"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Rabu, 08 Februari 2017

Misteri Kabut Ghaib yang menyelimuti PIH (Pasar Ikan Higienis) Yogyakarta:

Misteri Kabut Ghaib yang menyelimuti PIH (Pasar Ikan Higienis) Yogyakarta:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Yogyakarta. Hari Rabu. Tgl 08 Februari 2017

Misteri Kabut Ghaib yang menyelimuti PIH (Pasar Ikan Higienis) Yogyakarta. Akhirnya Berhasil Saya Ungkap, dengan Wahyu Panca Gha’ib. Namun sayang, tidak bisa saya rekam dengan vidio, karena terkait dengan Sang Penguasa Laut Kidul. Maafkan... Jadi, Prosesnya hanya bisa saya bagikan dengan Tulisan ini. Semoga ada manfaat dan keberkahan di dalam kisahnya, sebagai ilmu pengetahuan.

PIH (Pasar Ikan Higienis), yang terletak di Jl. Tegalturi No. 2. Kel. Giwangan. Kec. Umbulharjo. Kota Yogyakarta. Tempa dimana saya berada saat ini. Karena di mohon bantuan spritualnya, untuk soal Perintasa PIH kembali, yang sudah pernah mengalami tiga kali mati suri selama kurang lebihnya 15 tahun ini. Awalnya adalah sebuah lokasi-lahan tanah kosong, lemah butuk’an-bahasa jawa. Artinya, (Tanah yang menggundug seperti bukit).

Dulu,,, lokasi/lahan ini, di kelola oleh warga setempat, untuk di tanami sayur mayur dan pala pendem, seperti ubi kayu, ubu jalar dll. Di sebelah utara butuk’an atau tanah yang menggundug ini, terdapat sebuah sumber mata air, yang tidak pernah kering oleh berubahan jaman apapun, sumber mata air ini, mengalir menadi dua cabang sungai, membelah dua desa, antara giwangan dan sorogenen, serta mengelilingi putuk’an atau tanah gundugkan, yang sekerang telah di bangun menjadi sebuah PIH.

Sumber mata air ini, sangat luar biasa, selain airnya yang jernih dan tidak pernah kering, juga memiliki daya kekuatan,  tidak ubahnya seperti lumpur lapindo sidoarjo jatim. Aliran air yang keluar dari sumber ini, mampu mengikis tanah, kanan kiri yang terdapat di sepanjang pinggiran sungai, sebanyak 7 meter perbulanan, bisa di tebak kan, jika dibiyarkan, daerah istimewa yogyakarta dan sekitarnya, bisa menjadi danau, bahkan lautan. Sebab itu, dimanami giwangan, yang artinya, pinggiran sungai, yang lelau longsor terkikis oleh air yang mengalirinya.

Untuk menyelamatkan yogyakarta, khususnya dua desa yang merupakan daerah seni sejarah ini, yaitu Giwangan dan Sorogenen, lalu kasultanan ngayogyakarta, menutup lubang sumber mata air tersebut, dengan menggunakan gong sekaten yang paling besar. Di bantu oleh orang-orang yang ahli dalam bidangnya, kasultanan berhasil menutup sumber mata air tersebut. Sehingganya, air yang keluar dari sumber mata air itu, berubah menjadi sumber mata air, yang wajar, maksudnya, seperti pada umumnya sumber yang terdapat di dalam sumur dan sejenisnya, sehingga tidak membahayakan, dua desa pelopor yogyakarta pun, berhasil di selamatnya. Tapi,,, ternyata ini berbuntut panjang.

Entah Faktor kesengaja’an, karena ada unsur politik di dalamnya, atau Terpaksa, atau di karenakan kurangnya ketelitian dan waskita si Penangan Sumber Mata Air pada sa’at itu. Sehingganya,,, setelah penutupan sumber mata air itu, selalu terjadi ke anehan ke anehan, seperti,,, orang kecelakaan berkendaraan yang melintas di jalan sekitar itu, hilang dengan kendaraannya, (Contoh. Dua motor tabrakan, orang dan motornya langsung hilang tanpa bekas).

Para penjual makanan, seperti penjal mie atau bakso atau nasi goreng atau lesehan yang berlokasi di sepanjang jalanan tegalturi, di sapa, di suruh tutup dll, an membuat para pedagang tidak mau berjualan di sepanjang jalan tegalturi giwangan, bukan karena takutnya, tapi,,, soal tidak lakunya, tidak ada yang beli, karena menurut pengakuan dari beberapa orang yang biasa melintas di jalan tegalturi, ketika saya tanya, jawabnya, la wong tidak ada orang jualan apapun di sepanjang jalan itu. PIH juga, katanya tidak terlihat, jadi,,, hampir setiap orang yang melewati jl tegalturi giwangan, tahunya, di sepanjang jalan itu, tidak ada orang jualan apapun. Bangunan PIH yang begitu besar dan megahnya, tidak terlihat sama sekali. Jadi,,, sangat wajar, sewaktu PIH ini beroprasi hingga tiga kali, dan bangkrut, karena tidak ada pengunjung, bisanya tidak ada pengunjung, karena mereka tidak melihatnya.  

Nah,,, selain hal tentang sumber mata air, yang hampir saja menenggelamkan daerah istimewa dan kejadian-kejadian mistiknya, kemudian tempat ini, cukup di kenal sebagai tempat paling mistik di wilayah yogyakarta. Yang kemudia, di manfaatkan oleh banyak Para Normal, khususnya Paranormal di wilayah yogyakarta. Sebagai tempat pembuangan para bangsa lelembut atau mahluk astral, hasil ritualnya, jadi,,, setiap paranormal atau dukun-dukun kampung yang berada di wilayah yogyakarta, kalau habis bekerja, membersihkan rumah, atau lahan, atau toko, atau hotel, atau apa saja, yang di kuasai oleh bangsa lelembut, itu di buangnya di putuk’an yang sudah saya ceritakan diatas.

Tapi itu tidak penting, karena, selain bukan yang utama, saya sudah berhasil menyempurnakan semuanya, sehingganya, semuanya telah kembali ke Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi-nya masing-masing mahluk. Dan selama tidak ada lagi Paranormal atau dukun yang membuang mahluk astral di PIH, saya jamin. PIH dan sekitarnya, steril dari semua mahluk astral. Yang Utama dan Penting, adalah ghaib yang menyelimuti PIH, yang membuat PIH dan sekitarnya, tidak bisa di lihat oleh semua orang secara bebas, khusunya orang-orang baru yang melalui tempat tersebut.

Karena keberadaan saya di PIH, untuk hal itu, maka,,, saya bekerja sesuai kemampuan biidang saya, melakukan apa yang diinginkan oleh pihak PIH. Selain kisah yang sudah saya ceritakan diatas, ternyata,,, yang membuat PIH tidak terlihat, termasuk para pedagang di sepanjang jalan yang terdapat di depan PIH, itu terselimuti, tertutupi kabut, dan asal kabut itu, dari lubang sumber mata air, yang sudah saya ceritakan diatas. Saya berusaha mengungkapnya, agar saya bisa menyelesaikan tugas saya, tentang masalah PIH.

Sungguh luar biasa, setelah saya masuk kedalamnya, ternyata, sumber mata air itu, merupakan jalur jalan alternatif, untuk keluar masuk menuju kedaton sitihinggil laut kidul. Jalan ini, biasanya di gunakan sebagai jalur, tugas cepat, tak kala para prajurit abdi kedaton sitihinggil, mendapat perintah tugas penting atau darurat dari Sang Ratu Abadi nan Jelita itu. Dan lantaran PIH ini, akhirnya,,, terpaksa, saya harus mengulang masa lalu saya, untuk masuk ke kedaton sitihinggi laut kidul, untuk kesekian kalinya. Namun... saya tetap menggunakan Wahyu Panca Gha’ib. Bukan yang lain, apa lagi masa lalu. 

Dengan menutup sumber mata air itu, ngayugyokarto, telah melakukan kesalahan besar, yang dapat berisiko sangat negatif dan merugikan hubungan baik antara ngayugjakarta dengan kedaton sitihinggil, yang telah terjalin baik selama puluhan tahun dewasa ini. Padahal, sekalipun sumber itu tidak di tutup, tidak akan menenggelamkan daerah istimewa yogyakarta, malah akan menjadi sumber penghasilan yang membawa keberkahan banyak lapisan masyarakatnya, khususnya warga yogyakarta, karena sumber mata air itu, hanya akan mengancurkan dan menenggelamkan putuk’an atau tanah yang menggudug, yang kini sudah berubah menjadi bangunan PIH, kenapa Sang Ratu bermaksud menengelamkan putuk’an itu? Karena jika putuk’an itu tidak di tenggelamnya, akan menjadi anak gunung merapi, yang letusannya, tiga kali lipat di banding gunung merapi itu sendiri.

Dan bekas putuk’an, bisa di jadikan obyek wisata danau atau waduk, yang tak tertandingi keindhannya di seluruh tanah jawa. Sekarang,,, memang, anak gunung merapi itu, tidak adi tumbuh, karena di gusur dengan alat berat, dan telah berdiri sebuah bangunan mewah, tapi,,, ditutupnya sumber mata air, yang merupakan jalur penting ke kedaton sitihinggil, membuat kerugian besar bagi kedaton sitihinggil dan seluruh penghuninya, karena,,, selain tidak mungkin membuat/membangun jalur baru lagi, yang risikonya akan banyak memakan korban dari bangsa manusia. Sang Ratu sudah tidak punya waktu lagi, untuk hal-hal seperti itu, sebab usia dunia, tinggal Cuma seumur jagung.

Akibatnya... Kedaton Sitihinggil akan memutus hubungan dengan alam manusia, khususnya keraton ngayugyokarto, yang artinya, tidak akan peduli lagi dengan urusan-urusan manusia yang ada kalanya sangat membutuhkan bantuannya. Dan Pintu keluar masuk kedaton Sitihinggil laut kidul, yang berbentuk sumber mata air di giwangan dan sekitarnya, termasuk PIH, akan tetap manjadi misteri yang berdampak sangat merugikan dan menakutkan, selama-lamanya. Tapi,,, karena ada saya yang terlibat didalamnya, Sang Penguasa Kedaton Sitihinggil Laut Kidul, bersedia meluluskan usaha saya. Dengan Catatan... Pemerintah Daerah atau Walikota dan Karaton yogyakarta dan Pihak pengelola PIH, mau salin menjabat tangan, bekerja sama seirama dengan masyarakatnya. Dengan begitu, atas permohonan saya. Penguasa Kedaton Sitihinggil Laut Kidul, bersedia meluluskan Pekerjaan saya yang terkait dengan PIH.

Kalau tidak. Kedaton Sitihinggil akan memutus hubungan dengan alam manusia, khususnya keraton ngayugyokarto, yang artinya, tidak akan peduli lagi dengan urusan-urusan manusia yang ada kalanya sangat membutuhkan bantuannya. Dan Pintu keluar masuk kedaton Sitihinggil laut kidul, yang berbentuk sumber mata air di giwangan dan sekitarnya, termasuk PIH, akan tetap manjadi misteri yang berdampak sangat merugikan dan menakutkan, selama-lamanya, apa lagi yang di kelola di PIH, adalah mahluk paling utama yang berada di bawah kekuasa’an Sang Ratu Penghuni Kedaton Sitihinggil, yaitu IKAN, sudah pasti ini dianggap penting olehnya. Dan,,, saya pun, akan angkat tangan dan angkat kaki, pamit undur diri. Dengan sangat menyayangkan... Keputusannya di Tanggal 25 Februari 2017. Sebelum tanggal itu, saya masih menunggu, disini, di PIH.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu dan Terima kasih. Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
Posting Komentar