementara ini. Yang pasti tubuh fisik manusia ini, suatu hari akan sakit, tua, dan mati, lalu jadi santapan cacing tanah. Ini hanya masalah waktu.

Sebaliknya, jika kita mulai menyadari, bahwa diri kita yang sebenarnya, bukanlah tubuh fisik manusia yang sementara ini, tetapi sesuatu yang kekal dan ilahi, yang tidak bisa mati, dan memiliki tujuan yang indah untuk ada, maka tidak ada alasan untuk khawatir banyak hal, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan manusia.

Ya, diri kita yang sebenarnya bukanlah tubuh fisik yang sementara ini, tetapi yang ada di dalam hati, yang sudah saya uraikan diatas tadi, dan telah diberikan tubuh fisik ini, oleh Dzat Maha Suci, sebagai alat spiritual atau sebagai sarana indah, sehingga kita bisa melakukan perjalanan spiritual, sebagai manusia seutuhnya, untuk kembali kepada Dzat Maha Suci.

Segala sesuatu yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari, hanyalah sebuah kesempatan, untuk mencapai tujuan akhir dari keberadaan. Beberapa waktu yang lalu, sebelum memiliki tubuh manusia, kita diciptakan sebagai Hati, dan diberi Cinta Kasih Sayang, sebelum diberi tubuh manusia. Bahkan tubuh manusia dan jiwa-sukma diciptakan oleh Dzat Maha Suci, sebagai sarana indah, untuk membantu isi hati, yaitu Roh-Ruh Suci kita, belajar kembali kepada asal usul sangkan paraning dumadi yaitu Dzat Maha Suci.

Ketika kita datang dari Sumber Segalanya, kita ditakdirkan untuk bahagia dan tenteram secara sempurna. Karena Sumber Segalanya itu, adalah bahagia, tenteram dan sempurna.

Jika tidak menyadari siapa kita sebenarnya, kita akan bergerak menjauh dari Sumber bahagia, tenteram dan sempurna. Artinya. Sangat mustahil untuk bisa bahagia, tenteram dan sempurna. Kesimpulannya; Untuk bisa menyadari siapa diri kita sebenarnya. Adalah dengan Mengibadahkan atau Mempraktekan atau menjalankan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Ingat...!!! Wahyu Panca Laku. Maka pelajari dan Pahami benar-benar secara sadar dan sesadar-sadarnya. Tentang dan soal Wahyu Panca Laku. Yang saya wedarkan dalam Buku Kunci The Power atau yang saya wedarkan secara langsung. Sebab... itulah titik penentu yang bisa menentukan Berhasil atau Tidaknya. 

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
                                 
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”      
http://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com
Posting Komentar