"WONG EDAN BAGU"

WAHYU PANCA GHA'IB:
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

WAHYU PANCA LAKU:
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Hakikat Hidup:
GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Sabtu, 25 Maret 2017

ILMU PENGALAMAN LAKU SPIRITUAL:

ILMU PENGALAMAN LAKU SPIRITUAL:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Kabuh Jombang. Hari Minggu Legi. Tgl 12 Maret 2017
Menurut Pengalaman hasil praktek langsung di TKP yang sudah saya dapatkan, Tingkat kesadaran murni di dalam laku spiritual, itu dapat kita ketahui dari sejumlah faktor, disetiap gerak respon kejiwaan kita, saat menghadapi atau mengalami suatu hal, di setiap keseharian kita. Dalam kesempatan kali ini, saya akan berbagi ilmu pengalaman pribadi saya, bukan katanya siapapun dan apapun, tentang beberapa faktor yang bisa kita jadikan sebagai parameter penting, untuk mengetahui tingkat kesadaran murni, yang berkontribusi terhadap laku spiritual kita, seiring dengan pertumbuhannya.

Pertama Tentang Ego atau Pamrih;
Salah satu faktor penting dalam tingkat kesadaran murni laku spiritual seseorang, adalah seberapa banyak ego/pamrih atau kegelapan di sekitar Jiwa (Roh Suci-nya) yang telah dilenyapkan, dan seberapa mampu ia mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa (Roh SUci-nya) yang ada di dalam diri pribadinya.

Maksud saya, dengan kegelapan di sekitar Jiwa atau Ego/pamrih, adalah kecenderungan kita untuk melihat diri kita sendiri, hanya berdasarkan panca indera, pikiran dan intelek. Ego ini juga dikenal sebagai ketidaktahuan spiritual akan Hakikat Hidup-nya Manusia yang Sejati/Sebenarnya, yakni Jiwa (Roh Suci). Sistem edukasi modern dan masyarakat, mengajari kita untuk mengidentifikasikan diri kita dengan tubuh fisik, pikiran dan intelek (akal budi pakarti), karena tidak tahu, bahwa Hakikat Hidupnya Manusia Sejati/Sebenarnya, adalah Jiwa (Roh Suci).

Setelah mempelajari ilmu pengetahuan Spiritualitas, meskipun kita dapat memahami secara intelek tentang keberadaan Jiwa (Roh Suci) di dalam diri kita, kita belum dapat merasakan atau mengalaminya sendiri secara nyata, tetap masih sebatas katanya. Setelah kita melakukan Belajar dan latihan Patrap Semedi dengan Sistem Wahyu Panca Laku, kegelapan jiwa (ego) akan mulai berkurang, sampai kita mencapai tingkat kesadaran murni laku spiritual tertinggi, di mana kita dapat secara utuh, mengidentifikasikan diri dengan Jiwa (Roh Suci) yang ada di dalam diri kita, secara benar-benar nyata, (Bener-Benering-Bener).

Dengan mempraktekan Wahyu Panca Ghaib menggunakan Wahyu Panca Laku. Jangankan ego-ego pada umumnya, ego spiritualpun, akan mulai berkurang, yang mana berkaitan langsung dengan meningkatnya tingkat kesadaran murni laku spiritual kita.

Pada tingkat kesadaran spiritual 20%, maksudnya, sebelum mencapai murni-nya sadar, seseorang sangatlah egois, sadar hanya akan dirinya sendiri dan hanya berpikir tentang dirinya sendiri pula. Setelah kita melakukan Belajar dan latihan Patrap Wahyu Panca Ghaib dengan Sistem Wahyu Panca Laku, kesadaran tentang tubuh fisik kita akan berkurang. Kita tidak hanya akan mampu bertahan dari ketidaknyamanan dan penderitaan saja, tetapi kita juga mampu untuk menerima pujian tanpa menjadi besar kepala.

Contohnya;
Suatu indikasi dari ego yang tinggi, adalah, ketika kita tidak secara terbuka, mengakui bahwa kita sedang melakukan latihan/belajar laku spiritual (Wahyu Panca Ghaib), karena hal itu, memungkin, akan membuatnya terasing dari teman-temannya, tetangganya, bahkan keluarganya (hawatir bahkan takut dianggap sesat dll). Dalam kebanyakan kasus, kita juga sering bereaksi negatif, ketika orang lain menunjukkan kesalahan kita. Ketidakmampuan menerima kesalahan, merupakan salah satu tanda dari ego tinggi.

Kedua. Tentang Perhatian terhadap kebahagiaan pribadi dan umum;
Kejengkelan karena harus mengurus anggota keluarga, yang berarti ketidaknyamanan bagi diri sendiri. Kesediaan untuk menghadiri suatu ceramah spiritual, hanya jika diadakan di tempat yang dekat, dan itupun kalau ada waktu dan kesempatan. Kesediaan untuk menyumbang secara moneter, untuk suatu protes terhadap ketidakadilan, tetapi tidak siap untuk merelakan waktu dan upaya karena takut akan ketidaknyamanan.

Hasil positif lainnya dari berkurangnya perhatian terhadap kebahagiaan pribadi adalah, kita menjadi semakin meluas/ekspansif. Kita dengan sepenuh hati akan lebih memperhatikan kebahagiaan orang lain dan masyarakat. Paradoksnya, meskipun kita kurang memperhatikan kebahagiaan diri kita sendiri, seiring kemajuan kita secara laku spiritual, salah satu manfaat dari pertumbuhan laku spiritual, adalah kita mendapatkan akses ke kebahagiaan raga dan ketenteraman jiwa, yang lebih banyak dalam kehidupan kita di dunia hingga akherat nanti.

Semoga Pengalaman Pribadi saya ini, bisa bermanfaat bagi Para Kadhang kinasihku sekalian. Salam Rahayu selalu dariku serta Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
Posting Komentar